21 views

Hujan-hujanan, Kenapa Tidak?

Sore ini langit Kediri tidak secerah biasanya, awan gelap terlihat bergelantungan di atas sana. Mungkin pertanda akan turun hujan, hujan yang tentu sudah diidamkan sejak beberapa waktu belakangan. Jika benar sore ini atau malam nanti turun hujan, alhamdulillah. Sebuah karunia Allah SWT yang patut disyukuri.

Di kalangan Nahdliyyin, setidaknya mungkin bagi yang mukim di pedesaan, tentu suatu ketika dahulu pernah mendengar cerita atau bahkan diajak berhujan-hujanan oleh orang tuanya. Atau bahkan ikut serta hujan-hujanan dengan pemuka agama atau kiai desanya. Ya, berhujan-hujanan, terlebih saat hujan pertama setelah sekian lama kemarau, adalah kegiatan yang sepatutnya kita lestarikan.

Harus diyakini bahwa semakin kesini ‘serangan’ yang dilakukan oleh golongan diluar ahlu sunnah wal jamaah semakin gencar. Dengan berbagai cara, mereka terus memojokkan/ menyalahkan segala aktivitas yang dilakukan ahlu sunnah. Dari ritual yang sifat ibadahnya dimaklumi orang banyak, hingga aktivitas sederhana yang sejatinya penuh makna warisan para pendahulu. Dan menurut penulis, hujan-hujanan masuk dalam kategori ini.

Mendapatkan kesunahan berhujan-hujanan disinyalir oleh sebagian golongan adalah hal yang mengada-ada. Padahal nyatanya, dalam banyak redaksi dikatakan bahwa Nabi dan para sahabat melakukannya.

Imam Nawawi dalam Majmu-nya mengatakan, disunnahkan hujan-hujanan ketika pertama kali turun hujan dengan berlandaskan hadis yang diriwayatkan Anas: “Hujan turun membasahi kami (para Sahabat) dan Rasulullah SAW. Lantas Rasululullah SAW membuka bajunya sehingga hujan mengguyur Beliau. Kami bertanya, ‘wahai Rasul, untuk apa engkau berbuat seperti ini?’ Rasulullah menjawab, ‘karena sesungguhnya hujan ini baru saja Allah ciptakan’.” Hadis ini, bagi sebagian golongan dipahami bukan dalil disunnahkannya hujan-hujanan.

Dalam Ma’rifatussunan Wal Atsar terdapat keterangan jika Abu Said mengabarkan, beliau diceritakan oleh Abu Abbas bahwa menurut cerita dari Robi’, Imam Syafii pernah berkata, “Telah sampai kabar kepada Kami bahwa Nabi hujan-hujanan saat pertama kali turun hujan hingga air hujan mengenai badannya.”

Selain itu, para ilmuwan sendiri menjelaskan air hujan adalah tetesan air hasil penyulingan yang dibuat sedemikian rupa, hingga menjadi pembersih dan pembasmi kotoran terbaik yang mampu mensterilkan bumi yang tercemar. Proses jatuhnya air hujan pun cukup rumit. Bahkan, jika dibandingkan dengan penelitian ilmuwan mengenai air jernih, air yang paling baik untuk membersihkan adalah dari air hujan. Meskipun toh saat ini akibat pencemaran lingkungan, sebelum jatuh ke bumi air hujan telah mengisap material dan gas sulfur serta zat tambang lainnya.

Begitulah kiranya sekilas tentang air hujan dan hujan-hujanan. Hemat penulis, mari kita hujan-hujanan jika kondisi badan memungkinkan. Karena disamping kita bisa mendapatkan kesunnahan, air hujan juga menyehatkan. Dan meski begitu, ada baiknya kalau durasi hujan-hujanannya tidak terlalu lama. Setelah hujan-hujanan segeralah mandi, berwudhu lalu melakukan salat sunnah mutlak dan berdoa sepenuh hati. Karena saat hujan adalah satu diantara beberapa waktu yang mustajab untuk berdoa dan tentunya sayang untuk kita lewatkan. Wallahu a’lam. /-

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.