Tag Archives: Bangkalan

Hikmah Taat pada Guru

Hikmah Taat pada Guru | Taat pada guru merupakan kewajiban bagi seorang murid. Dalam sebuah hikayat, Syaikh Kholil Bangkalan–yang termasuk guru besar pada zamannya–banyak sekali menerima tamu di kediaman beliau.

Di suatu malam, hujan turun deras sekali. Saat itu, orang tua dengan kondisi lumpuh, berjalan merayap di pelataran. Ia bertujuan ingin menemui Syaikh Kholil.

Kiai Kholil pun melihatnya, lalu berkata pada para santri, “Siapa yang menghendaki untuk menggendongnya?” Seorang santri lalu menjawab, “Aku bersedia.”

Baca juga: Pentingnya Menjaga Persatuan Bangsa

Ketika santri itu datang membawa orang tua tak dikenal tadi, Kiai Kholil menyambutnya dan memuliakan orang tua tersebut. Setelah sekian lama berbincang. Kiai Kholil lalu bertanya pada para santri, “Siapa yang menghendaki mengantar orang tua ini pulang?”, Seorang santri yang tadi menggendong orang tua kepada Kiai Kholil pun menyanggupinya kembali.

Ketika Santri tersebut berangkat, Kiai Kholil lantas berkata kepada para santri, “Bersaksilah, bahwa ilmuku telah dibawa oleh Santri tadi.”

Setelah kejadian itu, diketahui bahwa ternyata orang tua yang lumpuh tersebut adalah Nabi Khidir As. Lalu Santri yang membawa orang tua tersebut kembali, tidak lain adalah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, yang menjadi Rais Akbar Nahdlatul Ulama.

Hikmah Taat pada Guru

Tonton juga: Nasionalisme Religius | Ensiklopedia Buku Lirboyo

Kisah Dua Karung Beras Ditukar Daun Mengkudu

“Tirakate Mbah Abdul Karim luar biasa. Kulo, kiai Kafabih (KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus) niku mboten wonten nopo-nopone. Mboten saget tirakat kados Mbah Abdul Karim,” kenang KH. M. Anwar Manshur dalam peringatan Haul KH. Abdul Karim, Kamis (15/06).

Salah satu yang beliau kisahkan, adalah bagaimana simbah Abdul Karim menyambung hidup semasa mesantren di Bangkalan. Setelah nderep (mengumpulkan beras) dari berbagai tempat, beliau berhasil mengumpulkan dua karung beras. Beliau sudah ditunggu temannya di satu tempat sebelum berangkat ke pesantren.

Kebetulan, ketika beliau sampai di pesantren, Kiai Kholil keluar rumah dan melihat seorang santrinya membawa karung penuh beras. “Peneran, iki pitikku luwe.” Beras dua karung hasil upaya keras beliau ditebar seketika itu. Entah, tebaran beras itu ludes bersih dalam beberapa saat saja. “Iku berasmu tak ijoli godong bentis (mengkudu),” perintah Kiai Kholil. Simbah Abdul Karim hanya diam. Di hari-hari kemudian perut beliau hanya berisikan daun mengkudu. “Mboten kados santri-santri sakniki. Mangane enak-enak,” sambung Kiai Anwar.

Di sela-sela kisah ini, beliau berpesan kepada hadirin, “Masio gak 50 persen, sepuluh-sepuluh persen ibadahe Mbah Abdul Karim ayo dicontoh. Dilakoni. (Meski tidak bisa 50 persen, paling tidak sepuluh persen ibadah Mbah Abdul Karim mari kita contoh, kita lakukan).”

Untuk simbah KH. Abdul Karim, Al-Fatihah.

Tertawa dalam Shalat

Ada kejadian menarik saat Kiai Kholil Bangkalan masih menjadi santri di Pesantren Langitan Tuban. Seperti biasanya Kholil muda selalu berjamaah, yang merupakan keharusan para santri. Suatu ketika di tengah shalat Isya tiba-tiba Kholil tertawa terbahak-bahak. Karuan saja, hal ini membuat santri lain marah. Demikian juga dengan Kiai Muhammad Noer yang menjadi imam saat itu. Seusai shalat berjamaah, Kholil dipanggil ke ndalem kiai untuk diinterogasi.

Dengan berkerut kening kiai bertanya, “Kholil, kenapa waktu shalat tadi kamu tertawa terbahak-bahak. Lupakah kamu bahwa hal itu mengganggu kekhusyukan shalat orang lain. Dan shalatmu tidak sah.” ucap Kiai Noer sambil menatap Kholil. “Maaf kiai, waktu shalat tadi saya tidak dapat menahan tawa. Saya melihat kiai sedang mengaduk-aduk nasi di bakul (tempat nasi). Karena itu saya tertawa. Salahkah yang saya lihat itu kiai?” jawab Kholil muda dengan tenang, mantap dan sangat sopan.

Kiai Noer terkejut, Kholil benar. Santri baru itu dapat membaca apa yang terlintas di benaknya. Kiai Noer duduk dengan tenang sambil menarik nafas. Sementara matanya menerawang lurus ke depan, lalu serta merta berbicara kepada Kholil. “Kau benar anakku. Saat mengimami shalat tadi perut saya memang sudah sangat lapar. Yang terbayang dalam fikiran saya memang hanya nasi.” ucap Kiai Noer secara jujur.

Maka sejak kejadian itu kelebihan Kholil menjadi buah bibir. Tidak saja di Pesantren Langitan, tetapi juga di sekitarnya.

* * * * *

Kiai Kholil muda tidak sedang meremehkan gurunya. Beliau sangat ta’dzim dengan semua gurunya. Beliau hanya perantara kehendak Allah. Di balik peristiwa itu ada suatu hikmah yang dalam. Allah bermaksud menyempurnakan iman sang guru.

*Dikutip dari buku biografi Kiai Kholil, Surat Kepada Anjing Hitam.