HomeKonsultasiHukum Zakat Dengan Uang

Hukum Zakat Dengan Uang

0 10 likes 1.8K views share

Berkembangnya zakat dengan uang tunai, dinilai lebih praktis, dan lebih tepat sasaran. Orang faqir miskin dan para mustahiq zakat lain jadi dapat lebih leluasa membelanjakan uang yang mereka terima untuk kebutuhan mana yang paling penting dan bermanfaat bagi mereka. Namun ternyata, dalam hampir semua madzhab empat, tidak memperbolehkan zakat model uang tunai. Zakat fitrah haruslah menggunakan makanan pokok daerah masing-masing. Dan zakat hewan ternak juga harus memakai hewan ternak. Di Indonesia katakanlah, makanan pokok jamak menggunakan beras, maka zakat fitrahpun otomatis memakai beras. Pendapat yang melarang zakat dengan uang tunai ini diutarakan oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Bertendensikan hadis,

فرض رسول الله صلى الله عليه و سلم صدقة الفطر صاعا من تمر أو صاعا من شعير. رواه البخاي

Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum.” (HR. Bukhari)

Ulama tidak berani menerjang teks hadis tersebut. Bahwa yang sebenarnya diwajibkan dalam zakat fitrah adalah sha’ (Ukuran untuk bobot 2, 75 kg.) dan bukan yang lainnya. Meskipun tidak memungkiri hikmah dibalik zakat adalah upaya pengentasan kemiskinan.

Namun ada pendapat dari Imam Hanafi yang memperbolehkan zakat dengan uang. Alasan bahwa hikmah untuk mencukupi kebutuhan fakir miskin lebih bisa terpenuhi dengan uang adalah salah satu motivasinya. Diriwayatkan dari Imam Al-Darquthni,

فرض رسول الله صلى الله عليه و سلم زكاة الفطر, وقال أغنوهم في هذااليوم. رواه الدرقطني

Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah dan beliau bersabda;’Cukupilah mereka (dari meminta-minta) di hari ini.” (HR. Al-Darquthni.)

Namun menjadi catatan penting, kadar sha’ Madzhab Hanafi tidak sama dengan Madzhab Syafi’i, kadarnya sekitar 3,8 kg, atau ada yang mengatakan 3,25 kg. Jadi uang yang dikeluarkan harus sama dengan kadar tersebut.[1] Bagi yang hendak taqlid harus mengikuti aturan yang ada agar tidak terjadi talfiq (distorsi).

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam kitabnya mengatakan, “Kenyataannya, pendapat Imam Abu Hanifah lebih layak untuk zaman kita, lebih memudahkan umat manusia, dan lebih memudahkan dalam penghitungan. Apalagi jika disana terdapat badan atau organisasi yang mengurusi penerimaan dan pembagian zakat. Jika yang dikelola adalah benda (bukan zakat dengan nominal) maka akan menambah biaya dan kerepotan disebabkan pemindahan barang dari satu daerah menuju daerah sasaran, menambah biaya untuk menjaga kelayakan benda agar tidak rusak, dan biaya tambahan makanan dan minuman ketika barang zakat adalah binatang ternak.[2]

Namun lain lagi komentar dari Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Umar Al-Syathiri setelah beliau sedikit menjelaskan beberapa perbedaan ulama tadi, “Tujuan saya menyebutkan pendapat-pendapat diatas (Tentang khilafiyah bolehkah zakat dengan uang) bukalah untuk berfatwa akan tetapi hanya mengabarkan saja. Dan bagi orang mukmin yang ingin berhati-hati, ketika berzakat dengan nominal juga sekaligus mengeluarkan zakat dengan makanan pokok (beras, dll) selagi mampu.[3]. Dari nada komentar beliau, seakan beliau tidak menganjurkan kita untuk menerjang naskah hadis diatas, dan mengikuti pendapat madzahib al-tsalatsah. Atau lebih amannya lagi jika terpaksa adalah mengeluarkan uang tunai dan benda sekaligus. Atau solusi lain jika dari pihak panitia sudah menyiapkan makanan pokok untuk zakat yang nantinya akan ditukar dengan uang tersebut di tempat.

Kita sebagai pelaku zakat harus tetap bijak menggunakan khilafiyah pendapat ulama. Berhati-hati dalam masalah agama lebih baik agar tidak salah dan terjebak. []

Lihat referensi lain:

  • Majmu’ Syarah Muhadzab hal. 588/6
  • Ibid hal. 91/6
  • Fiqhul Islam wa Adillatuh hal 62/3
  • Ibid hal 383/3
  • Fathul Mu’in dan I’anah Tholibin hal 224/2

 

 

[1] Fiqhul Islam wa Adillatuh hal 272/4

[2] Fiqh Zakat hal hal 805/2.

[3] Syarah Al-Yaqut Al-Nafis hal 284.