KEBENARAN DI KELAS SYAMSUL

Kelas Syamsul sedang kosong, Bapak Mustahiq tidak masuk kelas, entah ke mana beliau. Syamsul sebagai ketua kelas maju membawa kitab, agar teman-temannya tidak ramai ia ingin mengajukan pertanyaan sebagai bahasan diskusi mereka untuk mengatasi kegabutan.

“Menurut kalian, bagaimana arti kebenaran itu?” Sesampainya di depan, Syamsul lekas saja membuka percakapan. Teman-temannya tetiba diam, demi melihat Syamsul berbicara seperti serius. Munir yang tadinya rebahan, mengangkat tubuhnya.

“Kebenaran itu saat kita melakukaan sesuatu sesuai keinginan ibu.” Munir teringat ibunya di rumah. Ia mengusap muka, tampaknya ia rindu.

Dimas si penggemar ikan koi mengejek, “Pasti ibumu mempunyai banyak aturan.” Teman-teman menertawakannya. Dimas ikutan, saat tertawa, perutnya bergoyang-goyang seolah terkena terpaan angin.

“Kebenaran adalah apa yang diputuskan oleh Yang Mulia dalam persidangan.” Fajar yang hobi mendengarkan musik dangdut itu angkat bicara. Saat ia masih kecil, Pak De-nya pernah dimejahijaukan soal sengketa tanah, namun berhasil lolos dari jeratan hukum. Mudah saja yang seperti itu bagi Pak De. Beliau mempunyai banyak rekan dan uang.

“Benar, karena Yang Mulia adalah ahli hukum, pasti beliau lebih tahu mana yang benar.” Rafi mendukung Fajar, sambil tangannya membenarkan letak songkoknya yang miring. Songkok itu pemberian kakek, warnanya sudah merah, usianya mungkin sama dengan HUT RI.

“Tidak bisa, hakim memutuskan perkara sesuai dengan yang dia lihat. Kita tidak pernah tahu sejatinya perkara yang tidak pernah kita lihat.” Munir kembali lagi ngeyel.

“Kalau seperti itu, tidak pernah ada masalah yang telah diselesaikan Pak Hakim.” Mbah Rahmat tidak terima. Eh, dia bukan sudah tua, teman-teman memang memanggilnya dengan imbuhan ‘mbah’ karena menghormatinya sebagai yang tertua di antara mereka.

“Lalu bagaimana dengan masalah-masalah manusia? kita, kan, juga memerlukan keputusan, walau putusan itu salah.” Dimas menyela lagi.

Hanyut

Di luar hujan mulai mengguyur, beberapa hari ini, hampir setiap sore hujan datang ke bumi pondok dan sekitar, membawa cerita kelas Syamsul hanyut bersama aliran airnya.

“Berarti kebenaran itu apa yang telah kita sepakati bersama.” Fajar menyimpulkan angannya sendiri tanpa meminta persetujuan yang lain. Sedang Rafi yang ada di sebelahnya manggut-manggut saja layaknya paham.

“Jadi bagaimana jika ada sekawanan penjahat yang tertangkap polisi, mereka sepakat untuk tidak mengakui perbuatannya. Apa mereka benar juga?” Rijal yang tadinya diam tidak tahan juga. Teman-temannya melirik. Rafi menggaruk rambut kepalanya hingga jatuh songkok merah itu.

“Tapi kalau kelompok yang menyepakati kebenaran itu mayoritas, mereka tetaplah yang paling benar. Atau setidaknya hampir benar. Mendekati benar. Kan, nabi menjamin bahwa umatnya tidak akan sepakat dalam kesesatan.” Kali ini Mbah Rahmat benar-benar mau menyudahi diskusi mereka. Karena lonceng akan berdenting beberpa menit lagi.

Di depan, Syamsul mulai capek berdiri. “Kebenaran milik Allah dan Rasulnya, kita sekadar berspekulasi…” Belum tuntas omongan Syamsul, Munir menyela.

“Kita, kan, juga diberi kitab suci dan hadis nabi sebagai pembimbing.” Tangan Munir mengemasi kitab-kitabnya. “Hakikat segalanya akan tampak kelak. Jadi berbuat saja sesuai kaidah agama kita.” Munir melangkah mendahului mereka, lonceng sudah berdenting.

“Woy, tidak semua dijelaskan oleh agama, mungkin sih, semua, tapi, kan, hanya muatan-muatan.” Fajar masih tidak terima teman-teman meninggalkannya keluar kelas paling akhir. Hujan rintik. Mereka keluar kelas agak berlarian.[ABNA]

Baca juga:
CERPEN SANTRI: RAHASIA BAPAK

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

# CERPEN SANTRI: KEBENARAN ITU ….
# CERPEN SANTRI: KEBENARAN ITU ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.