Romadhona atau Romadhoni?

Ramadhan telah tiba, saatnya umat muslim menjalankan ibadah puasa, salah satu dari lima rukun Islam. Sebagaimana semestinya keabsahan suatu ibadah terletak pada niatnya, termasuk juga ibadah puasa. Sabda Rasulullah Saw yang artinya: “Keabsahan suatu amal tergantung pada niatnya”

Niat sendiri dalam literatur fikih diartikan sebagai menyengaja sesuatu bersamaan dengan melakukannya yang mana letaknya ada pada hati. Memang demikian, niat dalam hati haruslah berbarengan dengan saat kita melakukan ibadah tersebut. Namun dalam ibadah puasa terdapat pengecualian dimana niat puasa tidaklah dilakukan saat puasa dimulai (saat fajar) melainkan haruslah dilakukan dimalam hari sebelum fajar.

Meskipun letak niat terdapat pada hati namun terdapat anjuran untuk melafalkan niat suatu ibadah. Sebagaimana niat puasa Ramadhan sebagaimana berikut

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ الشَّهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

“Aku berniat melakukan puasa besok dari melaksanakan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah taala”

Dalam pelafalan lafadz Romadhan sering kali terjadi dilema dikarenakan sebagian membacanya Romadhona dengan di fathah, sedangkan sebagian lagi memilih membacanya dengan Romadhoni dengan di kasroh. Lantas bagaimana yang benar? Apakah mempengaruhi keabsahan puasa kita?

Mengutip pendapat al-Barmawiy, syekh Sulaiman Al-Jamal menyampaikan bahwa, lafadz Romadhoni haruslah terbaca kasroh. Karena secara susunan gramatika arab (tarkib nahwu) lafadz Romadhoni terbaca khofdz dan di sambung pada lafadz setelahnya (hadzihis sanati). Diperkuat lagi dengan alasan bahwa apabila lafadz Romadhoni tidak disambung akan menyebabkan kerancauan makna yakni akan ada kemungkinan isim isyarah Hadzihi ber-taalluq pada lafadz Nawaitu sehingga makna yang dihasilkan adalah berniat untuk satu tahun, dan itu rancau. Namun sebagian ulama’ justru membaca lafadz Romadhona dengan di fathah. Mereka berlandaskan bahwa Romadhona adalah suatu nama (alam) yang secara gramatika Arab tidak dipebolehkan untuk disambung dengan lafadz setelahnya.

Keterangan tersebut sebagaimana terekam dalam karangan beliau yakni Hasiyah al-Jamal sebagai berikut:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.