Kisah pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim mungkin tidak begitu asing di telinga kita. Namun yang tak kalah penting, ternyata terdapat sebuah pemahaman yang perlu diluruskan dari hikmah yang diambil dari kisah tersebut. Simak selengkapnya agar menambah wawasan ilmiahmu tentang kisah Nabi yang jarang kita ketahui.
Baca juga: Akhlak Mencintai Rasulullah: Belajar dari Abdullah bin Umar
Kisah pencarian Tuhan Nabi Ibrahim
Saat itu senja telah hampir berganti malam. Ibrahim yang masih belia sudah mulai kritis, ia lantas mengamati sekelilingnya. Ibrahim termenung. Ia menatap keindahan langit, matanya menangkap ada bintang besar.
Spontan ia berkata, “Itukah Tuhanku?” Matanya terus menatapnya, tidak puas-puas mengikuti kemana perginya, hingga tiba-tiba yang dipandang lenyap.
“Aku tidak senang dengan tuhan yang sirna” ucapnya. Malam merayap pelan, dan mahadewi malam mulai menampakkan parasnya. Wajahnya semakin bulat dan terang. Gemintang yang bertebaran di sekelilingnya bekerlip iri. Spontan Ibrahim beranjak dari duduk suntuknya.
“Itukah Tuhanku?.” la tumpahkan hayalnya dengan mengikuti kemana bulan itu berlalu. Hingga awan pekat menyelimuti wajah anggunnya.
Sekali lagi Ibrahim berkata: “Aku tidak senang tuhan yang tenggelam.”
Dalam kesedihan la berkata: “Jika Tuhanku tidak memberiku petunjuk niscaya aku termasuk orang-orang yang tersesat.”
Fajar pagi membangunkan malam. Juga Ibrahim yang lelap dalam kebingungan. Ia mencari-cari asal semburat cahaya. Cahaya nan terang menyapu gelap. Hingga matanya menatap dengan takjub, Raja siang yang bertengger di tangga langit sebelah timur. Matahari pagi telah terbit.
“Itu Tuhanku, ia lebih besar.” gumamnya penuh kekaguman.
Sang surya terus menggelinding, terus ke barat. Hingga di tangga langit paling barat, sinarnya mulai kusam. Tubuhnya sedikit demi sedikit terbenam. Hingga akhirnya sempurna tertelan, dan gelap mulai menyergap.
Ibrahim tertunduk menggumam: “Duh Saudaraku! Sungguh aku terbebas dari apa-apa yang kalian sekutukan. Aku menghadapkan jasadku pada Dzat pencipta langit bumi dengan teguh. Dan aku bukanlah orang-orang yang menyekutukan-Nya.”
Demikianlah cerita yang sering kita dengar yang menggambarkan permulaan Nabi Ibrahim mencari tuhan. Cerita tersebut seolah menggambarkan Nabi Ibrahim kala itu masih awam, belum mengenal sama sekali siapa tuhannya.
Baca juga: Kisah Abu Lahab Mendapat Keringanan karena Bahagia atas Kelahiran Nabi
Kisah yang sering terjadi kesalahpahaman
Pemahaman demikian menurut Syekh Ahmad ibn Muhammad as-Shawi, dalam catatan pinggirnya terhadap Tafsir al-Jalalain, perlu diluruskan. Menurut beliau peristiwa tersebut terjadi setelah Nabi Ibrahim masuk usia balig dan mendapatkan wahyu dari Allah Swt.
Beliau menegaskan bahwa perkataan Nabi Ibrahim yang menganggap bintang, bulan dan matahari sebagai tuhannya adalah bentuk sindiran kepada keyakinan kaumnya yang masih menganut kepercayaan idolatri (penyembah patung dan berhala).
Nabi Ibrahim ingin menunjukkan kepada kaumnya yang sudah mengenal astronomi untuk berfikir secara jernih, apakah benda-benda yang mereka amati tersebut pantas dijadikan tuhan, demikian pula berhala-berhala yang selama ini kaumnya sembah.
Baca juga: Bilal bin Rabah dan Azan yang Membuat Madinah Menangis
Tanggapan Syaikh Shawi terhadap kisah tersebut
Dalam Hasyiyah as-Shawi beliau menjelaskan:
وَاخْتُلِفَ فِي وَقْتِ هَذَا الْقَوْلِ: هَلْ كَانَ قَبْلَ الْبُلُوغِ وَالرِّسَالَةِ أَوْ بَعْدَهُمَا,، وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ بَعْدَ الْبُلُوغِ وَإِيتَاءِ الرِّسَالَةِ, وَمَا وَقَعَ مِنْ إِبْرَاهِيمَ إِنَّمَا هُوَ مُجَارَاةٌ لِقَوْمِهِ وَاسْتِدْرَاجٌ لَهُمْ; لِأَجْلِ أَنْ يُعَرِّفَهُمْ جَهْلَهُمْ وَخَطَأَهُمْ فِي عِبَادَةِ غَيْرِ اللَّهِ,، وَلَيْسَ إِثْبَاتُهُ الرُّبُوبِيَّةَ لِهَذِهِ الْأَجْرَامِ عَلَى الْحَقِيقَةِ, حَاشَاهُ مِنْ ذَلِكَ; لِأَنَّ الْأَنْبِيَاءَ مَعْصُومُونَ مِنَ الْجَهْلِ قَبْلَ النُّبُوَّةِ وَبَعْدَهَا, لِأَنَّ تَوْحِيدَهُمْ بِالشُّهُودِ عَلَى طَبَقِ مَا جُبِلَتْ عَلَيْهِ أَرْوَاحُهُمْ مِنْ يَوْمِ
“Terjadi perbedaan pendapat mengenai waktu diucapkannya perkataan tersebut: apakah sebelum Nabi Ibrahim mencapai usia balig dan mendapat wahyu, atau sesudah keduanya. Pendapat yang benar adalah bahwa hal itu terjadi setelah beliau balig dan mendapat wahyu.”
“Adapun apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim hanyalah bentuk penyesuaian terhadap cara berpikir kaumnya serta strategi bertahap untuk mengajak mereka, agar beliau dapat memperlihatkan kepada mereka kebodohan dan kesalahan mereka dalam menyembah selain Allah.
Pernyataan beliau tentang ketuhanan benda-benda langit itu sama sekali bukan pengakuan yang sesungguhnya—Mahasuci beliau dari anggapan demikian. Sebab, para nabi terpelihara dari kebodohan, baik sebelum diangkat menjadi nabi maupun sesudahnya.
Hal itu karena tauhid mereka didasarkan pada penyaksian yang sesuai dengan fitrah ruh mereka sejak hari ketika Allah mengambil perjanjian, “Bukankah Aku ini Tuhanmu (QS. al-A‘rāf : 172).”
Dengan hujjah yang begitu kuat, mereka yang keras kepala tidak mau menerima argumentasi dari Nabi Ibrahim. Pada akhirnya kala Nabi Ibrahim sudah putus asa dengan kaumnya, beliau berkata:
“Duh Saudaraku! Sungguh aku terbebas dari apa-apa yang kalian sekutukan. Aku menghadapkan jasadku pada Dzat pencipta langit bumi dengan teguh. Dan aku bukanlah orang-orang yang menyekutukan-Nya.”
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
