Tag Archives: santri nusantara

Tentang Anjuran Mencintai Ahlul Bait

Kesaksian Allah dan Rasulnya akan kemulyaan Ahlul Bait bisa tergambar dari firman Allah Swt dan hadits Nabi Muhammad saw. dibawah ini.

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا(الاحزاب: 33

Artinya: Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, Hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS Al Ahzab 33).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا : كتاب الله وعترتي أهل بيتي (رواه النسائ والطبراني

Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh padanya maka kalian tidak akan tersesat: Kitabullah dan keturan ahli-baitku’’. (HR. An-Nasai dan Ath-Thabrani)

Adapun anjuran untuk mencintai Ahlul bait bisa dilihat hadits dibawah ini.

عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أحبوا الله لما يغذوكم من نعمه وأحبوني بحب الله وأحبوا أهل بيتي بحبي.(رواه الترمذي

Artinya: Dari Abdullah bin Abbas r.a ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Cintailah Allah atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya, dan cintailah aku karena cinta kepada Allah serta cintailah ahli baitku karena cinta kepadaku.” (HR. Ath-Tirmidzi)

Ancaman bagi orang-orang yang menyakiti Ahlul Bait.

عن أبي سعيد الخذري رضي الله عنه،قال :قال رسوالله صلى الله عليه وسلم: والذي نفسي بيده لا بيغض أهل البيت أحد إلا أدخله الله النار (رواه الحا كم في الصحيحين

Artinya: Diceritakan dari Abu Sa’id Al-Khudriy r.a. beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Demi dzat yang menguasai jiwa ragaku, tidaklah seseorang marah (mencaci dan membenci) kepada keluargaku kecuali Allah akan menceburkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Hakim).

Dawuh KH. AHS. Zamzami Mahrus: Empat Perkara Yang Menaikan Derajat Seseorang

Saya mengingatkan kembali pada kalian, agar kalian semua termotivasi. Ada empat perkara yang menjadikan derajat seseorang itu naik (menjadikannya mulya).

Yang pertama adalah Ilmu, jadi orang yang mempunyai ilmu bisa menaikan derajatnya. Seperti dawuhnya Allah Swt:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Jadi orang yang berilmu itu bisa menjadikan derajatnya naik, baik ilmu syariat maupun ilmu formal (umum). Kalau ilmu syariat itu menjadikan mulya indallah maupun indannas tapi ilmu formal hanya menjadikan mulya indannas saja. Jadi kalian semua mondok di lirboyo utamanya yaitu mencari ilmu, jadi langkah kalian semua sudah betul, karena lebih beruntung-beruntungnya seorang anak, yaitu anak yang berada di pondok. Karena di pondok insya Allah tidak maksiat asal tidak keluyuran. Kesehariannya di isi dengan mencari ilmu dan jamaah.

Yang kedua adalah Jujur, ini sangat penting sekali. Seperti dawuhnya kanjeng Nabi Muhammad saw:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ

Jadi jujur itu mendatang kebagusan, orang yang baik dan bagus itu itu biasanya jujur, kalau kenyataannya kanan ya kanan kalau kiri ya kiri. Dan seseorang yang jujur itu lisannya selalu dijaga tidak suka bohong.

Yang ketiga yaitu Akhlak. Ini juga sangat penting sekali. Akhlak bisa menjadikan derajat seseorang itu naik, dengan guru maupun orang tua kita harus memulyakannya, dengan teman berprasangka baik, dengan adek-adek kelasnya bisa mengayomi. Banyak ulama-ulama terdahulu yang sangat memulyakan orang tuanya. Bagaimanapun juga yang namanya anak tidak bisa membalas jasa orang tuanya, orang tua kalian semua merawat kalian semua itu penuh dengan ke ikhlasan.

Kita mondok di pesantren selain untuk menacari ilmu, kita juga harus berusaha agar ilmu kita itu penuh barokah dan manfaat. Dengan cara salah satunya yaitu kita memulyakan guru-guru kita, jangan sampai kita berburuk sangka pada guru kita. Yang baik adalah kita harus berbaik sangka, seandainya guru kalian ada salahnya seperti misalnya kalian lebih ngalim dari pada guru kalian, yang baik tetap harus husnudzon. Mungkin guru kalian sabqul lisan atau mungkin lupa. Tetap yang baik adalah tetap husnudzon.

Yang keempat adalah Amanah, jika kita dititipi uang oleh orang lain untuk dikelola, kita harus bisa mengelolanya dengan baik, dititipi jabatan kita harus menjalankanya dengan baik.

Dan keempat perkara yang telah disebutkan tadi itu saling berkaitan, jadi orang yang mempunyai ilmu tapi tidak mempunyai akhlak ya tidak bisa mengangkat derajat seseorang.()

Disampaikan saat Majelis Sholawat Kubro, 16 Januari 2020, di aula Al Mu’tamar.(TB)

Tiga Tingkatan Ikhlas Menurut An-Nawawi

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari ’Umar bin Khatthab r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari & Muslim).

Mengomentari hadis ini, An-Nawawi di kitab Syarh al-Arba’īn menjelaskan bahwa hadis di atas menjadi dalil kuat akan pentingnya niat yang tulus (ikhlas) dalam setiap amal perbuatan. Beliau juga menerangkan tentang adanya tiga tingkat keikhlasan seorang hamba: pertama, beribadah karena takut akan siksa Allah Swt. An-Nawawi menamakan tingkatan ini dengan ’ibādatul-’abīd; ibadah para budak. Kenapa? Karena yang seperti ini—sebagaimana mental seorang budak—mematuhi perintah hanya karena takut disiksa oleh Tu(h)annya.

Kedua, beribadah karena mengharapkan surga dan pahala dari Allah Swt. Tingkatan ini oleh An-Nawawi disebut sebagai ’ibādatut-tujjār; ibadah para pedagang. Sebab, seperti halnya pedagang yang selalu mencari keuntungan, orang-orang yang berada pada tingkatan ini juga hanya memikirkan keuntungan dalam ibadahnya.

Ketiga, beribadah karena malu kepada Allah Swt. dan demi memenuhi keharusannya sebagai hamba Allah yang bersyukur disertai rasa khawatir sebab amal ibadahnya belum tentu diterima di sisi-Nya. An-Nawawi mengatakan, tingkatan ini adalah ’ibādatul-akhyār; ibadah orang-orang pilihan (dari berbagai cetakan Syarh al-Arba’īn yang beredar ada yang memiliki redaksi berbeda dan di sana tertulis ’ibādatul-ahrār yang memiliki arti ‘ibadah orang-orang merdeka’).

Tingkatan yang terakhir ini sebenarnya merupakan manifestasi dari hadis riwayat Imam Muslim yang disabdakan Rasulullah saw. saat ditegur oleh Aisyah r.a. ketika melihat beliau salat malam ‘kelewatan’ hingga kedua kakinya bengkak.

“Wahai Rasulullah, kau terlalu memaksakan hal ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu.” kata Aisyah.

Rasulullah saw. menjawab: “Bukankah sudah seharusnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?!” (HR Muslim).

Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, perlu kami ingatkan lagi bahwa tiga tingkatan di atas kesemuanya tergolong ikhlas. Buat orang awam seperti kami, bisa istikamah pada tingkatan pertama saja sudah sangat bersyukur. Wallahu a’lam.()

Penulis: Abdul Rozaq, mutakharijin Ma’had Aly Lirboyo tahun 2018 asal Bangkalan

Allah Pasti Melakukan Lima Hal ini Pada Hamba-Nya

Ada lima perkara yang sudah dipastikan akan disiapkan oleh Allah kepada seorang hamba:

1.Allah akan memberikan tambahan (nikmat) kepada hamba-Nya yang selalu bersyukur.

Allah berfirman : لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.( QS. Ibrahim :7).

2. Allah akan mengijabahi doa seorang hamba tatkala ia berdoa.

Allah Swt berfirman : وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “

Tuhan kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. (Al Ghaafir 60).

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw berdoa :

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْساً مُطْمَئِنَّةً تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ.

3. Allah akan memberikan ampunan (Maghfiroh) tatkala seorang hamba memohon ampun kepada-Nya.

Di dalam Al Qur’an, Allah berfirman : اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً

“Memintalah ampunan kepada tuhanmu, sesungguhnya tuhanmu adalah dzat yang maha pengampun. ” (QS. Nuh:10).

Di dalam sebuah Hadits diriwayatkan: Nabi Muhammad Saw bersabda:

 ﻟﻮْ ﺃَﺧْﻄَﺄْﺗُﻢ ﺣﺘَّﻰ ﺗﺒﻠﻎَ ﺧَﻄَﺎﻳَﺎﻛُﻢْ اﻟﺴَّﻤَﺎءَ ﺛﻢَّ ﺗُﺒْﺘُﻢْ ﻟﺘَﺎﺏَ اللّه ﻋﻠﻴﻜﻢ

“Seandainya dosa-dosamu se-langit, kemudian engkau bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubatmu” (HR. Ibnu Majah).

4. Allah akan menerima taubat seorang hamba ketika ia hendak bertaubat. Nabi Muhammad Saw bersabda :

مَكْتُوْبٌ حَوْلَ الْعَرْشِ قَبْلَ اَنْ تُخْلَقَ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةِ آلَافِ عَامٍ وَاِنِّى لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى .

5. Allah akan menerima sedekah seorang hamba, tatkala ia mau bersedekah. Rasulullah saw bersabda :

 كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad).

Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda :

مَا مِنْ عبدٍ تصدَّقَ بصدقةٍ يَبْتغِي بِها وجهَ اللّهِ إلاّ قَالَ اللّهُ يومَ القيامةِ عبدِي رجوتَنِي فلنّ أُحقِرَكَ حَرَّمْتُ جَسَدَكَ عَلَى النّارِ وَ ادْخُلْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الجَنَّةِ إِنْ شِئْتَ

” Tidaklah seorang hamba yg bersedekah karena Allah kecuali Allah akan berkata kepadanya pada hari Qiyamat :”Hambaku!engkau telah berharap kepadaku, maka aku tak kan menghinakanmu, jasadmu haram atas api neraka. Masuklah kedalam surga melalui pintu yg kamu mau.” (HR. Ibnu Lal).

” Sebelum dunia diciptakan empat ribu tahun lagi, telah tertulis disekeliling ‘Arsy: Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, kemudian ia mendapatkan petunjuk.” (HR. Ad Dailami).

_______________

Kitab Irsyadul Ibad hal 29.

Penulis: M. Nuruddin Yusuf, Mutakhorrijin Ma’had Aly Lirboyo. Asal Malang.

Tentang Thoriqoh dan Tasawuf

Thoriqoh adalah suatu jalan atau wadah dimana setiap orang yang mengikuti jalan tersebut diharuskan mengamalkan segala kewajiban, kesunahan, meminimalisir perkara mubah serta menjauhi perkara haram. Sedang legalitas Thoriqoh banyak  disebutkan dalam al-Qur’an, hadits dan qoul ulama’, yang diantaranya adalah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ


“ Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

Menurut Imam Ash-Showi, di dalam ayat tersebut terdapat isyarat syari’at, dengan firmannya “Mua’izhah min rabbikum”. Karena dengannya tersucikan hal-hal lahir. Allah Swt. memberikan isyarat tarekat dengan firmannya: “Wa syifa’un fish shudur”, karena dengannya perkara-perkara bathin tersucikan dari ketidaklayakan. Dan juga memberikan isyarat hakikat dengan firmannya “ Wa huda wa rahmah lil mu’minin”, karena dengan hakikat diperoleh kejelasan cahaya yang bersinar di hati, yang dengannya seseorang melihat sesuatu pada hakikatnya.

ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهّل الله له به طريقا إلى الجنة (رواه مسلم

Artinya: Dan barang siapa yang suluk (menempuh) jalan yang didalamnya ia mencari lmu, maka Allah Swt. mudahkan baginya jalan menuju surga (HR. Muslim)

قال الإمام الجنيد رحمه الله تعالى : مذهبنا مقيد بأصول الكتاب والسنة (الموسوعة اليو سفية لبيان أدلة الصوفية_يوسف خطار147

Artinya: Imam Al- Junaid Rahimallah ta’ala berkata: Madzhab kita (Thoriqoh dan tasawuf) berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah.

قال الشيخ سهل بن عبدالله التستري رحمه الله تعالى: أصولنا سبعة أشياء التمسك بكتاب الله تعالى والاقتداء بسنة رسوله صلّى الله عليه واله وسلم وأكل الحلال وكف الأذى واجتناب الآثام والتوبة وأداء الحقوق (طبقات الصوفية للسلمى210

Artinya: Syaikh Sahl Bin ‘Abdillah At-Tusturi rahimahulah ta’ala berkata: “Dasar kita (tasawuf) ada tujuh perkara, berpegang pada Rasullulah Saw. memakan barang halal, tidak menyakiti, menjauhi dosa, bertaubat dan melaksanakan segala hak”.()

________________

Tafsir Ash-Showi vol 2, Hal 241