Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang memiliki kedudukan istimewa dalam syariat. Namun, tidak setiap haji memiliki nilai yang sama. Dalam hadis-hadis Nabi ﷺ, terdapat istilah “haji mabrur” yang sering terdengar sebagai puncak dari amal ibadah dalam Islam setelah iman dan jihad. Lantas, apa sebenarnya makna haji mabrur? Apa keistimewaannya? Dan bagaimana tanda-tandanya?
Definisi Haji Mabrur
Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan haji mabrur. Namun, semua pendapat itu bermuara pada satu makna inti, yaitu ibadah haji yang kita lakukan dengan sempurna secara lahir dan batin, bebas dari dosa, dan diterima oleh Allah.
- Dalam al-Lami’ ash-Shabih, Syaikh al-Birmawi menyebutkan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak ada riya’ (pamer), rafats (ucapan kotor), atau kefasikan di dalamnya serta seorang yang berangkat haji laksanakan dengan harta yang halal [Baca: al-Birmawi, al-Lami’ ash-Shabih, juz 1].
- Dalam at-Tamhid, Ibn Abdil Barr menyebutkan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak bercampur dengan maksiat dan sesuai syarat-syaratnya secara sempurna [Baca: Ibn Abdil Barr, at-Tamhid]
- Imam al-Ghazali memberikan nuansa yang lebih ruhani, bahwa haji mabrur adalah haji yang membuat pelakunya kembali menjadi orang yang zuhud terhadap dunia dan rindu akan akhirat [Baca: al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin,].
- Dalam al-Mufhim, al-Qurthubi menyimpulkan bahwa semua definisi tersebut berkisar pada satu makna, yaitu: haji yang memenuhi seluruh rukun dan syaratnya secara sempurna serta berbuah pada perubahan positif dalam perilaku pelakunya [Baca: al-Qurthubi, al-Mufhim].
Baca juga: Tafsir Nikah Dulu Baru Mapan.
Keistimewaan Haji Mabrur
Haji mabrur memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah. Dalam sebuah hadis sahih dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:
“الحَجُّ المبرورِ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إلا الجَنَّةِ”
“Haji mabrur itu tidak ada balasan baginya kecuali surga.”
[HR. al-Bukhari dan Muslim.].
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang melaksanakan haji tanpa rafats (kata-kata keji) dan fusuq (perbuatan maksiat) akan kembali dalam keadaan seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya, yakni bersih dari dosa:
“من حج لله فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه”
[HR. al-Bukhari dan Muslim.]
Baca juga: Tanda-tanda Orang Beruntung.
Tanda-Tanda Haji Mabrur
Para ulama menekankan pentingnya melihat buah dari ibadah haji sebagai tanda apakah hajinya mabrur atau tidak. Beberapa tanda tersebut antara lain:
- Istiqamah setelah haji: Haji yang mabrur akan membuat pelakunya semakin taat dan berusaha terus berada dalam kebaikan. Imam Ibn Hajar al-Haitami menulis:
“Di antara tanda haji mabrur adalah pelakunya menjadi lebih baik setelah berhaji daripada sebelumnya.”
[Baca: Ibn Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj,].
- Meninggalkan maksiat dan mengganti lingkaran pergaulan: Dalam Qut al-Qulub, Abu Talib al-Makki menyebutkan:
“Tanda (Allah) menerima ibadah haji seseorang adalah meninggalkan perbuatan dosa yang biasa ia lakukan, mengganti teman-teman buruk dengan yang saleh, dan mengganti majelis-majelis lalai dengan majelis dzikir.”
[Baca: Abu Talib al-Makki, Qut al-Qulub,].
- Berubahnya menjadi orang yang zuhud lagi rindu akhirat: Hasan al-Bashri ketika ditanya tentang makna haji mabrur, menjawab:
“Haji mabrur adalah haji yang membuat orang kembali menjadi zuhud terhadap dunia dan rindu pada akhirat.”
[Baca: al-Mundziri, al-Targhib wa al-Tarhib,]
- Kebaikan akhlak selama haji: Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali menambahkan bahwa orang yang hajinya mabrur tidak akan kembali pada kelalaian dan maksiat setelah pulang dari haji, tapi ia akan menjadi lebih siap untuk bertemu dengan Allah [Baca: al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin,]
Baca juga: Khutbah. Banyak Jalan Menuju Surga.
Penutup
Haji mabrur bukan hanya sekadar ritual fisik yang sah secara hukum, tetapi juga perubahan spiritual yang nyata. Haji semacam ini hanya bisa dicapai jika dilakukan dengan niat yang ikhlas, cara yang benar, dan bekal yang halal. Maka, marilah kita jadikan haji sebagai momentum perubahan dan pembuktian komitmen kepada Allah SWT. Haji yang diterima bukanlah yang selesai secara syariat semata, tetapi yang menjadikan pemiliknya lebih baik, lebih taat, dan lebih dekat dengan akhirat.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

One thought on “Haji Mabrur: Definisi, Keistimewaan dan Tanda-Tandanya”