Peradaban Fiqh Menjadi Manusia yang Bermatabat

peradaban-fiqh-menjadi-manusia-yang-bermatabat

Peradaban Fiqh Menjadi Manusia yang Bermatabat | Fiqh adalah perwujudan kehendak tuhan terhadap manusia yang berisi perintah dan larangan. Dalam hal ini objek kajian fiqh adalah perilaku manusia mengenai halal, haram, sunnah dan lain-lainnya. Kehadiran hukum seperti ini mutlak dipakai oleh manusia, karena mendapat jaminan dan lindungan atas keserakahan dan keangkuhan manusia.

Ibnu Kholdun berasusi dalam diri manusia memiliki watak asli, yaitu serakah, berambisi dan cenderung ingin berkuasa dan menaklukan. Seandainya sifat ini tidak dikekang, niscaya akan memunculkan sebuah konflik dan perpecahan. Dalam pengekangan tersebut apakah hukum fiqh termasuk kuno untuk membatasi tingkah laku manusia di zaman sekarang ini?

Pada dasarnya, manusia melakukan tindak tanduknya sejak awal diciptakan sampai sekarang terkonsep dalam bidang lingkup yang sama. Seperti halnya, mencuri, mabuk, berjudi dan lain-lainnya hanya dalam prateknya manusia memiliki inovasi yang baru dan masih menjadi amrun dalil (sebuah dalil) pada permasalahan-permasalahan tersebut. Seperti penggunaan narkoba di zaman sekarang. Dalam kasus tersebut hukum fiqh tetap berlaku, akibatnya pelaku tetap terkena hukum sebagai orang yang muskir (orang yang mabuk).

Dalam penuturan di atas penulis mencoba mengeksplorasi (menyelidiki) konstruk epistomologi Islam melalui telaah kitab-kitab salaf serta manhaj-manhajnya. Dalam kitab Tuhfatul Murid karya syekh Ibrohim Al-Baijuri beliau mengatakan bahwa dasar pengambilan hukum dalam Islam itu terbagi menjadi dua, yaitu dengan sepenuhnya menggunakan Syariat seperti yang diikuti oleh Al-Asyariah dan dengan menggunakan akal seperti yang digaungkan oleh orang-orang Mu’tazilah.

Menurut kyai Sahal Mahfud dalam kitab Thoriqotul Wushul menyebutkan kaum Mu’tazilah berprespektif bahwa sumber pengetahuan manusia bersumber dari akal, termasuk pengetahuan tentang yang baik dan buruk. Ahlussunnah Wal Jamaah menolak pandangan yang dikemukakan oleh Mu’tazilah menurutnya akal tidak dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.

Penentuan baik dan buruk adalah mutlak di tangan Allah. Kaum Mu’tazilah sebuah potret aliran yang berlebihan dalam menggunakan akal bahkan memposisikan nash di bawah akal. Berbeda halnya Ahlussunnah Wal Jamaah yakni sebuah golongan yang berpegang teguh pada Al-kitab dan As-sunnah tanpa mengikuti manhaj para sahabat dalam memahami keduanya.

Dalam ihwal ini, tampak terjadi perbedaan yang sangat penting atas dasar pengambilan hukum, baik yang bersifat ubudiyah maupun muamalah. Apabila akal diartikan sebagai buah pemikiran mendasar dan menyeluruh maka sejak awal turunnya Al-Quran, Islam telah menyajikan konsep tentang ketuhanan dan alam semesta secara menyeluruh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.