Khutbah Jumat: Hindari FOMO!

Hindari FOMO

KHUTBAH I

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَنَا وَأَوْجَدَنَا مِنَ الْعَدَمِ، وَنَفَخَ فِي ذَوَاتِنَا الرُّوْحَ بِفَضْلٍ مِنْهُ وَجُوْدٍ وَكَرَمٍ، وَجَعَلَ أُمَّةَ الْإِسْلَامِ خَيْرَ الْأُمَمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Mengawali khutbah di mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada jemaah sekalian. Marilah kita tancapkan ketakwaan di dalam dada. Ketakwaan yang kokoh agar jiwa kita tetap tegak, kokoh bertumpu pada petunjuk Ilahi di tengah gelombang zaman yang senantiasa bergolak.

Baca juga: Khutbah Jum’at: Akhlak Rasulullah Adalah Al-Qur’an

Hadirin yang Dirahmati Allah,

Mari kita cermati bersama fenomena zaman ini. Di era keterhubungan tanpa batas (compulsive connectivity) dan riuh rendahnya media sosial, timbul sebuah penyakit jiwa modern yang sering diistilahkan sebagai FOMO (Fear of Missing Out)—sebuah kecemasan mendalam akan rasa takut tertinggal.

Gelisah jika tidak mengikuti tren gaya busana, cemas jika belum mencicipi makanan viral, stres ketika kata-kata kita tak seragam dengan arus utama, hingga terseret dalam perilaku konsumtif berjam-jam menatap layar gawai demi mengejar pengakuan yang fana. Kita rela menguras kantong dan mengorbankan ketenangan jiwa hanya agar dianggap ada dan relevan oleh dunia.

Tidakkah kita menyadari? Jauh ratusan tahun sebelum istilah FOMO diciptakan oleh ahli bahasa modern, Rasulullah saw. telah memperingatkan kita akan bahaya penyakit psikologis dan spiritual ini. Beliau sebut perilaku latah dan takut tertinggal ini dengan satu istilah yang sangat tegas yakni imma’ah.

Rasulullah saw. bersabda:

 لاَ تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاؤُوا فَلاَ تَظْلِمُوا

“Janganlah kalian menjadi seorang imma’ah; yang hanya bisa berkata: ‘Jika orang-orang berbuat baik kami ikut berbuat baik, dan jika mereka berbuat zalim kami pun ikut berbuat zalim.’ Akan tetapi, teguhkanlah diri kalian! Jika orang-orang berbuat baik, hendaknya kalian berbuat baik, dan jika mereka berbuat keburukan, janganlah kalian ikut berbuat zalim.” (HR. Tirmidzi)

Baca juga: Khutbah Jum’at: Menjaga Lisan dan Adab Bermedia Sosial

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Siapakah sosok imma’ah itu? Para ulama menjelaskan bahwa imma’ah adalah pribadi yang tak berprinsip.

Jika berada di tengah orang saleh, ia berakting seolah paling beriman. Namun, ketika berada dalam pergaulan yang menyimpang, ia menjadi pencetus kemaksiatan dan fasilitator keburukan. Merekalah orang-orang yang ketika dilarang membuat kerusakan di bumi, justru berdalih: “Kami ini hanya ingin memperbaiki dan mengikuti zaman!” Padahal, alangkah tepatnya firman Allah menggambarkan kepalsuan mereka:

أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya dialah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 12)

Sahabat Abdullah bin Mas’ud RA pernah menegaskan perbedaan istilah ini:

“Dahulu di zaman Jahiliah, kami menganggap imma’ah adalah orang yang ikut-ikutan datang ke perjamuan makan tanpa diundang. Namun imma’ah di antara kalian hari ini adalah orang yang menggadaikan agamanya—mengekor dalam urusan iman; jika orang lain beriman ia ikut beriman, dan jika orang lain kufur ia pun ikut kufur.”

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Di manakah letak akar masalah ini? Akar dari penyakit FOMO dan sifat imma’ah adalah krisis keteladanan dan goyahnya ketakwaan. Padahal, Al-Qur’an telah menuntun kita kepada satu-satunya figur yang patut dijadikan standar kehidupan:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21)

Lihatlah betapa megahnya keteguhan Rasulullah saw.! Ketika paman beliau, Abu Thalib, merayu agar beliau menghentikan dakwah demi meredam tekanan kafir Quraisy, apakah beliau terseret arus? Apakah beliau gentar? Tidak! Dengan jiwa yang teguh bak karang di lautan, Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai pamanku, demi Allah, andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa di dalamnya, niscaya aku tidak akan pernah meninggalkannya!”

Inilah kekuatan karakter seorang beriman. Begitu pula yang diwariskan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Ketika seluruh kota Makkah mencemooh peristiwa Isra’ Mi’raj, Abu Bakar tak goyah sedikit pun dan berkata mantap: “Jika beliau yang mengatakannya, maka sungguh ia telah berkata benar!”

Bahkan ketika Rasulullah SAW wafat dan keguncangan merayapi jiwa sebagian umat, Abu Bakar berdiri merobek kebimbangan dengan memproklamirkan: “Barangsiapa menyembah Muhammad, Muhammad telah wafat. Namun barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan pernah mati!”

Baca juga: Khutbah Jum’at: Cerita Keberkahan Mengagungkan Kelahiran Nabi Muhammad

Hadirin Rahimakumullah,

Agama Islam tidak pernah mendidik kita untuk menjadi pengekor yang pasrah dilebur oleh zaman. Islam menempa kita menjadi pribadi yang percaya diri, kreatif dalam kebaikan, dan berani bersikap beda saat dunia sedang tenggelam dalam kesesatan. Mengapa kita harus menukar identitas mulia sebagai hamba Allah hanya demi mendapat pujian penonton layar kaca dan pengikut media sosial?

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ، وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ.

Baca juga: Khutbah Jum’at: Keutamaan Umat Nabi Muhammad

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Sungguh ironis, ketika kita menyaksikan realitas hari ini. Betapa banyak generasi umat ini yang terjangkit wabah imma’ah, jiwanya krisis identitas, meliuk-liuk mengejar fatamorgana kebudayaan asing. Jika ada hal haram yang dikemas dengan label tren modern, mereka tanpa ragu ikut menikmatinya.

Sungguh, ini adalah penyakit keroposnya iman dan gumpalan ilusi akibat hilangnya keteladanan di dalam rumah tangga kita sendiri.

Ingatlah bagaimana Rasulullah SAW menempa jiwa muda Abdullah bin Abbas RA sejak kecil agar tidak menjadi pengekor zaman. Beliau menanamkan pasak tauhid yang kokoh melalui lisannya yang mulia:

“Wahai anak muda! Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau memohon, memohonlah kepada Allah; dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, andai seluruh umat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan mampu melainkan atas apa yang telah ditetapkan Allah untukmu…”

Inilah benteng sejati penghalau FOMO! Ketika seorang anak dibekali keyakinan bahwa takdir dan kemuliaan ada di tangan Allah, ia tidak akan silau oleh perhiasan duniawi di sekelilingnya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ. وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ وَعَلَى طَاعَتِكَ. اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ!

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses