Tag Archives: Ngaji

Khutbah Jumat: Tipe Amalan Yang Paling Dicintai Allah Swt.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أما بعد:
فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَفَوْزًا عَظِيْمًا

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt, dengan menjauhi  tiap-tiap larangannya dan menjalankan sekuat mungkin segala perintahnya. Karena tidak lain dari tujuan hidup dan penciptaan kita hanyalah semat-mata untuk beribadat. Allah swt. berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

Oleh karenanya, penting bagi kita untuk memiliki pendirian yang teguh dan sikap istikamah dalam beribadat. Sebagaimana kita rasakan bersama, bahwa kondisi dan tantangan hidup begitu bermacam-macam dan beragam. Mungkin Hari ini kita dalam keadaan lapang, namun esok mungkin pula keadaan sebaliknya yang terjadi.

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Ibadat merupakan hal yang amat pokok dalam hidup kita. Banyak sekali hal-hal kecil atau pun besar yang tampaknya biasa saja, namun sebenarnya bisa kita jadikan sarana untuk beribadat semisal; menyapu, makan, minum, tidur dsb. Lebih-lebih ibadat yang telah jelas bentuknya. Namun dari itu, ada satu hal penting yang hendaknya kita jadikan jalan dalam ibadat kita kepada Allah swt. Istikamah. Ya, hendaknya ada ibadat-ibadat tertentu yang kita jadikan kebiasaan dalam sehari-hari. Sekecil apa pun, hendaknya ada amalan-amalan yang kita lakukan secara istikamah. Baginda Nabi bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit”(HR. Bukhari Muslim)

Demikian baginda Nabi telah membocorkan pada kita bahwa termasuk kategori amal yang dicintai Allah adalah amalan-amalan yang rutin dilakukan. Meskipun hal itu terkesan kecil atau pun ringan. Maka mulai saat ini, mari kita cari dan lakukan amalan apa yang kira-kira bisa kita lakukan dengan rutin.

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Selain dicintai oleh Allah, amalan yang rutin juga bisa sekaligus melatih diri kita agar bisa istikamah dalam berbagai hal lainnya. Karena sebagaimana kita sadari, istikamah bukan hanya penting dalam kaitannya beribadah saja, melainkan menyeluruh dalam berbagai hal dan kegiatan lainnya.

Dan yang terpenting, semoga kita diberi keistikamahan dalam beriman dan beribadat kepada Allah swt. dan termasuk dalam golongan yang Allah swt. firmankan dalam surat fusshilat ayat 30-32:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ  نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ  نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istikamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan balasan surga yang telah dijanjikan kepadamu’. Kami lah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalam surga itu kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ  آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. أَقُوْ لُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Tugas Santri Ibadah dan Ngaji

Shonhaji Bukhori, santri khadim kyai Idris Marzuqi Lirboyo, yang biasa nderekke (Nyopiri) beliau menuturkan:

Suatu ketika dalam perjalanan, Bunyai matur kepada Romo Kyai Idris Marzuqi perihal toko beliau yang jauh ketinggalan dibanding toko-toko lainnya di kediri.

“Bah toko kita sudah ketinggalan jaman lho”.

“Memangnya kenapa ?”, tanya Romo Kyai.

“Coba panjenengan lihat, toko-toko yang di jalan doho, modelnya bagus-bagus, penataannya praktis dan menarik, pokoknya toko kita kalah jauh dari mereka”, kata Bunyai.

“Ya biar saja, mereka itu kan hidupnya hanya unutk mencari duniawi, sedangkan kita punya kewajiban ibadah dan ngaji, setelah itu baru kerja mencari rezeki semampunya, yang penting jangan sampai meninggalkan ibadah dan ngaji”, jawab Kyai dengan enteng.

Bunyai pun terdiam, lantas berkata kepadaku “kamu nanti juga harus begitu Shon ! kamu kan juga santri, tugasnya ibadah dan ngaji jangan seperti mereka, yang hanya mengejar duniawi”.

Mengenal Dasar-Dasar Sujud Sahwi

Secara bahasa, Sahwi berarti lupa. Sujud Sahwi secara istilah diartikan dengan dua sujud yang dilakukan sebelum salam di akhir shalat karena melakukan sebab-sebab tertentu.

Hukum Sujud Sahwi

Hukum asal dari sujud Sahwi bagi seorang imam atau munfarid (sholat sendirian) adalah sunah. Adapun bagi makmum wajib melakukan sujud Sahwi dalam rangka Mutaba’ah (mengikuti imam) apabila imamnya melakukan sujud Sahwi.

Sebab-Sebab Sujud Sahwi

Sujud Sahwi sunah untuk dikerjakan apabila melakukan hal-hal berikut;

Pertama, meninggalkan salah satu sunnah Ab’adh dalam shalat. Contoh, meninggalkan duduk atau bacaan Tasyahud Awal dan Qunut. Sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah Ra, dia mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ، فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلاَ يَجْلِسْ وَيَسْجُدُ سَجْدَتَي السَّهْوِ

Jika salah seorang di antara kalian bangkit dari dua raka’at, dan belum berdiri dengan sempurna, maka hendaklah ia duduk. Namun, jika ia telah berdiri dengan sempurna, maka janganlah ia duduk. Dan hendaklah ia melakukan sujud sahwi dua kali” (HR. Ibnu Majah).

Kedua, melakukan pekerjaan yang apabila dilakukan secara sengaja dapat membatalkan shalat. Seperti berbicara dengan perkataan yang sedikit atau menambah jumlah rakaat dalam keadaan lupa. Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلاَةِ شَيْءٌ أَنْبَأْتُكُمْ بِهِ وَلكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيْتُ فَذَكِّرُوْنِي وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ، فَلْيَتِمْ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

Sesungguhnya, jika terjadi sesuatu pada shalat, niscaya kalian aku beritakan. Akan tetapi aku hanyalah seorang manusia. Aku lupa sebagaimana kalian juga lupa. Jika aku lupa, maka ingatkanlah aku. Jika salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya, maka hendaklah dia berusaha mencari mana yang benar. Lalu menyempurnakannya, setelah itu hendaklah dia sujud dua kali” (HR. Abu Dawud).

Ketiga, memindah rukun Qauli (ucapan) di selain tempatnya. Misalkan, membaca surah Al-Fatihah dalam ruku’ atau Tasyahud, atau membaca bacaan Tasyahud dalam keadaan berdiri.

Keempat, melakukan sebuah rukun Fi’li (gerakan) yang ada indikasi menambah rukun. Contohnya apabila seseorang ragu dalam bilangan rakaat, kemudian keraguan tersebut berlanjut sampai rakaat berikutnya, maka dia disunnahkan sujud Sahwi meskipun keraguannya tersebut hilang sebelum salam. Rasulullah Saw pernah bersabda:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِـيْ صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى؟ ثَلاَثًا أَوْ أَرْبَعًـا؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَـا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ. فَإِنْ كَـانَ صَلَّى خَمْسًا شَفِعْنَ لَهُ صَلاَتُهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا ِلأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ

Jika salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya. Sehingga dia tidak tahu berapa raka’at yang telah dia kerjakan, tiga raka’at ataukah empat raka’at. Maka hendaklah ia tepis keraguan itu, dan ikutilah yang dia yakini. Setelah itu, hendaklah dia sujud dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia mengerjakan lima raka’at, maka dia telah menggenapkan shalatnya. Namun, jika dia mengerjakan empat raka’at, maka dua sujud tadi adalah penghinaan bagi syaitan” (HR. Ahmad).

Catatan: Sujud Sahwi tetap sunah dilakukan satu kali (dua kali sujud) meskipun disebabkan oleh melakukan lebih dari satu penyebab sujud Sahwi.

Tata Cara melakukan Sujud Sahwi

Dalam prakteknya, sujud Sahwi sama persis dengan dua sujud yang menjadi rukun shalat, baik dari segi syarat, kewajiban, dan sunah-sunahnya. Namun yang menjadi perbedaan paling mendasar adalah dari dua hal, yakni;

Pertama, dari sisi niat. Bagi Imam atau seorang munfarid (sholat sendirian) untuk berniat di dalam hati (tanpa diucapkan) untuk melakukan sujud Sahwi. Adapun bagi makmum tidak diharuskan niat, karena sudah dicukupkan dengan keikutsertaannya kepada imam.

Kedua, dari sisi bacaannya. Di dalam sujud Sahwi disunnahkan untuk membaca tasbih berikut ini:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُوْ

Maha suci Dzat yang tak pernah tidur dan tak pernah lupa”.

Menurut sebagian ulama, bacaan tasbih di atas hanya diperuntukkan bagi mereka yang lupa dalam melakukan sebab-sebab sujud Sahwi. Adapun bagi yang sengaja melakukan sebab-sebab sujud Sahwi, bacaan yang paling tepat dalam sujud Sahwinya adalah bacaan istighfar.[]waAllahu a’lam

Referensi:

Al-Yaqut An-Nafis, hlm 46, cet. Al-Haromain.

Hasyiyah Al-Bajuri, I/189, cet. Al-Hidayah.

Shahih Muslim, I/404.

Syarh Al-Mahalli ‘ala Al-Minhaj, I/225.

 

Ngaji Tafsir: Tanggung Jawab Keluarga

Pada zaman Rasulullah Saw, pernah terjadi pertikaian dalam sebuah keluarga dari sahabat Anshor. Pertikaian tersebut berujung pada penamparan seorang suami kepada istrinya. Setelah kejadian itu, sang istri bersama orang tuanya hendak melaporkan kejadian yang menimpanya kepada baginda Rasulullah Saw.

Mendengar pengaduan itu, Rasulullah Saw memutuskan hukuman Qishas (balasan) untuk sang suami. Ketika sang istri dan ayahnya hendaknya pulang, Rasulullah Saw mencegahnya seraya berkata, “Kembalilah, malaikat Jibril As membawakan ayat ini”. Kemudian Rasulullah Saw membacakan Surah An-Nisa’ ayat 34. (Lihat: Tafsir Ar-Razi, X/70)

Menghayati Ayat

Dalam awal penggalan ayat ke 34 surah An-Nisa’, Allah Swt berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”, (QS. An-Nisa’: 34).

Mayoritas ulama Ahli Tafsir memberi penjelasan yang senada atas kandungan ayat tersebut. Yakni menitikberatkan terhadap aspek kepemimpinan dan tanggung jawab seorang laki-laki atas perempuan. Dengan bermodal kelebihan yang dimiliki, baik secara fisik maupun daya intelektual, kaum laki-laki sudah sepatutnya memegang tanggung jawab atas kaum perempuan.

Menurut sebagian kelompok, ayat ini menjadi alasan sebagai argumen untuk memarginalkan golongan perempuan. Dengan bertendensi terhadap realita dan kelebihan yang dianugerahkan oleh Allah terhadap kaum laki-laki, mereka seakan memposisikan perempuan sebagai strata kedua yang berada di bawah level kaum laki-laki. Dengan dalih kelebihan yang dimiliki kaum laki-laki dalam ayat itu, kelompok ini sangat menentang adanya upaya yang sering disebut emansipasi wanita.

Sebenarnya asumsi serampangan seperti ini telah terjawab dalam kitab tafsir Al-Bahr Al-Muhith. Syech Muhammad Yusuf Hayyan Al-Andalusi menjelaskan bahwa tidak sepenuhnya benar apabila dikatakan laki-laki lebih utama daripada perempuan. Karena dalam konteks ayat ini, yang berlaku adalah hukum keumuman jenis laki-laki yang lebih utama daripada jenis perempuan, bukan memandang setiap individunya. Dengan kata lain, tidak menutup kemungkinan ada individu perempuan yang justru lebih baik daripada laki-laki, contoh adalah Sayyidah ‘Aisyah Ra, Rabiah Al-Adawiyah, dan lain-lain. (Lihat: Al-Bahr Al-Muhith, III/622, Maktabah Syamilah)

Implementasi Penafsiran

Penggalan ayat di atas, mengemukakan ragam penafsiran yang begitu banyak dari golongan ulama Ahli Tafsir. Namun, mayoritas dari mereka (Jumhur Al-Mufassirin) mengambil kesimpulan bahwa ayat ini menjadi landasan tanggung jawab seorang laki-laki atas keluarganya.

Ada dua alasan yang menjadikan laki-laki sebagai pemimpin yang memiliki tanggung jawab atas keluarganya, yaitu karena Wahbiyun (Pemberian) dan Kasbiyun (Pekerjaan). Yang dimaksud Wahbiyun (Pemberian) adalah segala kelebihan yang diberikan atas kaum laki-laki demi melancarkan tanggung jawabnya atas perempuan, seperti kecerdasan intelektual dan kekuatan fisik. Sedangkan yang dimaksud Kasbiyun (Pekerjaan) adalah kelebihan yang diusahakan oleh kaum laki-laki dalam menunjang tanggunh jawabnya atas kaum perempuan, seperti kewajiban membayar mas kawin dan nafkah keluarga. (Lihat: Al-Bahr Al-Madid fii Tafsir Al-Qur’an Al-Majid, I/498, Maktabah Syamilah)

Oleh karena itu, dalam ayat itu Allah menggunakan kata “Qowwamun” yang memiiliki arti “Pemimpin” merupakan bentuk metafora dari kata “Qoimun”. Sehingga sangat tepat sekali bahwa kamu laki-laki lah yang mengemban amanah untuk memimpin, mendidik, dan menjaga keluarganya. Begitu juga bagi perempuan, dia mengemban amanah sebuah kehormatan dan wajib untuk selalu mentaati perintah yang diberikan, selama hal itu tidak bertentangan dengan syariat. (Lihat: Tafsir Al-baghowi, II/206, dan Tafsir Ar-Razi, X/70)

Dengan pemahaman yang komprehensif dengan bukti referensi yang dapat dipertanggungjawabkan, diharapkan tidak ada lagi diskriminasi terhadap golongan perempuan dengan bertendensi pada ayat ini. Karena pada dasarnya, ayat ini justru menjelaskan masalah keseimbangan hak dan kewajiban antara seorang suami dan istri demi terciptanya nuansa keluarga yang sakinah dan harmonis.

[]waAllahu a’lam

Referensi:

Tafsir Ar-Razi

Al-Bahr Al-Muhith fii  Al-Tafsir

Tafsir Al-Baghowi

Tafsir Al-Qurtubhi

Al-Bahr Al-Madid fii Tafsir Al-Qur’an Al-Majid

Ngaji Tafsir; Memberdayakan Masyarakat

Berbicara soal peradaban, tentu akan membuka ruang dialog yang begitu intensif. Pasalnya, sebuah peradaban merupakan hal yang paling penting dalam tatanan dan perjalanan roda kehidupan. Sebuah masyarakat yang memiliki nilai peradaban akan memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik daripada golongan masyarakat yang yang tidak beradab. Dan satu hal yang perlu dicermati, peradaban dalam pengaplikasiannya tidak pernah terlepas dengan pelaku-pelaku sosial yang menggerakkan, menumbuhkembangkan, serta memberdayakan masyarakat tersebut.

Dalam konteks realita ini, Allah Swt telah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”, (QS. At-Taubah: 122).

Dalam kitab tafsirnya yang berjudul Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Qur’an atau yang lebih sering dikenal dengan nama Tafsir At-Thabari, Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari menjelaskan begitu banyak perbedaan pendapat para ulama Ahli Tafsir dalam memahami ayat tersebut. Diantara mereka, ada yang menitikberatkan dalam kajian historis, pendekatan kritis sosial, dan aktualisasi isi kandungan ayat. Beberapa diantaranya terangkum dalam beberapa pendapat berikut:

Diriwayatkan dari sahabat Mujahid Ra, beliau berkata: “Dulu, para Sahabat Nabi banyak yang ditugaskan di daerah suku pedalaman tanah Arab. Di sana, mereka membangun interaksi yang baik dan memajukan sektor pertanian yang bermanfaat bagi penduduk setempat. Selain itu, para Sahabat Nabi tersebut juga mendakwahkan ajaran Islam kepada penduduk setempat. Setelah menapaki jalan kesulitan, akhirnya mereka kembali dan menemui Rasulullah Saw untuk menceritakan apa yang telah mereka alami. Sehingga turunlah ayat tersebut”.

Sahabat Qatadah Ra, mengambil pemahaman bahwa ketika Rasulullah Saw mengutus angkatan perang, hendaklah sebagian diantara mereka tetap tinggal bersama Beliau untuk lebih memperdalam pengetahuan agama mereka. Kemudian sebagai upaya tindak lanjut, mereka juga berkewajiban mendakwahkan apa yang telah didapat terhadap kaumnya. Ada juga ulama yang menafsiri dengan pola terbalik dari penafsiran sahabat Qatadah Ra, yaitu para angkatan perang itu lah yang memperdalam keilmuan secara umum demi pembangunan peradaban masyarakatnya setelah mereka kembali.

Sahabat Ibnu Abbas Ra, menceritakan sebuah kisah terkait dengan penafsiran ayat tersebut. Yaitu, pada zaman dahulu bangsa Arab memiliki kelompok-kelompok suku yang begitu banyak jumlahnya. Kemudian, sebagian diantara mereka menemui Rasulullah Saw seraya bertanya, “Apa yang Anda perintahkan untuk kami kerjakan, dan beri tahu kami terhadap apa yang harus kami sampaikan pada keluarga kami saat kami kembali pada mereka?”. Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah Saw menyuruh mereka untuk menyampaikan perintah shalat, zakat, dan kewajiban yang lain dan senantiasa taat terhadap Allah dan rasul-Nya. Setelah mereka kembali ke daerah masing-masing, mereka menyampaikan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah Saw dan mendakwahkan agama Islam di tengah-tengah masyarakatnya.

Secara garis besar, dari QS. At-Taubah ayat 122 dapat ditarik sebuah pemahaman. Kandungan dan penafsiran ayatnya bermuara pada kewajiban seorang muslim untuk bertanggungjawab atas keadaan umat yang ada di sekitarnya. Karena dalam konteks ini, pemberdayaan masyarakat sekitar merupakan sebuah amanah yang murni muncul dari kesadaran sosial semata. Sehingga, tidak berlebihan kiranya apabila membangun ruh keilmuan dan peradaban masyarakat merupakan sebuah keharusan yang menjadi lahan implementasi nyata dari tanggung jawab yang sebenarnya.[] waAllahu a’lam

 

_________

Disarikan dari kitab Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Qur’an (Tafsir At-Thabari), karya Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari.