Memahami Karakter Perempuan

Artikel ini akan membahas tentang bagaimana memahami karakter perempuan dari sudut pandang hadist dan penafsirannya.

Paling tidak ada satu hadist yang menjadi bahan pembicaraan setiap membahas karakter perempuan. Yakni hadist,

النساء ناقصات عقل ودين اسْتَوْصُوا بالنِّسَاءِ فإنَّ الْمَرْأةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وإنَّ أعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أعْلاَهُ فإنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وإنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أعْوَجَ فاسْتَوْصُوا بالنِّسَاءِ.

 

“Perempuan itu kurang akal dan agamanya maka berwasiatlah engkau semua kepada kaum wanita. Sebab sesungguhnya wanita itu dibuat dari tulang rusuk dan sesungguhnya selengkunglengkungnya tulang rusuk ialah bagian yang teratas sekali. Maka jika engkau mencoba meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya dan jikalau engkau biarkan saja, maka ia akan tetap lengkung selama-lamanya. Oleh sebab itu, maka berwasiatlah kepada kaum wanita itu.” (Muttafaq ‘alaih)

Secara tekstual hadist tersebut menunjukkan kekurangan bagi perempuan dari segi akalnya. Tentu saja, pemahaman demikian akan mendatangkan reaksi penolakan yang keras dari perempuan itu sendiri. Karena, sebagai bagian dari kehidupan ini perempuan berhak untuk sejajar dengan laki-laki. Lebih dari pada itu pemahaman tersebut akan mendatangkan subordinasi perempuan yang tidak sejalan dengan asas keadilan.

Maka dari itu sangat penting sekali untuk megetahui pemahanan yang tepat mengenai hadis tersebut. Harapannya, supaya bisa memahami maksud dari hadist nabi sang pembawa keadilan.

Kalau kita fahami dengan benar, maka kita tidak akan menemukan pemahaman yang mengarah pada merendahkan derajat wanita. Apalagi, menunjukkan kelemahannya yaitu kurang akal dan agama.

Pemahaman yang akan kita dapatkan adalah dua hadis ini menunjukkan anjuran untuk mu’asyarah bi al-ma’ruf pada perempuan, mengasihi dan sabar menghadapi kelembutan sikap perempuan, serta tidak bersikap seenaknya terhadap perempuan (syarh an nawawi)[1].

Begini pemahamannya, secara fisik tubuh laki-laki lebih dominan dari pada tubuh perempuan (lebih tinggi, besar dan kuat). Hal ini memungkinkan laki-laki untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kasar yang membutuhkan kekuatan yang besar. Berbeda dengan perempuan yang umumnya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak kasar. Pekerjaan yang tidak membutuhkan tenaga yang besar seperti kegiatan yang bersifat domestik.

Maka pada umumnya seorang perempuan akan memiliki karakter lemah lembut dan penyayang. Penciptaan wanita yang cenderung lebih memiliki karakter lemah lembut bukanlah sebuah kekurangan. Melainkan, sesuai dengan peran pentingnya dalam mengarungi kehidupan. Sebab pepatah mengatakan كل ميسر لما خلق له (“Setiap orang tercipta sesuai bidang yang dimiliki”).

Kalau kita merujuk pada ilmuan yang mendalami seluk beluk tubuh manusia, kita akan menemukan penjelasan bahwa tubuh perempuan menghasilkan indung telur, sedang tubuh lelaki menghasilkan sperma. Dalam diri perempuan dan lelaki terdapat dua hormon kelamin, yaitu folikel stimulating hormone (FSH) dan lutheinizing hormone (LH).

Yang pertama FSH pada perempuan berfungsi merangsang pertumbuhan folikel di dalam indung telur. Sedangkan pada laki-laki berfungsi untuk mempengaruhi proses pembuatan sperma (spermatogenesis). LH pada perempuan berfungsi merangsang pemasakan sel telur dan pada laki-laki merangsang testis menghasilkan testosteron.

Folikel yang telah dirangsang pertumbuhannya oleh FSH akan menghasilkan hormon estrogen yang berfungsi merangsang  tanda-tanda kelamin sekunder pada perempuan. Sehingga, ia dapat juga dinamai hormon cinta. Sedangkan, folikel pada indung telur yang ditinggal keluar oleh sel telur yang telah masak akan menghasilkan hormon progesteron. Hormon ini antar lain berfungsi untuk memperlancar produksi air susu ibu (ASI) sehingga sementara pakar menamainya hormon keibuan.

Hormon cinta dan hormon keibuan merupakan sebab lahirnya berbagai emosi pada perempuan, seperti gembira, sedih, tegang, atau marah. Kedua hormon ini sekali bekerja sama di kali lain berseberangan. Karena itu seorang perempuan yang mabuk cinta ingin terus memelihara kecantikan dan daya tariknya, tetapi perempuan yang melahirkan anak bersedia bukan saja mengorbankan kecantikan demi anaknya, melainkan juga mengorbankan sekuruh miliknya termasuk jiwanya.[2]

Seorang ulama terkemuka, Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawy, membuat penggambaran; Ketika malam hari tiba saat sang anak terbangun dari tidurnya dan menangis, dengan sikap lemah lembut dan kasih sayangnya seorang perempuan akan sabar menenangkan sang anak untuk kembali bisa tertidur.

Berbeda dengan seorang lelaki yang pada umumnya tidak sabar. Umumnya laki-laki akan mengatakan pada istrinya “itu anak kamu, buat lah ia tenang”. Seorang laki-laki mengatakan demikian karena yang ada dalam fikirannya adalah ia besok akan bekerja dan saat ini ia harus istirahat dan begitulah yang rasional menurutnya.

Dilain kesempatan saat anak kecil merengek meminta uang untuk jajan, sementara kondisi keuangan keluarga sedang tidak berkecukupan, seorang ayah tidak akan semerta-merta memberikan uang kepada sang anak karena melihat kebutuhan lain yang akan datang.

Sementara seorang perempuan, akan memberi uang tersebut kepada sang anak karena tidak tega dengan tangisannya. Ia lebih mengesampingkan kebutuhan yang lain yang menurutnya bisa ia peroleh tambahannya dengan menghutang, lewat arisan dsb.

Kesimpilannya, bahwa kelembutan sikap dan kasih sayang seorang perempuan, seperti keterangan sebelumnya, lebih mendominasi dari pada cara berfikir yang rasional. Berbeda dengan laki-laki yang lebih mengedepankan cara berfikir yang rasional[3].

Maka pemahaman yang tepat mengenai hadis di atas, Kurang akal artinya; wanita cenderung lebih mengedepankan perasaan lembutnya daripada kekuatan rasional berfikirnya dalam menghadapi setiap persoalan. Karena tugas yang dia miliki adalah sebagai perawat dan penyayang bagi putra-putri dan suami yang selaras dengan karakter tersebut.

Sementara kurang agama adalah kodrat wanita yang memiliki siklus haid, hamil, dan menyusui. Hal tersebut membuat tugas ibadahnya berkurang.

Haid adalah udzur yang mengharamkan seorang wanita untuk melaksanakan salat dan puasa. Demikian pula wanita hamil dan menyusui yang sekira tidak mampu menahan puasa.

Hal semacam ini bukan menjadi aib, akan tetapi sebuah penciptaan yang proporsional. Allah menciptakan wanita dalam bentuk demikian semata agar ia mampu banar-benar mengemban tugas domestiknya (merawat, hamil, menyusui, dan melahirkan) secara optimal dan tidak mendapat beban[4].

Termasuk kesempurnaan penciptaan Allah Swt. adalah, Dia menciptakan makhluknya secara berpasang-pasangan. Penciptaan untuk wanita sebagai pelindung dengan berbekal kekuatan dan kegagahan yang dia miliki. Sementara wanita tercipta sebagai makhluk penuh kelembutan dan kasih sayang untuk ia tumpah ruahkan kepada sang suami dan anak-anaknya.

Sehingga, tidak benar pemaknaan wanita memiliki akal yang kurang dari lelaki, akan tetapi yang tepat adalah wanita lebih cenderung merespon dengan perasaan saat menjumpai permasalahan daripada akalnya.

Baca Juga: Di Balik Kewajiban Seorang Istri Menuruti Ajakan Suami Di Atas Ranjang

Subscribe: Pondok Lirboyo

[1] Muhyi ad-Din Zakariya an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘Ala Muslim, Hal; 67, Vol; 6.

[2] (di kutip dari buku “Perempuan” KH. Qurais Syihab)

[3] Muhammad Mutawalli asy-Sya’rafy, Fiqh al-Mar`ah al-Muslimah

[4] Muhyi ad-Din Zakariya an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘Ala Muslim, Hal; 67, Vol; 6.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.