Ketakwaan dan Kemudahan dalam Beragama

Ketakwaan dan Kemudahan dalam Beragama | Dalam hidup, manusia bisa saja menjadi bebas layaknya hewan tanpa terikat hukum serta bisa menjadi malaikat yang senantiasa mematuhi apa yang telah diperintahkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa.

Oleh karena itu, manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dengan diberi kemampuan berfikir agar mereka dapat memilih, akankah ia akan menggunakan daya akalnya untuk memenuhi nafsu syahwatnya laksana hewan atau ia gunakan untuk selalu taat menjalankan perintah Tuhan serta meninggalkan larangan-Nya.

Bagi umat Islam, seorang Muslim memang diberi batasan-batasan ruang gerak, agar mereka tidak melakukan kebebasan diri. Memandang secara garis besar, manusia tidak bisa lepas dari hawa nafsu. Untuk mencegah penggunaan syahwat yang melebihi batas, perlu perwujudan agama agar dapat mengatur kehidupan manusia, yaitu dengan membatasi gerak mereka.

Namun, dalam hidup beragama, sejatinya manusia tidak serta merta dibatasi dalam ruang geraknya. Agama memberi kebebasan melakukan hal-hal yang diinginkan selagi tidak melanggar apa yang telah ditetapkan oleh-Nya. Pembatasan ruang gerak manusia terletak agar mereka senantiasa tetap kejalan yang diridloi oleh Allah Swt. Supaya dalam menjalankan hidup sesuai dengan apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah Swt, sehingga mereka menjadi orang-orang yang senantiasa bertakwa kepada-Nya.

Takwa sendiri memiliki arti mematuhi segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Besar, serta menjauhi sesuatu yang telah dilarang oleh-Nya, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

Dengan demikian, tidak bisa dikatakan sempurna ketakwaan seseorang kecuali ia mengosongkan segala keburukan dan menghiasinya menjadi sebuah jalan dengan perbuatan-perbuatan baik.

Untuk menambah ketakwaan dalam diri seorang insan, salah satunya ia sering mengingat akan kematian. Seseorang yang menyadari bahwa setiap insan akan merasakan kematian dan tiada dihadapannya kecuali surga dan neraka, maka niscaya mereka akan tergerak untuk selalu berbuat baik semampunya.

Hal ini selaras dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah bahwasannya ia mendengar Nabi Saw. Bersabda:

“Sesuatu yang telah aku larang kepada kalian semua maka hendaknya dijauhi dan sesuatu yang telah aku perintahkan maka lakukanlah selagi engkau mampu. Bahwa kerusakan umat sebelum kalian disebabkan banyaknya pertanyaan serta perbedaan terhadap para Nabi mereka.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.