Pada zaman dahulu, arus informasi sangatlah terbatas. Namun, seiring perkembangan teknologi, informasi kini dapat tersebar dalam hitungan detik dan menjangkau siapa saja di berbagai penjuru dunia. Kemudahan ini tentu patut kita syukuri, tetapi di sisi lain juga menuntut kita untuk semakin berhati-hati. Jika dahulu Nabi saw. mengajarkan kita untuk menjaga lisan, maka pada zaman sekarang kita juga harus menjaga apa yang kita tulis, unggah, dan sebarkan di media sosial. Maka dari itu, pada khutbah kali ini kita akan membahas “Menjaga Lisan dan Adab Bermedia Sosial.”
Khutbah Pertama: Menjaga Lisan dan Adab Bermedia Sosial
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ الْإِنْسَانَ الْبَيَانَ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, karena hanya dengan takwalah kita akan selamat di dunia dan akhirat. Salah satu bentuk takwa yang sering diabaikan adalah menjaga lisan — dan di zaman sekarang, menjaga lisan itu meluas menjadi menjaga jari, menjaga apa yang kita ketik, apa yang kita bagikan di media sosial.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Khutbah Jum’at: Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah saw
Hadits ini sangat singkat, namun maknanya sangat luas mencakup seluruh bentuk komunikasi manusia — termasuk yang kita sampaikan lewat status WhatsApp, unggahan Instagram, komentar di Facebook, maupun cuitan di media sosial lainnya.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dahulu, lisan hanya bisa menjangkau orang-orang di sekitar kita. Namun kini, dengan bermedia sosial satu ketikan bisa dibaca ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan detik. Ini adalah nikmat sekaligus ujian besar. Allah SWT berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)
Baca juga: Khutbah Jum’at: Cerita Keberkahan Mengagungkan Kelahiran Nabi Muhammad
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap kata yang kita ucapkan — dan setiap huruf yang kita ketik lalu kita kirim — akan dicatat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Tidak ada status yang “hilang begitu saja”, tidak ada komentar yang “cuma iseng”, semuanya tercatat.
Ada beberapa adab bermedia sosial yang perlu kita perhatikan bersama:
Pertama, menahan diri dari menyebarkan berita tanpa tabayun (klarifikasi).
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ٦
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Baca juga: Khutbah Jum’at: Keutamaan Bulan Maulid
Betapa banyak fitnah, permusuhan, bahkan perpecahan yang lahir hanya karena kita terlalu cepat membagikan (share) sebuah berita tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu.
Kedua, menjauhi ghibah dan namimah dalam bentuk digital.
Ghibah tidak hanya terjadi lewat obrolan langsung, tapi juga lewat komentar sindiran, screenshot percakapan pribadi yang disebar, atau story yang menyindir orang lain. Allah SWT menggambarkan ghibah dengan perumpamaan yang sangat keras:
أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ketiga, menjaga adab dalam berbeda pendapat.
Media sosial sering menjadi ajang debat yang berujung caci-maki, bukan lagi diskusi yang sehat. Padahal Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk tetap santun meski berbeda pandangan, sebagaimana sabdanya:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ
“Bukanlah seorang mukmin itu orang yang suka mencela, suka melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi)
Baca juga: Khutbah Jum’at: Keutamaan Umat Nabi Muhammad
Jamaah rahimakumullah,
Marilah kita menjadikan jari-jari kita sebagai alat kebaikan, bukan alat fitnah. Sebelum mengetik, mari kita tanya pada diri sendiri: apakah ini bermanfaat? Apakah ini benar? Apakah ini perlu disampaikan? Jika ragu, lebih baik diam — sebagaimana pesan Nabi SAW tadi.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
Khutbah Kedua: Menjaga Lisan dan Adab Bermedia Sosial
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
