MEMILIH IMAM SALAT YANG PANDAI FIKIH ATAU HAFAL AL-QUR'AN?

Memilih Imam Salat yang Pandai Fikih atau Hafal Al-Qur’an?

Dalam salat berjamaah, sosok Imam menjadi hal yang sangat urgen. Untuk itu, ada beberapa orang dengan kriteria tertentu yang lebih diprioritaskan dan dinilai lebih layak untuk menjadi imam salat jamaah.

Rasulullah SAW telah bersabda dalam salah satu hadisnya:

إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ، وَأَحَقُّهُمْ بالإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ

“Kalau ada tiga orang, maka hendaklah salah satu dari mereka menjadi imam. Dan yang lebih berhak menjadi imam adalah yang paling pandai bacaan Al-Qur’an-nya.” (HR Muslim)

Dari hadis tersebut dijelaskan bahwa orang yang pandai bacaan Al-Qur’annya lebih didahulukan untuk menjadi imam memiliki konteks yang berbeda. Namun menurut fakta yang ada pada zaman Rasulullah SAW, seluruh Sahabat Nabi SAW lebih dulu belajar fikih kemudian menghafal Al-Qur’an. Sehingga dapat dipastikan semua Sahabat yang hafal Al-Qur’an pasti dia sudah pandai fikih. (Lihat: Zakaria al-Anshari, Asna al-Mathalib, I/220)

Dengan hadis ini, secara sekilas pertanyaan di judul telah terjawab. Namun kenyataannya, para ulama ahli fikih justru mengatakan bahwa orang yang pandai fikih lebih layak menjadi imam salat jamaah daripada orang hafal Al-Qur’an (hafidz).

Di antaranya adalah penjelasan Syekh Khatib asy-Syirbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj berikut:

(وَالْأَصَحُّ أَنَّ الْأَفْقَهَ) فِي بَابِ الصَّلَاةِ وَإِنْ لَمْ يَحْفَظْ قُرْآنًا غَيْرَ الْفَاتِحَةِ (أَوْلَى مِنْ الْأَقْرَأِ) وَإِنْ حَفِظَ جَمِيعَ الْقُرْآنِ. لِأَنَّ الْحَاجَةَ إلَى الْفِقْهِ أَهَمُّ لِكَوْنِ الْوَاجِبِ مِنْ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ مَحْصُورًا وَالْحَوَادِثُ فِيهَا لَا تَنْحَصِرُ، وَلِتَقْدِيمِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَبَا بَكْرٍ فِي الصَّلَاةِ عَلَى غَيْرِهِ مَعَ وُجُودِ مَنْ هُوَ أَحْفَظُ مِنْهُ لِلْقُرْآنِ.

“Menurut pendapat yang lebih sahih: Sesungguhnya orang yang pandai fikih, dalam bab salat, meskipun tidak hafal Al-Qur’an lebih didahulukan daripada orang pandai bacaan dan hafal seluruh Al-Qur’an. Sebab kebutuhan akan fikih jauh lebih penting karena kewajiban yang berkaitan dengan Al-Qur’an dalam salat sangat terbatas, sementara permasalahan hukum fikih di dalamnya tidak terbatas. Hal itu juga bertendensi dari Rasulullah SAW yang lebih mendahulukan Sahabat Abu Bakar RA daripada Sahabat yang lain dalam hal mengimami salat meski kenyataannya ada Sahabat yang lebih baik hafalan Al-Qur’annya.” (Lihat: Khatib asy-Syirbini, Mughni al-Muhtaj, I/486)

Dengan demikian, untuk konteks zaman sekarang, ketika dihadapkan pada pilihan di atas maka yang paling diprioritaskan untuk menjadi imam salat adalah orang yang pandai fikih daripada orang yang hafal Al-Qur’an. []WaAllahu a’lam

Baca juga:
SALAT DISENTUH ANAK KECIL YANG BELUM KHITAN, BENARKAH SALATNYA BATAL?

Simak juga:
Pengajian Kitab Al-Hikam

# Memilih Imam Salat yang Pandai Fikih atau Hafal Al-Qur’an?
# Memilih Imam Salat yang Pandai Fikih atau Hafal Al-Qur’an?

One thought on “Memilih Imam Salat yang Pandai Fikih atau Hafal Al-Qur’an?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.