Senandung Burdah di Bulan Lahirnya Sang Pencerah

Qasidah Burdah; siapa yang tak mengenal kasidah ini? Sering kita dengarkan orang bermunajat, dan memohon doanya terkabul lewat wasilah kasidah ini. Terasa sejuk kala mendengar orang berdoa, lalu menyisipkan bait syair ini dalam doanya;

يِا رَبِّ بِالمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا      ۞     وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الكَرَمِ

Wahai Tuhanku, dengan wasilah Al-Musthafa (Muhammad SAW) sampaikanlah cita-cita kami. Dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Zat Yang Maha Pemurah.

Itu dia, sepenggal syair Qasidah Burdah. Seratus enam puluh syair yang tak pernah lekang oleh waktu. Ia tak rapuh melewati masa, dan tetap disenandungkan dalam berbagai kesempatan; maulid, perayaan, doa, tafakkur, bahkan mengiringi gembala di padang rumputnya.

Penulisnya Imam Al-Bushiri, bernama lengkap Syarîfuddin Abū ‘Abdillāh Muhammad ibn Sa’īd Al-Būsīrī Al-Syadzili (610 H– 695 H/1211 M–1294 M). Beliau menyusun kasidah indah tentang pujian-pujian yang beliau sanjungkan kepada nabi besar Muhammad SAW. Dibagi menjadi sembilan bagian, kasidah ini berkesan mendalam dan sarat sastra. Bagian pertama, beliau mengungkapkan perasaan rindu yang berkecamuk. Rindu yang menjadi-jadi. Beliau tak menyebutkan nama orang yang beliau cintai dan rindukan; Nabi Muhammad SAW. Namun begitu jelas gubahan syair itu adalah cerminan perasaan yang tak menentu karena rindu bertemu nabi.

فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ     ۞     بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ

Bagaimana kau dapat mengingkari cinta, setelah saksai-saksi yang adil menyaksikan deraian air mata padamu, dan jatuh sakitnya dirimu.

Tidak ditujukan kepada siapapun, mungkin kata “engkau” yang dimaksud dalam syair adalah beliau sendiri. Beliau juga mencantumkan pesan-pesan moral pada bagian kedua. Beliau mengingatkan tentang bahaya nafsu. Bahaya musuh dalam selimut yang senantiasa mengancam setiap saat. Beliau menggubah bait ini,

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞     حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

Nafsu itu bagai bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu dengan senangya. Namun bila kau sapih itu bayi maka ia akan berhenti.

فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ       ۞     إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ

Maka palingkanlah nafsumu dari kesenangan, takutlah jangan sampai ia memiliki kekuasaan. Sesungguhnya nafsu jika berkuasa akan membunuhmu atau membuatmu cela.

Di bagian-bagian akhir, beliau menyisipkan harapan besar dan doa.

خَدَمْتُهُ بِمَدِيحٍ أَسْتَقِيلُ بِهِ   ۞     ذُنُوبَ عُمْرٍ مَّضٰى فِي الشِّعْرِ وَالنَّدِمِ

Kupuja nabi dengan pujian, kumohon dengan itu ada pengampunan dosa –dosa yang lalu, dalam syair dan sanjungan.

Beliau menjadikan Qasidah Burdah sebagai lantaran, sebuah wasilah. Salah satu harapan; kesembuhan atas penyakit yang beliau derita waktu itu. Kala menulis qasidah ini, beliau memang sedang jatuh sakit. Tak ada seorangpun dokter yang mampu mengobati beliau. beliau hanya mampu terkulai diatas tempat tidur, tanpa mampu berbuat apapun. Beliaupun akhirnya menyusun kasidah ini. Setelah kasidah selesai, beliau bermimpi jumpa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW datang sembari membawakan sebuah selimut bercorak (Burdah), Rasulullah SAW mengusap kepala Imam Al-Bushiri dan menyelimutinya. Secara ajaib penyakit beliau sembuh seketika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.