Tag Archives: maulid nabi

MENTIRAKATI KEMASLAHATAN UMAT

Yang paling hebat dari Indonesia adalah para “paku-paku” yang mampu menyatukan, menguatkan dan menyelaraskan berbagai lapisan manusia yang beragam jenisnya itu diatas pulau-pulau yang di pisahkan lautan yang seolah tak berujung ini. “paku-paku” itulah yang menjadi barometer baik atau buruknya suatu bangsa (ulama & umara).

Membaca ulama umara dalam sejarah

Dengan kecakapan Ulama kita mulai dari ulama mushalla, ulama sosial media sampai majlis ulama yang ditetapkan negara yang multitalen dalam membaca makna dan menentukan fatwa-fatwa, mengakulturasikan agama dengan budaya, bahkan mampu membaca fenomena dari perkembangan zaman milenial ini secara faktual dan actual.

Tidaklah sulit membumikan berbagai syariat agama Rahmatan lil ‘alamin ini di Indonesia, terlepas dari beragam “jenis” ulama di Indonesia yang tak jarang meramaikan TV, kadang membuat naik pitam, kadang jenaka membuat tawa tak ada hentinya, dan selalu bisa menyejukan hati-, kebhinekaan mereka dapat dinikmati hadirnya oleh berbagai “jenis” umat di negeri ini.

Tak berhenti disana, ulama kita pun sering mendahului para akademisi produk pendidikan barat, terlebih dalam melakukan pendekatan dan menentukan sikap yang tepat untuk menghadapi keadaan umat yang serba hirup-pikuk ini, seperti bentuk penjajahan karakter melalui moderenisasi social media, dekadensi moral & spiritual melalui gaya hidup hedonis yang individualis dan materialis, pun ancaman perpecahan kebhinekaan melalui penyebaran hoax, fitnah, fanatik golongan dan hal-hal primitif lainnya.

Jika barometer suksenya ulama adalah berhasil memerankan social control, katalisator, dan mobilisator maka berhaklah beliau-beliau mendapat nilai Shahih, dan kesuksesan itu tidak terlepas dari peran besar pemerintah dalam pemberdayaan ulama kita.

Dalam sejarah Bangsa Indonesia, tepatnya pada awal Oktober 1945, tak lama setelah perjuangan seluruh bangsa indonesia menemukan muaranya saat kemerdekaan diproklamasikan, seluruh ulama Indonesia mengadakan Musyawarah Akbar di Surabaya untuk menentukan sikap atas kemerdekaan Indonesia.

pertemuan yang dipimpin KH.Hasyim Asy’ari ini menghasilkan dua butir Fatwa : 1)kemerdekaan Indonesia wajib dipertahankan, 2) Pemerintahan Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintaan yang sah, wajib dibela dan diselamatkan meskipun meminta pengorbanan harta dan jiwa.

Fatwa ini menancapkan energi persatuan Ulama dan Umara dengan sangat dahsyat kepada tiap-tiap jantung umat, agar kita semua bersatu, dan jangan ada pemerintahan lain atau negara lain di tanah ini. Sekaligus memandatkan urusan pemerintaan (Umara) kepada kepala negara saat itu (Ir.Soekarno) beserta seluruh jajarannya.

Jika kita membaca fakta sejarah akan kita temukan di Negara yang menjadi “lumbung ulama” seperti Afganistan, Mesir, Irak, Iran, Yaman, Suriah dan kebanyakan negara timur lainya, banyak pemerintahan yang kontra terhadap ulama (jika sungkan menyebut ulama nasionalis kalah oleh pemerintah yang bukan ulama atau karena ulama yang tidak nasionalis) sehingga banyak terjadi perpecahan, perang antar-golongan, dan senjangnya kesejahteraan umat yang tidak terselesaikan.

Seperti yang dialami Imam Ibnu Hambal dan Imam Syafi’i di akhir abad 7M oleh khalifah Al-Mu’tashim, Al-Makmun, dan Al-Wasith yang memberi hukuman penjara, pengusiran, rajam sampai pembunuhan terhadap ulama yang enggan mengakui al-Quran itu Hadist. Atau pada abad 19 M kemarin ada Muammar Kadafi, Sadam Husain sampai Mustafa Kamal Atatturk Yang mengesampingkan islam, melarang perempuan bercadar dan menggemakan adzan melalui spiker, menutup halaqah tarekat sampai membubarkan madrasah dan majlis ta’lim.

Fakta itu sangat autentik (sharih) menjadi dalil bahwa sinergi ulama dan umara dalam membina umat adalah keniscayaan yang wajib hukumnya jika menginginkan tatanan Negara yang Maslahat.

Sebuah peran, tantangan dan pantangan Dalam (Qs.Al-Nisa ayat 59) perintah untuk mentaati Ulil Amr (selama tidak memerintah maksiat dan perkara yang diharamkan syariat) berada setelah perintah mentaati Allah dan RasulNya.  Dalam Tafsirnya, Ibnu Abbas menafsiri Ulil amr dengan Ulama, Al-Thabari menafsiri Ulil Amr dengan para Ahli Fiqih dan Ulama ahli agama. dalam kitab Fathul Qodir, Ulil Amr adalah setiap orang yang menguasai suatu wilayah yang berlaku hukum syariat didalamnya maka termasuk pula Presiden, Gubernur, Walikota, Pak Rt dan Pak Rw.Dalam Tafsir Ibnu Mundzir, Ulil Amr diartikan sebagai Umara, dari sini tidak perlu ada perdebatan lagi siapakah Ulil Amr itu (mereka adalah ulama dan umara).

Dua hal positif dari pemisahan itu adalah; 1) dalam memproduksi fatwa para ulama tidak terkontaminasi oleh politik pemerintah. 2) posisi ulama tidak tergantung nasib lembaga pemerintahan, artinya saat pemerintahan jatuh maka posisi ulama tidak ikut jatuh.

Dalam praktiknya umara pun jangan berhenti hanya sebagai fasilitator dalam memenuhi semua kebutuhan perangkat ulama dalam membumikan “rahmatan lil ‘alamin“, begitupun ulama tak boleh berhenti hanya sebagai katalisator dan mobilisator yang bergantung pada fasilitas umara. Andai demikian, mungkin saja umara memfasilitasi ulama hanya pada musim-musim pemilihan (kalau tidak sekedar mencari Citra), bisa juga ulama ogah-ogahan mendidik umat yang macam-macam “jenisnya” ini, bahkan saling nebeng hanya agar ulama menjadi tenar dan umara dipandang benar.

Maka dalam sinergi ini dibutuhkan adanya kedewasaan, kesadaran dan kerja sama yang benar-benar diikhtiari oleh ulama dan umara.  Dan dalam perjalananya hubungan ulama dan umara janganlah sekedar shahib (relasi), apalagi musuh (‘adduw) namun haruslah sampai menjadi habib (senang ketika yang satu senang, susah ketika yang satu susah, merasuk kecintaanya sampai kepada setiap bagian yang ada pada yang lain -kecuali keburukannya- dan rela memberikan yang dimilikinya untuk yang lain). sehingga dapat saling menguatkan saat yang satu mulai melemah, saling menjaga saat yang lain diserang dan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran untuk mencapai tujuan utama yaitu kemaslahatan yang universal (bagi seluruh rakyat indonesia) dan unlimited (kemaslahatan sampai di akhirat sana).

Yang sering terlupa dalam mentirakati kemaslahatan umat Setelah merdeka, mentirakati kemaslahatan umat lebih tepat dimaknai “menjaga”. Namun dalam konsep ‘sinergi ulama dan umara’ yang keren ini, ada komponen yang sering terlupa -jika tidak ingin menyebut sengaja melupakan diri sendiri sebab kebanyakan mengingat dan memikirkan aib-aib yang lain- yaitu Umat itu sendiri.

Bukankah allah tidak akan merubah suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang merubah dirinya? maka sinergi bukan hanya kewajiban ulama dan umara namun juga kewajiban umat, khususnya yang tidak merasakan beratnya (fitnah) menjadi umara dan sulitnya (sabar) menjadi ulama.

Sebagai umat, marilah menjalankan kewajiban umat, taat kepada Ulil Amri-nya, mendukung dan mengambil bagian dari berbagai pembangunan bangsa.

Mulai dari memperbaiki diri sendiri saja, seperti belajar dengan sungguh-sungguh, bukankan itu sama dengan meringankan beban satu orang dari tanggungan mereka untuk mencerdaskan bangsa, tanpa meletihkan pikiran pada bagaimana cara terbaik mengadu domba, atau mengabiskan kuota untuk menyebar hoax dan sensasi semata, yang pada akhirnya hanya menambah pusing ulama dan umara.

Jangan mengurusi urusan yang lain atau (kalau di pegang oleh yang bukan ahlinya) tunggulah kehancurannya! maka mari sambut setiap silaturrahim umara ke ulama-pun sebaliknya- dengan pandangan positif (husnul dzan) tanpa berujar “halaah politiik!” Semoga saja dari sana terjalin sinergi dan menghasilkan (tajdiidul ghirroh likhidmatil ummah) semangat yang ter-refresh untuk kembali mentirakati kemaslahatan ummat. Untuk kemaslahahtan kita.

 

 

 

______________________________________________

Oleh : M.Kurnia Mardhika

Asal : Bandung

Kamar : HY06   PonPes Haji Ya’kub

Kelas : 1 Tsn bagian A

 

Sebagai Juara Pertama Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putra

 

 

Berkah Merayakan Maulid Nabi

Syaikh Abdullah bin ‘Isa Al-Anshari berkata:

Tetanggaku adalah seorang wanita yang sholihah. Dia mempunyai seorang anak lelaki yang sholih. Wanita yang sholihah tersebut tidak memiliki harta selain satu dinar hasil pekerjaan tenunnya.

Saat wanita tersebut meninggal dunia, anaknya yang sholih tersebut berkata kepada dirinya, “Uang satu dinar ini adalah hasil jerih payah ibuku. Demi Allah, aku tidak akan membelanjakannya kecuali untuk perkara akhirat”.

Suatu hari, pemuda tersebut keluar rumah karena suatu keperluan. Dia melewati satu perkumpulan yang sedang membaca Al-Qur’an dan mengadakan Maulid Nabi Saw pada bulan Rabi`ul Awwal. Kemudian dia pun duduk bersama mereka dan mendengarkan bacaan Maulid tersebut.

Ketika malam tiba, pemuda tersebut bermimpi seolah-olah kiamat telah tiba.  Ada suara yang memanggil, “Di manakah si fulan anak si fulan“. Disebutlah nama-nama orang yang berada dalam satu rombongan, kemudian mereka masuk ke surga. Pemuda tersebut ikut bersama mereka.

Sesungguhnya Allah telah memberi sebuah istana didalam surga untuk masing-masing dari kalian“, suara itu terdengar kembali.

Pemuda itu pun masuk ke dalam sebuah istana. Baginya, dia belum pernah melihat istana yang menyamai istana tersebut dari segi estetikanya. Istana tersebut dipenuhi bidadari dan di setiap pintunya dijaga oleh beberapa pelayan. Kemudian pemuda tersebut melihat bahwa ada istana lain yang lebih indah daripada istana yang ia masuki. Lalu dia pun ingin memasukinya. Ketika terbesit di hatinya untuk memasuki istana tersebut, seorang pelayan berkata kepadanya, “Ini bukanlah untukmu, sesungguhnya ini diperuntukkan bagi orang yang mengadakan Maulid Rasulullah Saw“.

Keesokan harinya, pemuda tersebut menggunakan satu dinar yang pernah ditinggalkan ibunya tersebut untuk mengadakan Maulid Nabi Saw karena sangat gembira dengan mimpinya. Diapun mengumpulkan para fakir miskin untuk berzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an, dan membaca Maulid Nabi Saw. Dia juga menceritakan perihal mimpinya tersebut kepada mereka, dan mereka merasa gembira mendengar ceritanya itu. Dan pemuda tersebut bernadzar untuk tidak pernah meninggalkan perayaan Maulid Nabi Saw selama hidupnya.

Setelah itu, pemuda tersebut tidur. Di dalam tidurnya, dia bermimpi bertemu dengan ibunya. Ibunya berada dalam keadaan yang sangat baik, berhias dengan segala macam perhiasan surga dan wangi dengan bau surga. Pemuda tersebut mencium tangan ibunya dan ibunya mengecup kepalanya seraya berkata, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai anakku, malaikat telah datang kepadaku membawa segala perhiasan ini“.

Dari manakah ibu memperoleh kemuliaan ini?“, tanya pemuda tersebut kepada ibunya.

Karena engkau telah menggunakan satu dinar yang kau warisi dariku untuk mengadakan Maulid Junjungan orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian hari. Dan inilah balasan bagi orang yang mengagungkan Nabinya dan merayakan Maulidnya“, jawab sang ibu.

__________

Disarikan dan diterjemahkan dari kitab Targhib Al-Musytaqin, salah satu karya Syaikh Nawawi Al-Bantani.

 

Begitu Spesialnya Maulid Nabi saw. [ bagian :2]

Dalam mimpinya ia melihat bahwa hari kiamat sudah terjadi. Ia bersama milyaran manusia yang lain, berkumpul di tempat pemberhentian (mauqif), guna menghisab amal-amal masing-masing. Orang-orang yang dalam hidupnya di dunia banyak berbuat dosa masuk neraka, yang banyak baiknya mendapatkan pengampunan.

Hari yang begitu memilukan semua orang, termasuk dirinya. Di hari itu hanya Ia yang Maha Kuasa, semua manusia akan di hadapkan dengan amalnya masing-masing dengan adil, tanpa ada kecurangan dalam menimbang, sedikitpun.

Tibalah pada giliran si anak untuk di hisab amal perbuatannya. Keringat bak aliran sungai bahkan lebih deras mengalir. Ketika di putuskan bahwa amal buruknya lebih banyak, dan hendak dibawa ke neraka, tiba-tiba ada suara yang menghentikan “ tunggu, masukkan ia ke surga bersama orang-tuanya, sebab ia sudah berlaku sama dengan leluhurnya”

Sebagaimana firman Allah, bahwa Ia akan  mengangkat derajat anak cucu orang mukmin dan mengumpulkannya kelak di surga, jika anak cucunya masih sejalan dengan orang tuanya.

Orang-oranng yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21)

Setelah itu, masih dalam mimpinya,si anak dengan diiringi malaikat hendak menuju surga. Begitu masuk di surga pertama, ia terkagum-kagum dengan suguhan pemandangan dan kenikmatan-kenikmatan di dalamnya,  ia terus berjalan tidak terasa , saking nikmatnya apa-apa yang masuk di kelopak matanya. Hinggga ia sampai di pintu surga yang kedua, ia ingin memasukinya, sambil bergumam dalam hati “ jikalau kenikmatan yang ada di surga pertama saja begitu mengagumkannya, apalagi di surga yang kedua” tanpa pikir panjang ia memasuki surga kedua.

Ternyata benar, kenikmatan di surga ini berlipat-lipat dibanding sebelumnya. Ia terus berjalan sambil menikmati pemandangannya.

Begitu seterusnya, kenikmatan demi kenikmatan yang senantiasa berlipat dari sebelumnya ia rasakan sambil terus berjalan tanpa terasa, sampai akhirnya ia berdiri di pintu surga kedelapan. Ia masih juga belum puas dengan keelokan dan kelezatan surga-surga sebelumnya, ia ingin masuk lagi di sura kedelapan ini. sebelum kakinya menjejakkan untuk melangkah, ia di hadang malaikat penjaga sambil berkata menegur “berhenti, surga ini hanya untuk orang-orang yang merayakan maulid Nabi saw.”

Belum juga si anak menjawab, tiba-tiba ada suara tanpa rupa ”biarkan ia masuk bersama orang tuanya disurga ini”

Dengan girang ia memasuki surga khusus ini, sesampainya di dalam, ia berjumpa dengan perempuan-perempuan yang cantik menawan, hanya seorang yang ia kenali rupanya, yakni ibunya. Perempuan-perempuan lainnya sama sekali belum pernah ia jumpai.

Di sisi lain, ia melihat seseorang yang wajahnya bagai purnama bersinar penuh wibawa, ia tahu bahwa orang itu adalah baginda nabi, beliau di iringi para sahabatnya di belakang. ternyata ada satu orang dibelakang kanjeng Nabi yang juga ikut mengiringi yang membuat si anak ini tergerak untuk memanggilnya, adalah ayahnya, setelah sang ayah tahu ada anaknya memanggil-manggil, ia menghampiri dan menanyakan kondisinya, setelah si anak menjawab, ia berbalik bertanya perihal perempuan-perempuan yang di awal masuk tadi ia temui, ayahnyapun menjawab, bahwa meraka adalah istri-istri nabi, Sayyidah Khadijah, ‘Aisyah, Asiah istri firaun, Fathimah putri Rasul dan Wali-wali perempuan lainnya.

Anaknya kembali bertanya lagi, tentang rahasia ayahnya bisa di surga khusus ini, ayahnya menjawab bahwa ia bisa sampai di sini berkat usahanya menyisihkan penghasilannya guna ikut andil merayakan maulid Nabi setiap tahun “ seperti yang engkau ketahui “ katanya.

Sampai disini, si anak tadi terbangun dari mimpi dahsyatnya itu. Di barengi dengan keringat bercucur sebab perasaannya campur aduk, senang, terharu dan juga takut.

Setelah itu, si anak dengan tekad bulat terinspirasi akan menjual semua sisa-sisa harta peninggalan orang tuanya untuk ia gunakan merayakan maulid nabi. Setelah semua terjual, ia memenuhi tekadnya tadi, ia sedekahkan semua hasil dari penjualan tanah, rumah dan perkakas-perkakasnya untuk acara muludan.

Untuk kehidupan sehari-harinya, untuk tempat berteduh dan tidurnya, ia bertempat tinggal di sebuah masjid, hingga 30 tahun kemudian ia masih dalam kondisi seperti ini, dan setiap tahunnya ia selalu menghadiri majelis-majelis perayaan maulid nabi.

Semoga kita bisa menirukan semangat kedua orang tadi dalam merayakan maulid.

selamat merayakan maulid Nabi

semoga kita dapat syafatnya kelak

Sholluu alannabii muhammad …!

-Kisah nyata, dengan banyak penambahan sana-sini.

-Di kutip dari sebuah kitab karangan ulama konteporer awal abad 20.

Sungguh Indah Menjadi Kekasih Rasulullah

Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang jarang membaca shalawat kepada Rasulullah saw. Pada suatu malam ia bermimpi melihat Rasulullah. Anehnya, sang Nabi tidak mau menoleh kepadanya. Dengan raut heran dia beranikan diri untuk bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau marah kepadaku?”

 “Tidak.”

Lelaki itu masih menyimpan rasa heran. Kemasygulannya belum terjawab.

 “Lalu sebab apakah engkau tidak memandang kepadaku?”

Lelaki itu menaburkan heran dan masygul di tiap kata-katanya. Ia tahan tarikan nafasnya beberapa detik. Menunggu jawab dari sang kekasih.

“Karena aku tidak mengenalmu.”

Jrusss. Perkataan itu menikam tajam. Seketika hati lelaki itu remuk redam. Jawaban Rasulullah membuat tumpukan rasa rindu lebur, menjadi debu-debu penyesalan. Bagai kekasih yang dicampakkan.

“Bagaimana engkau tidak mengenaliku, sedang aku adalah salah satu dari umatmu?”

Hatinya tak terima. Ia ingin dicintai kekasihnya. Bukan dibenci semena-mena.

“Bukankah engkau lebih mengenali umatmu dibanding seorang ibu mengenali anaknya?”

Sosok mulia yang ia cintai itu bukanlah membencinya. Ia bukanlah seorang pembenci. Kepada musuh-musuhnya sekalipun, ia tak pernah sedikitpun menanam kebencian. Ia tak punya cukup alasan untuk membenci makhluk-makhluk tuhan, apalagi pada umatnya yang terkemudian.

“Mereka benar, tetapi engkau tidak pernah mengingat diriku.”

Tak pernah mengingat dirimu? Wahai Rasul, bukankah shalatku, puasaku, zakatku, adalah tanda bahwa aku mencintaimu?. Hati lelaki itu dipenuhi keheranan yang memuncak.

“Aku mengenal umatku yang mengingat diriku dalam hari-hari mereka.”

“Kau tahu bagaimana cara mengingatku? Aku diingat oleh umat dengan bacaan shalawat mereka kepadaku. Semakin sering mereka bershalawat padaku, semakin lekat nama mereka hinggap dalam ingatanku.”

Sedetik kemudian, bangunlah laki-laki itu dari mimpi pertemuan itu. Sontak ia bertekad, akan mengingat Rasulullah sepanjang hayat. Sejak hari itu, ia mewajibkan bagi dirinya sendiri untuk bershalawat kepada Rasulullah seratus kali setiap hari.

Waktu terus berlalu dengan janji yang terus ia pelihara, terus ia laksanakan demi rasa cinta. Hingga pada suatu mimpi, ia bertemu Rasulullah saw kembali.

Wahai Rasul, kini aku datang padamu dengan segunung shalawat. Rasa cintaku sudah kuungkap dengan cara yang kau inginkan waktu itu. Akankah kini kau mengenalku? Atau harus ribuan hari lagi kulalui dengan sesaknya tanaman-tanaman rindu?

Sang kekasih itu tersenyum. Melihatnya dengan wajah ranum, seranum delima kala matang merona.

“Sekarang aku mengenalmu.”

Oh, bahagia tiada terkira. Penantian panjang itu berbuah suka. Derita kerinduan meronta-ronta itu musnah, terhapus kata-kata indah nan mesra, aku dikenalnya.

 “Dan akan memberi syafa’at kepadamu.”

Maka nikmat mana yang setingkat dengan perkenan Nabi untuk mengenal umatnya? Dengan janji syafaatnya kelak, di hari penuh penantian dan sengsara? Maka mari perbanyak membaca shalawat di tiap hari-hari kita. Semoga kita dikenal oleh Rasulullah saw. sebagai umat tercintanya.

 

*Disarikan dari beberapa kisah yang ditulis Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali.

Begitu Spesialnya Maulid Nabi saw. [ bagian :1]

Perayaan maulid Nabi adalah bentuk ucapan syukur kita kepada baginda Nabi saw. Sebab dengan hadirnya beliau di alam ini, berarti di mulainya lagi babak baru dari peradaban manusia, peradaban yang lebih beradab dari yang sebelumnya kelakuan manusia dan hewan tak jauh beda.

Terutama di abad milenial ini, zaman yang semakin jauh dari sumber terjernih penuntunnya.

Beliau hadir membawa misi teramat besar bagi umat manusia seluruhnya, yakni menyebarkan akhlak mulia, sudah selayaknya semua itu kita syukuri, sebagaimana perintah Allah “bersyukurlah kalian semua kepadaku dan jangan mengkufuriku”

Salah satu cara kita bersyukur yakni dengan merayakan kelahiran beliau.

Ada sebuah cerita yang mengagumkan mengenai perayaan maulid Nabi saw. cerita yang baru saja terjadi, sekitar awal abad 20 ini yakni kisah seorang ayah yang bekeinginan kuat dan anaknya.

Sang ayah adalah kepala keluarga dengan penghasilan minim dan hidup dengan sederhana bersama seorang anak dan istrinya, ia mempunyai kecintaan yang luar biasa kepada baginda nabi, rela berkorban apapun guna mereaksikan cintanya.

Pekerjaannya serabutan, tak punya penghasilan tetap untuk menutupi kebutuhan diri dan keluarga kecilnya, meskipun demikinan, ia mempunyai keteguhan yang kuat. Ia ingin bisa merayakan bulan kelahiran nabi yang ia cintai setiap tahunnya dengan cara ia akan menyisihkan rejeki yang ia peroleh di setiap harinya.

Separuh dari penghasilannya ia gunakan untuk menafkahi istri dan anaknya, separuhnya lagi ia tabung, untuk merayakan maulud nabi jauh hari nanti. Yang akan ia belikan makanan, minuman sandang dan apapun yang tujuannya tak lain karena untuk mewujudkan kecintaannya kepada baginda Nabi saw.

Kondisi ini berlangsung bertahun-tahun, iapun sukses mewujudkan cita-citanya untuk selalu bisa ikut andil dalam perayaan maulid nabi, meskipun dengan bermodal harta yang terbilang sedikit, namun membuatnya puas dan bersyukur.

Ia rela dengan kehidupannya yang pas-pasan, di tambah lagi kebutuhan keluarganya yang juga harus ia tanggung, asalkan dapat merayakan maulid Nabi.

Hingga pada suatu kesempatan, ia yang sudah berumur, sebagai orang yang saleh, yang di beri firasat benar oleh Allah, merasakan bahwa ia takkan berumur panjang lagi, ia takkan bisa lagi ikut merayakan maulid Nabi di tahun ini, padahal ia sudah siap sedia dengan sedikit tabungannya.

Tak ingin jerih payahnya mengumpulkan koin demi koin hilang begitu saja tanpa ada hasil, iapun memanggil anaknya guna bermandat sebelum pergi menghadap Sang Esa.

“anakku, aku berfirasat bahwa hidupku takkan lama lagi” katanya. Anaknya kaget mendengar perkataan ayah yang begitu ia cintai, ayah yang begitu sabar dengan kehidupan sederhananya dan selalu bersyukur.

“ayah  sudah mengumpulkan uang yang kusimpan di kantong guna merayakan maulid nabi tahun ini” tandasnya lagi tak menghiraukan perasaan anaknya.

“Nanti kalau ayah sudah meninggal, gunakan uang itu seperti yang biasanya ayah lakukan” tak lama setelah itu sang ayahpun meninggal dengan menyisakan isak-tangis istri dan anaknya.

Selang beberapa hari, sang anak yang menggantikan posisi ayahnya untuk menanggung kebutuhan keluarga bermimpi, mimpi yang mengerikan.

[Bersambung]