Tag Archives: Muharram

Cerita Bubur Suro

Ketika pertama kali berlabuh dan turun dari kapal, Nabi Nuh as. dan para pengikutnya merasakan kelaparan. Sementara perbekalan yang mereka miliki telah habis. Akhirnya nabi Nuh as. memerintahkan para pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan yang masih ada. Hasilnya pun terkumpul, ada yang membawa satu genggam biji gandum, biji adas, biji kacang, kacang putih, dan biji-bijian yang lain sehingga terkumpullah tujuah macam biji-bijian (menururt pendapat lain, terkumpul 40 macam biji-bijian).

Nabi Nuh as. pun membacakan basmalah pada biji-bijian yang sudah terkumpul tersebut, lantas beliau memasaknya. Setelah masakan matang, mereka menyantap makanan tersebut bersama-sama. Semuanya merasakan kenyang, atas keberkahan nabi Nuh as.

Sebagaimana firman Allah swt. dalam al-Qur’an:

قِيلَ يَانُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ

Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat dari orang-orang yang bersamamu.” (QS. Hud: 48)

Peristiwa tersebut terjadi tepat pada hari ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa peristiwa tersebut merupakan awal mula makanan dimasak di bumi setelah terjadi banjir besar yang menggenangi bumi selama 40 hari.

Dari peris peristiwa tersebut, orang-orang menjadikannya sebagai tradisi yang mereka laksanakan setiap hari ‘Asyura.  Pahala yang besarpun dijanjikan bagi mereka yang mau melakukan hal tersebut, terlebih lagi ketika mau mensedekahkan kepada golongan fakir miskin.

 

____________________

Disarikan dari kitab syekh Nawawi Banten, Nihayah az-Zain, I/196, CD. Maktabah Syamilah.

 

Muharram dalam Sudut Pandang Budaya Jawa

Dalam kalender Islam (Hijriyah), bulan Muharram merupakan bulan pertama. Urutan tersebut bukan berarti tanpa alasan, karena pada kenyataannya terdapat banyak keistimewaan yang ada di dalamnya. Hal ini dibuktikan dalam beberapa hadis Rasulullah saw. yang menjelaskan tentang keutamaan dan keistimewaan yang dimilikinya. Salah satunya adalah hadis yang tercantum dalam kitab Shahih al-Bukhari:

الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahu itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati,  tiga bulan berturut-turut; Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab, terdapat diantara bulan Jumada al-Akhirah dan Sya’ban”.[1]

Dalam hadis tersebut dikatakan bahwa bulan Muharram tergolong bulan yang dimuliakan. Dalam penjelasannya, salah satu bukti kemuliaan Muharram ialah umat Islan zaman dahulu dilarang melakukan peperangan di bulan tersebut.[2] Bahkan jauh sebelum masa itu, peristiwa-peristiwa bersejarah dalam Islam terjadi di bulan Muharram, seperti Nabi Nuh diselamatkan Allah swt. keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama 6 bulan, Nabi Ibrahim diselamatkan Allah swt. dari pembakaran Raja Namrud, Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara dan peristiwa-peristiwa besar lainnya.

Dengan beragam kandungan sejarah yang ada di dalamnya, tak ayal lagi bahwa terdapat beberapa amaliah sunah yang dianjurkan pada bulan Muharram. Seperti puasa Tasua’ (9 Muharram) dan ‘Asyura (10 Muharram), menyantuni anak yatim, melapangkan nafkah keluarga, dan bersedekah.

Meskipun demikian adanya, bulan Muharram sangat berbeda dengan bulan-bulan yang lain, salah satunya adalah bulan suci Ramadhan. Karena di dalam bulan Ramadhan, keseluruhan tradisi dan amaliah yang ada di masyarakat masih bisa dianggap murni syariat. Ibadah puasa, salat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, iktikaf di masjid dan lain sebagainya merupakan tuntutan syariat semata.

Hal tersebut sangat berbeda dengan bulan Muharram, karena amaliah dan tradisi yang telah mengakar di masyarakat sudah beraroma kebudayaan. Dengan artian, akulturasi syariat dan budaya sangat terasa kental di dalamnya. Salah satu bukti nyata adalah kebudayaan masyarakat Jawa. Mereka menyebut bulan Muharram dengan nama bulan Suro. Masyarakat Jawa menganggap bulan Suro (Muharram) memiliki aura dan nilai magis yang cukup tinggi. Sehingga mereka memiliki beberapa ritual khusus di dalamnya, diantaranya adalah ritual larung sesaji, memandikan pusaka atau keris, Tapa Bisu, sesajen para Danyang, dan lain sebagainya.

Melihat realita budaya yang demikian adanya, umat Islam memiliki cara pandang atas langkah yang harus diambil. Jika terdapat sebuah budaya yang tidak mengandung unsur negatif dan bisa dipertahankan,  maka Islam akan mempertahankannya. Atau jika budaya tersebut melenceng dari asas-asas agama, maka syariat akan mengubahnya, mengislamkannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Atau jika sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan karena bertentangan dengan nilai-nilai pokok agama, maka islam akan menghapusnya.

Tindakan dan cara tersebut telah dicontohkan Rasulullah saw. dalam strategi dakwahnya. Kedatangan Rasulullah saw. memiliki misi meluruskan norma-norma yang tidak sesuai dengan ajaran tauhid di samping melestarikan budaya masyarakat Arab yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.[3] []waAllahu a’lam

 

________________

[1] Shahih Al-Bukhari, IV/107.

[2] Umdah al-Qori’, XXI/149, CD Maktabah Syamilah.

[3] Hujjah Al-Balighah, juz 1 hal 284.

Refleksi Tahun Baru Islam

Jarum jam terus berputar, menjadi pertanda perputaran kehidupan semakin berkurang. Kenangan masa lalu pun bersedia untuk dikenang. Walaupun ada yang tertinggal di setiap keberangkatan, dan ada yang terbawa pada saat ditinggalkan, harus diakui semua itu adalah realita kehidupan.

Tahun baru Hijriyyah yang datang akan menandai dimulainya sebuah babak baru dalam episode-episode kehidupan yang dijalani oleh setiap orang, setiap umat, atau setiap bangsa. Menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya merupakan sebuah keharusan demi menapaki babak baru yang akan dimulai.

Untuk merealisasikannya, sikap dan tindakan yang palig utama dilakukan adalah evaluasi. Sebuah upaya untuk mengoreksi diri dari kekurangan-kekurangan serta membenahi dan meningkatkan kualitas diri. Seluruh elemen kehidupan perlu memprioritaskan aspek ini, mulai dari individu perorangan, organisasi, umat, maupun bangsa. Karena pada dasarnya, aspek ini yang akan menjadi pijakan dasar dalam melangkah dan menentukan sikap serta tindakan di tahun berikutnya. Karena sudah menjadi rahasia umum, tanpa evaluasi yang benar dan matang akan nyaris mustahil atau setidaknya sangat mustahil bagi siapapun untuk melakukan pembenahan dan peningkatan secara maksimal fase kehidupan di tahun selanjutnya.

Dengan demikian, tahun baru Islam menjadi  momentum pengayaan diri untuk melakukan intropeksi bagi setiap individu manusia guna memperbaiki kualitas diri yang pada gilirannya mengantarkan umat pada kemajuan dan kejayaannya. Allah swt. telah berfirman dalam al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”, (QS. Ar-Ra’du: 11)

Selama suatu kaum enggan melakukan evaluasi diri dan membenahi kemunduran serta ketertinggalannya, maka Allah swt. tidak akan menjadikan mereka umat yang maju. Yang perlu digarisbawahi dalam konteks ini, bukan berarti Allah swt tidak mampu untuk memajukan umat dengan kekuasaan-Nya. Karena pada dasarnya, Allah swt. maha mampu untuk memajukan umat-Nya tanpa campur tangan dan partisipasi mereka. Hanya saja, Allah swt. telah menjadikan hukum sebab-akibat menyatu dan tidak dapat dipisahkan dari instrumen indah kehidupan. Sehingga tak heran, pada ayat selanjutnya Allah swt. berfirman:

وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚوَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

“Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka sendiri”, (QS Ar-Ra’du: 11)

Demikian cara islami yang mesti dilakukan umat Islam dalam menyambut tahun baru Islam. Sehingga pengagungan dan kemuliaan yang ada di dalamnya tak sebatas simbolis euforia belaka. Namun lebih dari itu, yakni tahun baru Islam sebagai ajang untuk membangun kemajuan dan integritas umat, bangsa dan negara. []waAllahu a’lam

Muallaf Berkat Asyura’

Salah seorang ulama, yaitu Imam Al-Yafi’I menceritakan:

Sesungguhnya di kota Ray (kota tertua di provinsi Tehran, Iran) terdapat seorang Qadhi (Hakim) yang sangat kaya raya.

Pada suatu hari yang bertepatan dengan hari Asyura’ (10 Muharram), datanglah seorang fakir miskin kepadanya. “Semoga Allah memuliakan anda. Wahai tuan Qadhi, saya adalah orang fakir yang memiliki tanggungan keluarga. Dan demi kumuliaan hari ini, saya meminta tolong kepada engkau agar memberiku sepuluh buah roti, lima potong daging, dan dua dirham,”. Kata orang fakir itu memulai pembicaraan.

Kemudian sang Qadhi menjanjikan akan memberinya di waktu Dhuhur. Orang fakir itu pun kembali pada sang Qadhi pada waktu Dhuhur. Namun, sang Qadhi kembali menjanjikan akan memberinya di waktu Ashar. Saat waktu Ashar tiba, sang Qadhi masih belum memberikan sesuatu apapun. Maka, orang fakir itu pun pergi dalam keadaan patah hati.

Kemudian, dalam perjalanannya, dia bertemu dengan seorang Nasrani yang sedang duduk di depan pintu rumahnya. Orang fakir itu berkata pada orang Nasrani tersebut, “Demi keagungan hari ini (hari Asyura’), berilah aku sesuatu,”.

“Hari apakah sekarang ini?,” tanya Nasrani tersebut.

Maka orang fakir itu menjelaskan tentang keutamaan hari Asyura’. Mendengar penjelasan itu, orang Nasrani tersebut berkata, “Katakanlah apa kebutuhanmu, karena engkau telah bersumpah dengan keagungan hari ini,”.

Lantas, orang fakir itu akhirnya menyebutkan seluruh kebutuhannya kepada sang Nasrani, yaitu sepuluh buah roti, lima potong daging, dan dua dirham. Tanpa pikir panjang, orang Nasrani itu memberinya sepuluh gandum dalam suatu takaran tertentu, seratus potong daging, dan dua puluh dirham.

“Ini semua untuk dirimu dan keluargamu. Selama aku masih hidup, akan kuberi setiap bulan demi kemulian hari ini,” ucap orang Nasrani tersebut.

Setelah menerima pemberian dari orang Nasrani, akhirnya orang fakir itu pulang membawa pemberian tersebut ke rumahnya.

Ketika waktu malam telah tiba, sang Qadhi tertidur dengan pulasnya. Dalam tidurnya, ia bermimpi mendengar suara yang tidak diketahui asalnya. “Angkatlah kepalamu,” begitulah terdengar dari suara itu.

Sang Qadhi pun mengangkat kepalanya. Tiba-tiba dia melihat dua bangunan istana yang dibangun dari batu bata emas perak dan satunya lagi dibangun dari batu permata Yaqut merah. Dia bertanya, “Wahai tuhanku, apa dua istana ini,?”.

“Kedua istana ini adalah milikmu, seandainya engkau memenuhi kebutuhan orang fakir itu. Ketika kamu menolaknya, maka kedua istana itu milik seorang Nasrani,” terdengar sebuah jawaban.

Keesokan harinya, sang Qadhi pergi menemui orang Nasrani yang disebut di dalam mimpinya tersebut.

“Amal kebaikan apa yang kau perbuat tadi siang?” tanya sang Qadhi.

Mendengar pertanyaan itu, orang Nasrani membalikkan pertanyaan, “Ada apa dengan itu?”.

Akhirnya, sang Qadhi menceritakan semua apa yang ada dalam mimpinya. Sang Qadhi kemudian berkata, “Juallah amal baik yang telah kau lakukan kepada orang fakir itu kepadaku dengan harga seratus dirham,”.

“Wahai Qadhi, setiap amal yang diterima itu harganya mahal. Aku tidak akan menjualnya sekalipun dengan harga bumi dan isinya. Apakah engkau menyayangkan kedua istana itu untukku?” jawab orang fakir itu.

“Bukankah engkau bukan orang Islam?” sang Qadhi balik bertanya.

Saat itu juga orang Nasrani tersebut memotong ikat pinggangnya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, “Tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya nabi Muhammad adalah utusan Allah. Dan sesungguhnya agama Muhammad adalah agama yang benar,”.

[Disarikan dari kitab Irsyad Al-’Ibad, karya Syaikh Abdul ‘Aziz Muhammad As-Salman.]

 

 

 

99 Bedug Bertalu se-penjuru Kediri

LirboyoNet, Kediri—Bulan Muharram seringkali diartikan sebagai simbol hijrah oleh kaum muslim. Bulan yang menjadi awal dari sebelas bulan yang lain dalam penanggalan hijriyah ini dianggap mewakili istiadat hijrah kaum muslim. Peristiwa-peristiwa agung di dalamnya menguatkan kaum muslim untuk berani melangkahkan kakinya menuju perubahan yang lebih baik.

KH. Abdul Hamid Abdul Qodir, Rois Syuriah PCNU Kota Kediri mengungkapkannya di dalam even Parade 99 Bedug, Kamis (21/09) kemarin. “Hijrah pada dasarnya adalah berpindah dari satu keadaan yang buruk, menuju keadaan yang lebih baik. Maka tahun baru Hijriyah ini harus kita maknai dengan keberanian kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan positif.”

PCNU Kota Kediri, seperti yang diakui Ketua PCNU, KH. Abu Bakar, menyelenggarakan even ini demi  menyongsong tahun baru 1439 Hijriyah. Ini tidak lepas dari konteks awal tahun yang selalu diperingati sebagai pembuka lembaran baru dalam alur kehidupan masyarakat Indonesia kini. Karenanya, perlu diadakan even yang dapat menjadi simbol lembaran baru itu.

Lapangan Barat Aula al-Muktamar siang itu benar-benar padat oleh ratusan kendaraan. Kendaraan itu telah direka sedemikian rupa. Bermacam desain mobil mereka perlihatkan. Ada di antaranya yang berbentuk lonjong dan panjang layaknya perahu. Ada yang menyusun jerami-jerami di atasnya seperti gubug. Ada yang mengusung sound system besar bertumpuk-tumpuk. Ada pula yang memakai minitruk, tanpa atap, tanpa hiasan, dan hanya berisikan anak-anak kecil membawa rebana. Semua memiliki tujuan yang sama, memeriahkan even yang jarang ada di Kota Kediri ini.

Parade ini memilih Pondok Pesantren Lirboyo sebagai titik awal pemberangkatan. Kemudian, rombongan parade diberangkatkan ke arah utara menuju simpang empat Semampir, simpang tiga Kantor Pos, hingga pada akhirnya finish di Balai Kota Kediri.

Even yang dilangsungkan sejak pukul 13.00 WIB ini diikuti oleh kurang lebih 100 kendaraan bak terbuka, dan ribuan masyarakat Kota Kediri.][