550 views

Cerpen: Markijam dan Istilah Istilah

Markijam dan Istilah Istilah | Sebagai remaja tanggung yang masih mondok tentu tak ada tempat kembali saat liburan tiba kecuali pada haribaan warung kopi. Menyadari secara penuh mengenai hal itu, saya langkahkan kaki setelah isya’ menuju warung kopi “Kang Mul”.

Dari namanya tentu engkau akan tahu bahwa warung kopi itu adalah warung kopi pedesaan dengan ciri penamaan yang apa adanya mencatut nama si pemilik, jauh dari riasan atas nama maupun suasana yang konon mulai menjadi trend untuk menarik konsumen masa kini.

Tentu saya tak begitu saja ujug-ujug kesana tanpa ada rencana. Sebagai manusia modern, jargon efesiensi waktu tentu sudah menjangkiti alam pikir saya entah dengan kesadaran penuh saya menjalani, atawa secara kumat-kumatan. Selain ingin menikmati kopi dari cangkir nir pegangan, saya telah mengajak kawan lama untuk menemani saya ngobrol tentang apa saja. Kawan saya itu Markijam namanya.

Markijam sekarang ini tengah menikmati masa kebingungan setelah selesai pasca sarjana. Rambutnya gondrong, sorot matanya kekanak-kanakan, terasa pas dengan vespa jadul tunggangannya. Meskipun bergelar S2, omongannya tak mencerminkan bahwa ia telah selesai menjalani tingkatan yang cukup tinggi dalam strata universitas. Bukan, bukan berarti ia aji mumpung dalam menyelesaikan studinya, hanya ia menyesuaikan dengan siapa ia bicara. Keluasan hati, orang menyebutnya. Dengan gelar tersebut ajakan saya – yang terpaut usia lumayan jauh plus tak jelas ini- dilayaninya dengan ringan.

Setelah memesan dua gelas kopi, kami pun membuka obrolan dengan menanyakan kabar masing-masing sebagaimana kawan yang lama tak ketemu. Sosoknya masih sama, santai dalam berbicara, memilih diksi yang sederhana tapi tak mengurangi ketajaman analisa.

Di katakannya kepada penulis tentang fenomena tak kasat mata tentang terjebaknya kita dalam istilah-istilah. Watak manusia modern yang cenderung menyukai kepraktisan dalam kehidupan tampak telah mewarnai juga keengganan mereka memahami istilah secara tepat yang diiringi kesukaan menggunakannya. Penggunaan istilah “ndakik-ndakik” tersebut dengan gegabah telah melahirkan identifikasi yang silang sengkarut tentang berbagai hal.

Radikal, liberal, subversif, fundamental, moderat, serta seabrek istilah lainnya yang didengang-dengungkan terasa megah tapi hampa makna. Tak hanya sampai di situ, istilah-istilah tersebut diperparah dengan penyalahgunaan sebagai vonis-vonis guna menjatuhkan. Konotasi yang terus menerus dibentuk untuk mengungkapkan istilah tersebut semakin membawanya pada posisi yang tidak ideal sebagai sebuah identifikasi peristiwa.

Semisal saking nasionalisnya engkau, engkau berani memberantas korupsi di negeri ini, tapi justru keberanianmu itu akan diproses sedemikian rupa menjadi cap kurang nasionalis semisal.

Bisa saja semisal, engkau seorang petani yang ingin mempertahankan tanahmu melawan sebuah proyek megah sebuah korporat. Engkau mempertahankan milikmu, engkau mempertahankan hakmu, tapi engkau malah ditangkap dengan tuduhan subversif.

Penulis jadi ingat pernyataan al-Ghazali dalam Al-Qisthas al-Mustaqim. Dalam kitabnya itu beliau mewanti-wanti agar kita tak terjebak dalam istilah-istilah sebab, orang yang tercerahkan akan lebih melihat pada esensi dari pada istilah-istilah belaka.

Masalahnya adalah, apakah kita punya pasokan kesabaran untuk itu?[]

Penulis: Muhammad Bagus Fatihurridlo

baca juga: Cerpen: Elegi
tonton juga: Filosofi Ngadep Dampar KH. Abdul Karim | KH. A. Habibullah Zaini

Markijam dan Istilah Istilah
Markijam dan Istilah Istilah

7

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.