Ayat Al-Qur’an tentang Cinta Tanah Air

Al-Qur'an dan Cinta Tanah Air

Rasa rindu terhadap kampung halaman adalah fitrah kemanusiaan yang sangat dalam. Ia hadir menghinggapi siapa saja, mulai dari rakyat biasa hingga para nabi. Perasaan rindu akan tanah kelahiran memiliki akar sejarah dan keagamaan yang sangat kuat dalam tradisi Islam.

Di tengah maraknya pembahasan mengenai konsep berbangsa dan bernegara, tradisi keislaman kita sebetulnya telah memotret betapa indah dan urgennya sikap mencintai tanah air.

Kerinduan Nabi ﷺ dan Turunnya Surah Al-Qashash Ayat 85

Ketika Nabi Muhammad bermigrasi ke Madinah, hati beliau tidak pernah benar-benar lepas dari kota Makkah—tempat lahir dan tempat beliau dibesarkan. Kerinduan beliau yang membuncah terhadap tanah kelahirannya mengundang kasih sayang Allah ﷻ. Berkenaan dengan rasa rindu ini, Allah menurunkan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِي فرض عليك القرآن لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

“Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali (Makkah).”

Para mufassir menjelaskan bahwa kata ma’ad (tempat kembali) dalam ayat ini bermakna Kota Makkah. Ayat ini menjadi kabar gembira sekaligus penawar rindu bagi Rasulullah ﷺ bahwa beliau kelak akan kembali melangkahkan kaki di tanah kelahirannya.

Kerinduan yang Menyentuh Hati: Kisah Ushail Al-Ghifari

Imam As-Sakhawi dalam kitab monumentalnya Al-Maqasid Al-Hasanah meriwayatkan sebuah dialog yang sangat mengharukan antara Rasulullah ﷺ, Sayyidah Aisha RA, dan seorang sahabat bernama Ushail Al-Ghifari.

Suatu ketika, Ushail baru saja tiba di Madinah dari Makkah. Sayyidah Aisha RA kemudian bertanya kepadanya “Bagaimana keadaan Makkah saat engkau meninggalkannya?”

Ushail menggambarkan keindahan Makkah. Ia berkata “Tumbuh-tumbuhannya telah menghijau, lembahnya telah memutih, pohon idzkhir-nya telah lebat, dan pohon salam-nya telah berbuah.”

Mendengar tuturan indah tentang tanah kelahirannya itu, hati Rasulullah tersentuh oleh rindu yang mendalam. Beliau lantas bersabda:

حَسْبُكَ يَا أُصَيْلُ، لَا تُحْزِنِّي

Dalam riwayat lain:

 وَيْهَا يَا أُصَيْلُ تَدَعُ الْقُلُوبَ تَقِرُّ

“Cukup, wahai Ashil! Jangan buat hati ini sedih (karena rindu)!”

Ungkapan beliau ini menunjukkan betapa manusiawinya perasaan rindu akan tanah air, bahkan bagi seorang Rasul pembawa risalah risalah kenabian sekalipun.

Hakikat Cinta Tanah Air Menurut Para Ulama

Syaikh Ismail Haqqi dalam tafsirnya yang terkenal, Ruh al-Bayan, memaparkan fenomena naluri mencintai tanah air ini dengan gambaran yang sangat indah:

“Unta akan selalu merindukan tanah kelahirannya kendati telah lama meninggalkannya. Burung akan selalu merindukan sarangnya kendati tempatnya gersang. Dan manusia akan selalu merindukan tanah airnya kendati tempat lain memberikan lebih banyak manfaat baginya.”

Dalam potret cinta tanah air, Sayyidina Umar bin Khattab RA pernah menegaskan betapa krusialnya rasa cinta tanah air demi kelangsungan hidup peradaban manusia:

لَوْلَا حُبُّ الْوَطَنِ لَخَرِبَ بَلَدُ السُّوءِ، فَبِحُبِّ الْأَوْطَانِ عُمِرَتِ الْبِلْدَانُ

“Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya akan rusaklah negeri yang buruk. Maka dengan mencintai tanah air, negeri-negeri menjadi makmur.”

Dari ungkapan ini kita belajar bahwa dorongan untuk membangun, memajukan, dan menjaga kedamaian suatu bangsa bermula dari rasa cinta terhadap negeri tersebut.

Memilih Lingkungan yang Menjaga Agama

Walaupun kecondongan hati pada tanah air adalah hal alami yang tidak bisa dipisahkan dari dada manusia, Ismail Haqqi memberikan catatan penting. Seorang muslim tetap dituntut untuk memilih tempat tinggal dan lingkungan yang mendukung kualitas agamanya, agar dapat saling tolong-menolong dalam kebaikan bersama saudara seiman.

Hal ini sejalan dengan nasehat Nabi Isa AS ketika ditanya oleh pengikutnya “Siapakah yang hendaknya kami jadikan teman duduk (sahabat)?” Nabi Isa AS menjawab:

1. Orang yang dengan melihatnya mengingatkanmu kepada Allah.

2. Orang yang perkataannya menambah pengetahuanmu.

3. Orang yang amal perbuatannya membuatmu semakin merindukan kehidupan akhirat.

Kesimpulan

Mencintai tanah air bukan sekadar urusan geopolitik modern, melainkan warisan keteladanan dari Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat. Kerinduan beliau pada Makkah dan petuah para ulama menjadi bukti bahwa hubbul wathan atau cinta tanah air adalah bagian integral dari keimanan dan nilai kemanusiaan kita.

Mari kita bersama merawat cinta tanah air ini dengan terus berbuat baik, menjaga kedamaian, serta memberikan kontribusi terbaik bagi negeri. Semoga Allah mengaruniai kita keberkahan tempat tinggal, menguatkan iman di dada kita, serta menjadikan negeri kita tempat yang aman dan penuh rahmat. Aamiin.

Referensi:

  1. Syamsuddin Muhammad bin ‘Abdirrahman al-Sakhawi, Al-Maqāṣid al-Ḥasanah fī Bayān Kasīr min al-Aḥādīṡ al-Mushtaharah ‘alā al-Alsinah, (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1985), vol. 1, hlm. 298.
  2. Isma‘il Haqqi bin Mustafa al-Istanbuli al-Hanafi, Rūḥ al-Bayān (Beirut: Dār al-Fikr, t.t.), vol. 6, hlm. 442.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses