Maulid Disusupi Maksiat, Apa Kata Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari?

Belakangan ini, kegiatan maulid, shalawatan, dan berbagai majelis keagamaan sejenis tak luput dari sorotan. Tidak sedikit pihak yang bahkan menganggapnya sebagai kegiatan yang buruk atau bid’ah lantaran dalam pelaksanaannya ditemukan sejumlah praktik yang bertentangan dengan syariat. Salah satunya adalah ikhtilath, yakni bercampurnya laki-laki dan perempuan tanpa adanya penghalang.

Baca juga: Diundang Walimah Mantan, Wajibkah Hadir?

Menggeneralisasi sebagian oknum

Fenomena tersebut kemudian melahirkan persoalan lain. Karena kegiatan maulidan dan sholawatan identik dengan tradisi keagamaan yang banyak dijalankan oleh kalangan Nahdlatul Ulama (NU), praktik-praktik menyimpang yang dilakukan sebagian oknum terkadang digeneralisasi kepada tradisi itu sendiri. Akibatnya, muncul anggapan bahwa maulid, sholawatan, dan kegiatan serupa merupakan sesuatu yang patut ditinggalkan.

Baca juga: Penulisan Insyaallah Memakai “Sy” atau “Sh”, Mana yang Benar?

Pernyataan tegas dari Pendiri NU tentang maulid

Jauh sebelum perdebatan semacam ini berkembang, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, telah memberikan peringatan tegas mengenai persoalan tersebut. Dalam kitab at-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna‘ul Maulid bil Munkarat, beliau secara khusus membahas pelaksanaan maulid yang disertai berbagai kemungkaran.

فَاعْلَمْ أَنَّ عَمَلَ الْمَوْلِدِ اِذَا أَدَّى اِلىَ مَعْصِيَةٍ رَاجِحَةٍ مِثْلَ الْمُنْكَرَاتِ وَجَبَ تَرْكُهُ وَحَرُمَ فِعْلُهُ

Artinya, “Ketahuilah! Sungguh setiap perayaan maulid jika menjadi penyebab terjadinya maksiat yang nyata, seperti terjadinya kemungkaran, maka wajib untuk meninggalkannya dan haram mengadakannya.” (KH Hasyim Asyi’ari, at-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’ul Maulid bil Munkarat, [Tebuireng, Maktabah Turats al-Islami: tt], halaman 19.)

Baca juga: Main Hakim Sendiri, Emang Boleh?

Kafir, apabila ada tujuan menghina Nabi

Selain itu, beliau bahkan tidak segan-segan menghukumi kafir apabila perayaan maulid diisi dengan kemaksiatan atas dasar penghinaan kepada baginda Nabi Muhammad saw. Hal itu beliau sampaikan dalam keterangan lanjutan dari sebelumnya.

عَمَلُ الْمَوْلِدِ مَعَ فِعْلِ الْمُنْكَرَاتِ سُوءُ أَدَبٍ، وَنَوْعُ اسْتِهَانَةٍ وَإِيذَاءٍ بِرَسُولِ اللهِ، وَأَنَّ الَّذِينَ يَعْمَلُونَهُ وَقَعُوا فِي ذَنْبٍ عَظِيمٍ قَرِيبٍ مِنَ الْكُفْرِ، وَيُخْشَى عَلَيْهِمْ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ، وَلَا يُنَجِّيهِمْ مِنْهُ إِلَّا بِالتَّوْبَةِ أَوْ عَفْوِ اللهِ تَعَالَى. فَلَوْ قَصَدُوا بِذَلِكَ الِاسْتِخْفَافَ وَالِاسْتِهْزَاءَ بِرَسُولِ اللهِ، فَلَا شَكَّ فِي كُفْرِهِمْ.

“Melaksanakan perayaan Maulid disertai dengan melakukan kemungkaran merupakan bentuk buruk adab, serta termasuk bentuk meremehkan dan menyakiti Rasulullah Saw. Orang-orang yang melaksanakannya (dengan kemungkaran tersebut) telah terjerumus ke dalam dosa besar yang dekat dengan kekufuran. Dikhawatirkan mereka mengalami su’ul khatimah (akhir kehidupan yang buruk), dan tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka darinya kecuali dengan bertobat atau memperoleh ampunan Allah Swt.

Apabila dengan perbuatan tersebut mereka bermaksud meremehkan dan mengolok-olok Rasulullah Saw., maka tidak diragukan lagi bahwa mereka telah kafir.”

Baca juga: Nafkah Hasil Judi dan Korupsi, Bolehkah Menerimanya?

Merayakan maulid tanpa unsur kemaksiatan

Adapun jika perayaan maulid tersebut tidak ada unsur kemaksiatan, maka itu boleh-boleh saja. Syaikh Abu Bakar Syatha menukil pendapatnya Imam as-Suyuthi tatkala beliau ditanya mengenai hukum merayakan maulid, beliau menjawab:

عِنْدِي أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ، الَّذِي هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ، وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ، وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنَ الْآيَاتِ، ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سُمَاطٌ يَأْكُلُونَهُ، وَيَنْصَرِفُونَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَلِكَ، مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي عَلَيْهَا صَاحِبُهَا، لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ قَدْرِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيفِ.

“Menurut saya, bentuk dasar maulid berupa berkumpul, membaca Al-Qur’an, menyampaikan riwayat tentang Nabi Saw. dan kelahiran beliau, kemudian makan bersama dan bubar tanpa tambahan lain, termasuk bid’ah hasanah yang pelakunya mendapat pahala. Sebab, di dalamnya terdapat pengagungan terhadap Nabi Saw. serta ungkapan kegembiraan atas kelahiran beliau.” (Abū Bakr (bin Muḥammad Syaṭṭā ad-Dimyāṭī, I‘ānat ath-, jil. 3 [Beirut: Dār al-Fikr, cet. I, 1418 H/1997 M], hlm. 413.)

Baca juga: Ternyata Ini Bahaya Ngobrol Saat Adzan Berkumandang

Penutup

Dengan demikian, persoalan maulid bukan semata-mata tentang boleh atau tidaknya mengadakan perayaan, tetapi juga tentang bagaimana perayaan tersebut dilaksanakan. Selama tidak disertai kemaksiatan dan tetap dalam koridor syariat, maulid dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan kecintaan dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. Sebaliknya, kemungkaran yang menyertainya tetap harus ditinggalkan dan tidak dibenarkan atas nama maulid.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses