Tag Archives: Hari Santri

Ikrar Santri Indonesia

IKRAR SANTRI INDONESIA

بسم الله الرحمن الرحيم
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله

Kami santri Negara Kesatuan Republik Indonesia berikrar:

1. Sebagai santri Negara Kesatuan Republik Indonesia, berpegang teguh pada akidah, ajaran, nilai, dan tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

2. Sebagai santri Negara Kesatuan Republik Indonesia, bertanah air satu, tanah air Indonesia; berideologi negara satu, ideologi Pancasila; Berkonsitusi satu, Undang-Undang Dasar 1945; dan berkebudayaan satu, Bhinneka Tunggal Ika.

3. Sebagai santri Negara Kesatuan Republik Indonesia, selalu bersedia dan siap siaga menyerahkan jiwa dan raga membela tanah air dan bangsa Indonesia, mempertahankan persatuan dan kesatuan nasional, serta mewujudan perdamaian dunia.

4. Sebagai santri Negara Kesatuan Republik Indonesia, ikut berperan aktif dalam pembangunan nasional mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan, lahir dan batin untuk seluruh rakyat Indonesia.

5. Sebagai santri Negara Kesatuan Republik Indonesia, pantang menyerah, pantang putus asa, serta siap berdiri di depan melawan pihak-pihak yang merongrong Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika, yang didasari semangat Proklamasi Kemerdekaan dan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama.

Lirboyo, Pesantren Salaf Inspiratif Indonesia

LirboyoNet, Jakarta—Di Hari Santri Nasional 2017 kemarin, Ahad (22/10) Pondok Pesantren Lirboyo mendapatkan hadiah spesial. Pondok Pesantren Lirboyo mendapat penghargaan dari Islam Nusantara Center sebagai Pesantren Salaf Inspiratif.

Islam Nusantara Center (INC) adalah lembaga khusus yang diinisiasi oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN Syahid) Jakarta. Menurut  Prof Dr Dede Rosyada, Rektor UIN Syahid, INC didirikan untuk mengkaji kembali khazanah ulama-ulama Nusantara. Ini dianggap penting karena umat Islam di Indonesia harus memahami betul sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Mereka juga harus mengetahui siapa pelaku sejarah itu. Dalam visinya yang lebih besar, INC diharapkan mampu menjadi promotor dalam menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban Islam di dunia.

Agenda pemberian penghargaan dalam bungkus “Santri of the Year” ini dimaksudkan untuk mempertegas tujuan mulia INC itu. Meskipun baru dilangsungkan dua kali ini, even “Santri of the Year” telah mampu menyedot perhatian tokoh-tokoh besar dan para pemerhati bangsa. Buktinya, dalam even ini, turut hadir Menristek Dikti, Mohammad Natsir, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dan Sekjen PBNU, Helmy Faisal. Untuk tahun ini, even ini digelar di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, pada Ahad, 22 Oktober 2017 M.

Mengenai penghargaan Pesantren Salaf Inspiratif, ada beberapa poin penting yang menjadikan Pondok Pesantren Lirboyo dianggap pantas untuk menjadi pusat inspirasi bagi pondok-pondok salaf lain.

“Sekitar sepuluh tahun yang lalu, Pondok Pesantren Lirboyo mendapat tawaran untuk menambahkan kurikulum/pelajaran formal, dengan jaminan segala biaya oprasional madrasah serta gaji guru ditanggung pemerintah,” buka Agus HM. Adibussholeh Anwar saat memberikan keterangan terkait pemberian penghargaan ini.

Ia melanjutkan, setelah tawaran itu bermunculan, diadakanlah rapat pengasuh. Dengan pertimbangan bahwa generasi saat ini hanyalah sebagai penerus pendidikan yang telah dirintis oleh sang pendiri, KH. Abdul Karim, maka segenap pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo memilih untuk tidak menerima tawaran tersebut. Dengan demikian, Pondok Pesantren Lirboyo mempertahankan jati dirinya sebagai pesantren salaf sampai saat ini.

Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo ini berharap, generasi penerus Pondok Pesantren Lirboyo dapat seterusnya mempertahankan metode pendidikan yang telah diwariskan turun temurun sejak pendiri, KH. Abdul Karim. Karena keistikamahan inilah yang menjadikan Ponpes Lirboyo menjadi salah satu aset bangsa dalam menginspirasi umat. “Oleh sebab keistiqomahan para pengasuh mulai generasi pertama, kedua hingga ketiga inilah, maka Lirboyo mendapat penghargaan Pesantren Salaf Inspiratif ini,” pungkasnya.

Semoga penghargaan ini menjadi motivasi bagi seluruh pondok pesantren salaf di manapun, agar tetap mempertahankan ideologi salaf sebagai pijakan utama dalam mendidik santri, baik di masa kini, lebih-lebih di masa depan.

Berikut daftar nama penerima anugerah “Santri of the Year 2017”:

  1. Santri Pengabdi Sepanjang Hayat: KH Saifudin Zuhri.
  2. Santri inspiratif bidang dakwah: KH. Anwar Zahid (Bojonegoro).
  3. Santri Inspiratif bidang seni dan budaya: Habib Syekh Abdul Qodir Assegaf (pegiat seni shalawat Solo).
  4. Santri Inspiratif bidang pendidikan: Prof Abdul A’la (Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya).
  5. Santri Inspiratif bidang wirausaha: Nanang Qosim Yusuf (Master Motivator the 7 Awarenes-Banten).
  6. Santri Inspiratif bidang kepemimpinan dalam pemerintahan: Saifullah Yusuf (Wakil Gubernur Jatim).
  7. Pesantren Salaf Inspiratif: Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
  8. Pesantren Modern Inspiratif: Pesantren Ummul Quro Al Islami Leuwiliang Bogor.
  9. Pesantren Enterpreneur Inspiratif: Pesantren Agribisnis Al Hikmah 2 Benda Brebes.
  10. Pahlawan santri: KH Bisri Syamsuri Denanyar Jombang.
  11. Santri Berprestasi Internasional: Izza Nur Layla (santri pesantren Nuris Jember, Juara Internasional Kompetisi Agribisnis).

Sumber daftar penerima anugerah: jaringansantri.com (akun resmi Islam Nusantara Center).

Satu Milyar Shalawat dari Umat Moderat

LirboyoNet, Kediri—Malam 21 Oktober tahun 1945, adalah malam genting. Wadah para ulama Nahdlatul Ulama, PBNU menggelar rapat konsul NU se-Jawa dan Madura. Rapat digelar di Kantor Hofdsbestuur Nahdlatul Ulama di Jalan Bubutan VI No 2 Surabaya. Di tempat inilah para ulama membahas situasi perjuangan dan membicarakan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pertemuan itu berakhir pada tanggal 22 Oktober. Di tanggal itu pula, PBNU akhirnya mengeluarkan sebuah Resolusi Jihad sekaligus menguatkan fatwa jihad Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Malam yang sama, 72 tahun kemudian, adalah malam tenang. Di tengah ketenangan itu, puluhan ribu santri khidmat berkomat-kamit. Mulut mereka mendzikirkan wirid agung: Shalawat Nariyah. Berpusat di Aula al-Muktamar, santri-santri itu patuh mengikuti bacaan yang dipimpin oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus. Dimulai pukul 20.00 WIB, acara “Satu Milyar Sholawat Nariyah” itu diikuti oleh ulama se-Kediri Raya.

KH. Anwar Iskandar, pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin, Ngasinan, Kediri, menegaskan bahwa pembacaan shalawat Nariyah ini sangat perlu digalakkan. “Bangsa kita sekarang sedang dirundung kegelisahan, kegalauan. Dengan shalawat Nariyah ini, semoga kegalauan ini cepat-cepat dihilangkan oleh Allah dari bangsa kita,” harap beliau.

Pembacaan Satu Milyar Sholawat Nariyah ini, selain sebagai upaya untuk mendoakan keselamatan bangsa, juga menjadi salah satu agenda dalam memperingati Hari Santri Nasional, yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober. Bagi santri, hari ini begitu istimewa, karena dengan adanya hari khusus bagi mereka, ada tuntutan penting untuk mereka renungkan. “Kita harus introspeksi diri. Sampai di mana kita menyumbangkan jasa kepada bangsa?” tekan Gus War, sapaan akrab beliau. Ini tak lepas dari fakta sejarah, bahwa para ulama telah begitu besar jasanya kepada bangsa. Sejak jauh sebelum kemerdekaan, ikut mempertahankan kemerdekaan, hingga melanjutkan dan mengisi kemerdekaan, seperti sekarang.

Salah satu jasa pesantren adalah menjaga kedamaian dan ketentraman bangsa. “Sejak dulu, pesantren tidak pernah bergeser arah visinya. (yakni) Terus berupaya menelurkan santri-santri yang moderat,” ungkap beliau. Dengan kemampuan santri inilah, harapan untuk meneruskan perjuangan Nabi terus dibumbungkan. Yakni, merawat umat dan bangsa agar menjadi umat yang wasathan, yang moderat, yang tidak mudah bergejolak oleh isu-isu negatif.

Dalam acara ini, juga dibacakan Ikrar Santri Indonesia. Ikrar ini untuk menegaskan bahwa santri selamanya akan menjadi generasi yang berjuang demi kemashlahatan bangsa.][

Khutbah Jumat: Perjuangan Umat

 

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صدق الله العظيم

Jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Hari ini di 72 tahun yang lalu, KH. Hasyim Asy’ari dan ulama-ulama terdahulu berkumpul dalam satu meja. Sebelumnya, tak pernah para ulama merasa resah seperti ini. Mereka memiliki suatu tanggungjawab besar yang mereka panggul, yakni merawat dan menjaga kehidupan beragama masyarakat mereka masing-masing. Tapi di hari itu, mereka harus meninggalkan masyarakat mereka sementara waktu. Mereka pergi dari rumah menuju satu titik untuk bertemu dengan ulama lainnya. Apa gerangan yang memaksa mereka meninggalkan tanggungjawab besar itu? Tiada lain adalah mereka telah mendapat tanggung jawab yang lebih besar: menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara ketika itu sedang mendapat ancaman serius dari tentara penjajah. Keadaan telah demikian genting.

Maka demi kepentingan negara, para ulama rela meninggalkan kewajiban mereka sejenak kepada masyarakat sekitar. Karena menjaga negara sesungguhnya kewajiban paling besar yang ditanggung oleh ulama. Ini selaras dengan apa yang diucapkan oleh KH. Wahab Hasbulloh:

ِحُبُّ الوَطَنِ مِنَ الإِيْمَان

Mencintai tanah air, memperjuangkan kedamaian tanah kelahiran adalah bagian dari Iman. Tanpa ghirah  dan semangat membela negara, mustahil seseorang dianggap sempurna keimanannya. Sudah barang tentu, para ulama, yang memiliki kadar keimanan yang telah tinggi, akan menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk memperjuangkan kedamaian tanah kelahirannya itu.

Dari pertemuan itu, dihasilkan sebuah keputusan besar: Fatwa Resolusi Jihad. Fatwa ini menghendaki bahwa setiap muslim berkewajiban untuk melindungi negaranya dari serangan penjajah. Hanya dengan kondisi negara yang aman dan tentram lah ajaran agama dapat dilestarikan dengan sempurna. Dalam surat al-Baqarah ayat 190 disebutkan:

 

ِوَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Jamaah Jum’ah yang dirahmati Allah,

Ayat di atas menegaskan bahwa kita memiliki tanggungjawab untuk mempertahankan agama Allah. Kita harus memperjuangkan kelestarian agama kita dengan sepenuh jiwa dan raga. Kita bisa menyaksikan bagaimana perjuangan para ulama di zaman dahulu. Mereka rela turun ke medan, menghadapi langsung para musuh. Bahkan, KH. Mahrus Aly, salah satu dari tiga tokoh Pondok Pesantren Lirboyo, memimpin perang langsung di area peperangan.

Jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Perang 10 November di Surabaya adalah perang paling heroik yang pernah ada di bumi Nusantara. Para pejuang Indonesia berhadapan dengan musuh yang bersenjatakan lengkap. Bahkan mereka telah mengepung kota dari seluruh daratan, laut dan udara. Meski begitu, para pejuang Indonesia tidak sedikitpun gentar menghadapi musuh. Mengapa? Karena di belakang mereka ada para ulama yang turut mengangkat senjata. Ada Kiai Abbas Buntet yang menjadi pemimpin tentara di udara. Ada Kiai Mahrus Aly Lirboyo yang menjadi panglima tentara di darat. Seluruh ulama dan rakyat bersatu padu mempertahankan keutuhan negara.

Jamaah Jum’ah yang dirahmati Allah,

Karenanya, jangan pernah sekali-kali kita melupakan jasa para ulama. Perjuangan yang mereka lakukan bukan hanya berdiam di masjid, duduk berdzikir, memutar tasbih. Justru mereka adalah para pejuang yang paling gigih, yang tak sedikitpun melirik hal lain dalam memperjuangkan negara, selain bahwa negara harus dibela mati-matian. Negara adalah harta yang paling berharga bagi mereka. Berkat jasa mereka lah, kita bisa hidup di dalam negara yang damai, dan menjalani hidup dengan santun dan tentram.

 

ِبَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

Khutbah II

 

ِاَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

 

ِأَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

ِاَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

 

Santri Putri Al Baqoroh Ziarahi Wali

LirboyoNet, Kediri — Ziarah adalah sesuatu yang terlarang, sebelum kemudian Rasulullah berbalik menyuruhnya. Kenapa terlarang (kuntu nahaitukum)? Karena iman muslimin diawal perjumpaannya dengan dakwah Rasulullah masih dinilai rapuh. Belum menjadi sebuah keputusan yang tepat jika ziarah—sesuatu yang sebenarnya telah menjadi adat kuno bagi masyarakat Makkah—diperbolehkan begitu saja. Saat itu, ziarah di makam begitu negatif: sebuah tempat untuk meratap, meluapkan kekesalan, meragukan—lebih-lebih mencaci kehendak yang telah dituliskan Tuhan.

Lalu mengapa kemudian larangan itu berbalik (fazūruhā)? Bahwa indikasi negatif itu dinilai telah hilang, benar. Namun yang tertulis di hadits berikutnya, li annahā tudzakkirukum al-maut, memberi pengertian bahwa ziarah adalah peristiwa yang begitu penting. Penting karena ia mengingatkan kita kepada kematian, yang dalam etos selanjutnya, mengingat mati berarti sadar bahwa apa yang bisa dilakukan manusia hanyalah menghamba pada tuhannya (QS 51: 56).

Itulah mengapa Pondok Pesantren Lirboyo begitu kental dengan kebiasaan berziarah. Salah satunya adalah yang terlaksana Senin kemarin, (24/10/16). Salah satu unitnya, Pondok Pesantren Al-Baqoroh, mengantar sekitar 200 santrinya berziarah Wali Lima (Jawa Timur). Berangkat sejak subuh, mereka memulai perjalanannya dengan berziarah di makam muassisul ma’had (pendiri pesantren), almaghfurlah KH. Abdul Karim.

Rombongan itu dipimpin langsung oleh sang pengasuh, KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, dengan menggunakan dua armada bus. “Ziarah ini adalah agenda tiap tahunnya dari pondok Al-Baqarah. Tahun-tahun kemarin cuma satu bus. Karena santri sekarang bertambah banyak, otomatis kendaraan juga bertambah. Tapi, ziarah ini khusus untuk santri putri. Panitia juga dari putri,” tukas Luthfil Hakim, salah seorang pengurus PP Al-Baqarah.

Selain Lima Wali (Sunan Gresik, Sunan Ampel Surabaya, Sunan Giri Gresik, Sunan Bonang Tuban, dan Sunan Drajat Lamongan), rombongan juga berziarah ke makam wali Madura.][