Perjalanan Mencari Ilmu KH. Abdul Karim

KH. Abdul Karim Mencari Ilmu

KH. Abdulloh Kafabihi mengisahkan masa perjalanan menempuh ilmunya KH. Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo. Beliau menceritakan bahwasannya perjalanan KH. Abdul Karim atau Mbah Manab mencari ilmu sejak usia remaja:

“Beliau mondok semenjak kecil, sekitar umur 13 tahun, bersama saudaranya tiga (orang).”

Baca juga: KH. Athoillah S. A.: Memanfaatkan Waktu Liburan

Tetapi perjalanan belajar beliau tidak mudah, karena beliau tidak berbekal maka tidak bisa melanjutkan mondoknya. Hingga pada akhirnya KH. Abdul Karim dan saudara-saudaranya membagi tugas. Yang mana KH. Abdul Karim mendapat bagian untuk mondok. Sedangkan saudara-saudara beliau ada yang bekerja dan ada yang berkhidmah kepada ibunya.

“Lantas di tengah-tengah perjalanan karena ketiga-tiganya tidak berbekal, tidak punya sangu lantas ada pembagian tugas. Yang satu saudara al-maghfurlah KH. Abdul Karim supaya khidmah kepada ibunya, supaya ibunya tidak tersia-sia. (Saudara) kedua kakaknya yaitu bekerja untuk pembiayaan. Adapun al-maghfurlah KH. Abdul Karim mondok.”

Waktu Ideal Mencari Ilmu

KH. Abdul Karim mondok di Bangkalan sekitar 27 tahun, dan menurut KH. Abdullah Kafabihi memang mondok dengan waktu yang lama itu adalah waktu yang ideal.

“Informasinya, (KH. Abdul Karim) mondok di Bangkalan itu sekitar 27 tahun, belum mondok lama. Memang mencari ilmu ini idealnya membutuhkan waktu yang lama.”

Riyadoh KH. Abdul Karim dalam Mencari Ilmu

Beliau mondok dengan bersusah payah. Bahkan, beliau hanya membawa satu pasang pakaian. Jika pakaian tersebut beliau cuci, maka beliau akan berendam di dalam air seraya menghafalkan alfiyah. Hal ini menjadi contoh yang sangat baik bagi kita bahwasannya keadaaan susah itu bukan alasan untuk berhenti mencari ilmu.

Baca juga: Menjaga Akhlak di Mana Pun Berada: Pesan KH. M. Anwar Manshur untuk Santri Lirboyo

“Beliau informasinya tidak berbekal. Pakaian yang dibawa hanya sepasang. Bila mana beliau mencuci pakaian, beliau sambil kumkum di air sambil menghafalkan Alfiyah.”

Tawadu Terhadap Guru

KH. Abdul Karim sangat tawadu kepada gurunya, KH. Abdulloh Kafabihi menceritakan bahwasannya upah beliau dari derep oleh Kiyai Kholil Bangkalan beliau minta untuk makan ayam dan beliau dengan patuh memberikannya.

“Beliau suatu saat pernah mencari rezeki yaitu terep/derep (panen padi) zaman dahulu, dapat bawonan (atau) dapat upah. Namun ketika datang di Bangkalan oleh al-maghfurlah Kiyai Kholil Bangkalan sebagai gurunya, gabah tersebut diminta untuk dibuat makan ayam.”

Baca juga: KH. Nurul Huda Ahmad: Kunci Mendapatkan Ilmu

Sehingga, KH. Abdul Karim ketika di Pondok makan seadanya. Tidak seperti santri zaman sekarang makanan sudah tersedia di warung-warung pesantren. Dengan berbagai macam olahan.

“Kyai Abdul Karim, beliau ketika di pondok ini makan seadanya. Diantara makanannya daun bentis (mengkudu/pace).

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses