966 views

Tingkatan dalam Ranah Tasawuf

Tingkatan dalam ranah tasawuf | Tasawuf adalah disiplin ilmu mengenai maqamat al-qulub wa ahwaliha, yakni ilmu yang memberikan jalan agar hati atau ruhani mempunyai maqam atau status. Dalam istilah tasawuf ada tujuh maqam yang dapat memberikan status pada ruhani, yang terdiri dari taubat, wara’, zuhud, sabar, faqr, tawakal, ridla, mahabbah dan makrifat. Semua sifat tersebut dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu takhalli, tahalli, dan tajalli.

Tahapan yang pertama

Sebagai tahap pertama dalam mengurus hati, takhalli adalah membersihkan hati dari keterikatan pada dunia. Langkah awal dalam maqamat ini hati harus dikosongkan, ia disyaratkan terbebas dari kecintaan pada aspek duniawi seperti anak, istri, harta dan segala keinginan hawa nafsu. Sedangkan yang termasuk kategori takhalli adalah taubat, wara’, dan zuhud.

Taubat merupakan tiket pertama saat akan memasuki wilayah sufi. Setiap orang yang akan memperkaya hati dengan maqam kesufian maka harus diawali dengan pertobatan. Allah Swt. berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (Q.S. An-Nur [24]: 31)

Sikap dalam tobat ini harus diucapkan dalam hati yang tulus dan penuh keikhlasan, pengucapan secara lisan boleh-boleh saja, tapi tobat yang sebenarnya adalah dalam hati. Selain itu juga harus bertekad untuk berhenti dari perbuatan dosa serta berjanji untuk tidak mengulanginya kembali baik itu dosa yang disengaja ataupun tidak.

Kemudian setelah mendapatkan maqam taubat, orang tersebut akan memasuki maqam selanjutnya yaitu wara’. Maqam ini merupakan sikap selektif dalam segala tindakan yang akan dilakukan. Atau dalam istilah Jawa tidak sembrono, Hujjah al-Islam al-Imam al-Ghazali dalam masterpiece-nya mengingatkan:

أَنَّ الْوَرَعَ لَيْسَ فِيْ الْجَبْهَةِ حَتَّى تَقْطَبَ وَلاَ فِيْ الْوَجْهِ حَتَّى يَعْبَسَ وَلاَ فِيْ الْخَدِّ حَتَّى يَصْعَرَ إِنَّمَا الْوَرَعُ فِيْ الْقُلُوْبِ
Sesungguhnya sikap wira’i itu tidak ditampakkan pada jidat hingga membekas tidak pula di wajah hingga kusut, tidak pula di pipi hingga kusam, sikap wirai itu ada dalam hati.[1]

Tentunya, orang yang bersikap selektif tidak asal makan, asal pakai dan tidak asal ngambil. Sikap demikian harus diterapkan dalam berbagai hal, berucap, bergaul, dan lain sebagainya. Sebagai representasi dari firman Allah Swt:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui.” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 36)

Setelah wara’ melekat, maka akan timbul zuhud (asketis). Zuhud berarti memandang rendah dunia dan tidak terikat padanya. Dalam hal ini, para sufi memandang dunia bukan sebagai esensi. Sebagaimana kata pepatah: “Urip ning dunyo mung mampir ngombe”. Artinya: Hidup di dunia hanya mampir ngaso (Jawa: Makan-minum). Ketika hati tersibukkan dengan kehidupan duniawi, maka saat ditinggalkan akan dihinggapi rasa sedih, sesal dan kecewa sehingga timbul penderitaan.

Tahapan yang kedua

Tahapan kedua adalah tahalli, yakni upaya pengisian hati yang telah dikosongkan. Hati yang telah kosong ini kemudian diisi dengan sabar, faqr, tawakkal dan ridla. Sabar yaitu menerima atau menjalankan segala tindakan dengan hati ikhlas. Termasuk sabar juga kekuatan dan ketangguhan hati dalam mencegah seseorang terjerumus pada perbuatan dosa. Mengenai keutamaan bersabar ini Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 153)

Bila sudah mencapai maqam sabar, kemudian masuk ke maqam faqr. Ini merupakan sikap perasaan hati seseorang yang meyakini bahwa tidak ada satu pun dalam hidup ini yang dimilikinya, pada hakikatnya semuanya hanyalah titipan belaka. Karena, semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah milik Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Milik Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allahlah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S. Luqman [31]: 26)

Setelah sifat sabar dan faqr melekat dalam hati, maka dalam hati seseorang akan timbul ridla (kerelaan) dan syukur atas karunia yang telah Allah berikan kepadanya.[2]

Tahapan yang ketiga

Terakhir, pasca tahap pengosongan dan pengisian fase ketiga adalah tajalli. Yaitu tahapan kebahagiaan yang sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah jalla jalaluh, Allah Swt. ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia bahagia dalam keridlaan-Nya. Pada fase inilih para sufi menyebutnya sebagai ma’rifat, atau orang yang sempurna sebagai manusia luhur.

Jika telah mencapai maqam tajalli, akan lahir apa yang disebut dengan mahabbah dan ma’rifat. Tradisi sufi menyebut orang yang telah mencapai derajat ini sebagai waliyullah (kekasih Allah). Fase ketiga ini ialah derajat tertinggi keruhanian manusia.[3]

Kesimpulan

Jadi, Tasawuf adalah upaya ruhani kita mendapatkan status dihadapan Allah. Kalau melihat prosedur di atas, memang berat. Mudah diucapkan akan tetapi sukar dilaksanakan. Hanya saja, bila diikuti dengan keikhlasan serta atas dasar kesadaran semua akan terasa ringan. Oleh karenanya, kita perlu berlatih dan berupaya sedikit-demi sedikit guna menuju maqam sufi tersebut. Agar meraih ridha Allah Swt. Wallahu A’lam Bisshawab.

baca juga: Korelasi Fikih, Tauhid Dan Tasawuf Dalam Kitab Sulam Attaufiq
tonton juga: TASYAKUR KHOTAMAN KE IX | Pon. Pes. Putri Al Baqoroh

Penulis: A. Zaeini Misbaahuddin Asyu’ari*

*Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Marhalah Ula Smt. VI Asal Purwakarta, Jawa Barat. Pecinta Khazanah Turats dan Pegiat Literasi.

Tingkatan dalam ranah tasawuf
Tingkatan dalam ranah tasawuf


[1] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghozali at-Thusi, Ihya Ulumuddin (Beirut: Dar al-Ma’rifah), vol. 4, h. 60.[2] Muhammad Jamaluddin bin Muhammad Sa’id al-Qasimi, Mauidzoh al-Mukminin Min Ihya Ulumuddin (Beirut: Dar al-Kutub al-Imiyyah), vol. 1, h. 281.
[3] Said Aqil Siroj, Dialog Tasawuf Kiai Said; Akidah, Tasawuf dan Relasi Antarumat Beragama (Surabaya: Khalista), h. 45.

23

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.