Ketika seseorang yang penting datang dalam sebuah acara, tidak jarang ia disambut dengan lantunan Thala’al Badru ‘Alaina. Lantas, bagaimana hukum melakukan hal tersebut dalam pandangan Islam?
Hukumnya dalam pandangan Imam al-Ghazali
Melantunkan Thala’al Badru ‘Alaina ketika menyambut kedatangan seseorang pada dasarnya diperbolehkan, selama lantunan tersebut dimaksudkan untuk mengungkapkan dan membangkitkan kegembiraan atas kedatangan orang yang disambut, serta tidak disertai hal-hal yang diharamkan.
Hal ini dapat dipahami dari penjelasan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din. Menurut beliau, hukum sama’—yakni mendengarkan atau melantunkan suara yang memiliki irama—tidak dapat dihukumi secara mutlak sebagai halal atau haram. Hukumnya dapat berbeda sesuai keadaan, orang yang melakukannya, serta bentuk lantunan yang digunakan.
Imam al-Ghazali menjelaskan:
وَمَهْمَا كَانَ النَّظَرُ فِي السَّمَاعِ بِاعْتِبَارِ تَأْثِيرِهِ فِي الْقَلْبِ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يُحْكَمَ فِيهِ مُطْلَقًا بِإِبَاحَةٍ وَلَا تَحْرِيمٍ، بَلْ يَخْتَلِفُ ذَلِكَ بِالْأَحْوَالِ وَالْأَشْخَاصِ وَاخْتِلَافِ طُرُقِ النَّغَمَاتِ، فَحُكْمُهُ حُكْمُ مَا فِي الْقَلْبِ.
“Apabila sama’ dilihat dari sisi pengaruhnya terhadap hati, maka tidak boleh menghukuminya secara mutlak sebagai mubah ataupun haram. Hukumnya berbeda-beda sesuai keadaan, orangnya, dan perbedaan cara melantunkan nada. Dengan demikian, hukumnya mengikuti apa yang terdapat di dalam hati.”
Beliau kemudian mengutip perkataan Abu Sulaiman:
قَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ: السَّمَاعُ لَا يَجْعَلُ فِي الْقَلْبِ مَا لَيْسَ فِيهِ، وَلَكِنْ يُحَرِّكُ مَا هُوَ فِيهِ.
“Sama’ tidak memasukkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada di dalam hati. Akan tetapi, sama’ hanya menggerakkan apa yang memang telah ada di dalam hati.”
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa lantunan suara dan irama pada dasarnya merupakan sarana. Pengaruh dan hukumnya berkaitan dengan tujuan serta keadaan yang menyertainya. Karena itu, ketika lantunan tersebut digunakan untuk membangkitkan kegembiraan atas sesuatu yang memang dibenarkan oleh syariat, maka hukumnya dapat menjadi mubah.
Melantunkan Syair Saat Menyambut Kedatangan
Imam al-Ghazali secara khusus membahas sama’ yang dilakukan pada waktu-waktu kegembiraan. Beliau berkata:
الْخَامِسُ: السَّمَاعُ فِي أَوْقَاتِ السُّرُورِ تَأْكِيدًا لِلسُّرُورِ وَتَهْيِيجًا لَهُ، وَهُوَ مُبَاحٌ إِنْ كَانَ ذَلِكَ السُّرُورُ مُبَاحًا، كَالْغِنَاءِ فِي أَيَّامِ الْعِيدِ، وَفِي الْعُرْسِ، وَفِي وَقْتِ قُدُومِ الْغَائِبِ، وَفِي وَقْتِ الْوَلِيمَةِ وَالْعَقِيقَةِ، وَعِنْدَ وِلَادَةِ الْمَوْلُودِ، وَعِنْدَ خِتَانِهِ، وَعِنْدَ حِفْظِهِ الْقُرْآنَ الْعَزِيزَ.
“Kelima, sama’ pada waktu-waktu kegembiraan untuk meneguhkan dan membangkitkan kegembiraan tersebut. Hukumnya mubah apabila kegembiraan itu sendiri merupakan sesuatu yang mubah, seperti nyanyian pada hari raya, pernikahan, ketika kedatangan orang yang bepergian, walimah, akikah, kelahiran seorang anak, khitan, dan ketika seseorang berhasil menghafalkan Al-Qur’an.”
Imam al-Ghazali kemudian menegaskan:
وَكُلُّ ذَلِكَ مُبَاحٌ لِأَجْلِ إِظْهَارِ السُّرُورِ بِهِ.
“Semua itu diperbolehkan sebagai bentuk menampakkan kegembiraan atasnya.”
Beliau juga menjelaskan alasan kebolehannya:
وَوَجْهُ جَوَازِهِ أَنَّ مِنَ الْأَلْحَانِ مَا يُثِيرُ الْفَرَحَ وَالسُّرُورَ وَالطَّرَبَ، فَكُلُّ مَا جَازَ السُّرُورُ بِهِ جَازَ إِثَارَةُ السُّرُورِ فِيهِ.
“Alasan kebolehannya adalah karena di antara bentuk-bentuk lantunan terdapat yang dapat membangkitkan kegembiraan, kesenangan, dan rasa suka cita. Maka, segala sesuatu yang boleh dijadikan sarana untuk bergembira, boleh pula digunakan untuk membangkitkan kegembiraan terhadapnya.”
Dengan demikian, apabila seseorang datang dan kedatangannya merupakan sesuatu yang patut disambut dengan gembira, maka mengungkapkan kegembiraan tersebut melalui syair atau lantunan yang mubah juga diperbolehkan.
Thala‘al Badru sebagai Contoh
Imam al-Ghazali kemudian memberikan contoh berupa lantunan yang dinisbatkan kepada penyambutan kedatangan Rasulullah saw. Beliau menyebutkan bahwa para perempuan melantunkan syair dari atas rumah dengan menggunakan duff (rebana) dan irama ketika Rasulullah saw. datang:
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا # مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا # مَا دَعَا لِلَّهِ دَاعِ
“Telah terbit bulan purnama kepada kami
dari arah Tsaniyyat al-Wada‘.
Wajib bagi kami untuk bersyukur,
selama ada orang yang menyeru kepada Allah.”
Imam al-Ghazali kemudian menyimpulkan:
فَهَذَا إِظْهَارُ السُّرُورِ لِقُدُومِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ سُرُورٌ مَحْمُودٌ، فَإِظْهَارُهُ بِالشِّعْرِ وَالنَّغَمَاتِ وَالرَّقْصِ وَالْحَرَكَاتِ أَيْضًا مَحْمُودٌ.
“Hal ini merupakan bentuk menampakkan kegembiraan atas kedatangan beliau saw. Kegembiraan tersebut merupakan kegembiraan yang terpuji. Maka, menampakkannya melalui syair, lantunan nada, tarian, dan gerakan-gerakan juga merupakan sesuatu yang terpuji.”
Artinya, menurut penjelasan Imam al-Ghazali, mengungkapkan kegembiraan tidak hanya dapat dilakukan dengan ucapan biasa, tetapi juga dapat melalui syair, lantunan suara, dan bentuk ekspresi kegembiraan lainnya, selama kegembiraan tersebut memang berkaitan dengan sesuatu yang dibenarkan.
Beliau juga menyebutkan bahwa terdapat riwayat mengenai sejumlah sahabat yang melakukan hajl sebagai bentuk ekspresi kegembiraan ketika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan.
