Salah Satu Cara Allah Mencintai Nabi Muhammad

Cara Allah Mencintai Nabi

Pernahkah Anda memperhatikan berapa kali nama para nabi diabadikan dalam Al-Qur’an? Jika kita frekuensi penyebutan nama para nabi memiliki angka yang sangat kontras. Nama Nabi Musa AS, misalnya, Allah sebut hingga 136 kali yang tersebar di berbagai surah seperti Al-A’raf, Al-Qashas, Taha, hingga Al-Baqarah.

Di sisi lain, Nabi Muhammad saw.—sosok kekasih Allah yang namanya bersama dengan Allah dalam kalimat syahadat—hanya Allah sebutkan namanya secara eksplisit sebanyak 4 kali saja dalam Al-Qur’an:

  1. QS. Ali ‘Imran: 144

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul…”

  • QS. Al-Ahzab: 40

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu…”

  • QS. Muhammad: 2

وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“…dan beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad…”

  • QS. Al-Fath: 29

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

“Muhammad adalah utusan Allah…”

Ditambah satu kali penyebutan nama Ahmad dalam QS. As-Saff: 6.

وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

Melihat fenomena ini, selanjutnya kerap memicu pertanyaan, jika ada kaidah “man ahabba syai’an katsura dzikruhu” (barang siapa mencintai sesuatu, ia akan sering menyebutnya), mengapa nama sosok yang paling Allah cintai justru sangat jarang Allah panggil dengan nama aslinya?

Baca juga: Ayat Al-Qur’an tentang Cinta Tanah Air

Bukan Sekadar Nama, Tapi Setiap Inci Tubuh yang Disapa

Pertanyaan tersebut terjawab dengan begitu indah oleh para ulama. Salah satunya adalah Imam Al-Zarqani dalam kitab Syarh ‘ala al-Mawahib al-Ladunniyyah. Ketika menjelaskan beberapa keistimewaan Nabi Muhammad, Imam Al-Zarqani menjelaskan bahwa Allah memiliki cara yang jauh lebih intim juga spesial dalam mengekspresikan cinta-Nya kepada Rasulullah.

Al-Qur’an tidak sekadar memanggil nama beliau, melainkan mengabadikan bagian demi bagian dari fisik dan jiwa Rasulullah:

Allah menyebut hati Nabi:

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى

“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” (QS. An-Najm: 11)

dan juga

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ، عَلَى قَلْبِكَ

“Dia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu…” (QS. Asy-Syu’ara: 193-194)

Lidah beliau juga Allah sebut dalam firmannya:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginan hawa nafsunya.” (QS. An-Najm: 3)

dan

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ

“Maka sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an itu dengan bahasamu (lidahmu)…” (QS. Maryam: 97)

Mata nabi juga Allah puji:

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى

“Penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui batas.” (QS. An-Najm: 17)

Wajah beliau juga:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ

 “Sungguh, Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit…” (QS. Al-Baqarah: 144)

Lalu ada ayat yang pula menyebut tangan dan leher beliau:

وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ

“Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu…” (QS. Al-Isra’: 29)

Selanjutnya punggung dan dada beliau:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ، وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ، الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu, dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, yang memberatkan punggungmu?” (QS. Asy-Syarh: 1-3)

Bahkan, kehormatan ini meluas hingga ke silsilah beliau. Suku asal Nabi Muhammad, yaitu Suku Quraisy, diabadikan menjadi nama salah satu surah khusus dalam Al-Qur’an.

Baca juga: Diasuh Jibril Jadi Kafir, Dibesarkan Fir’aun Jadi Nabi: Belajar dari Kisah Dua Musa

Cinta di Atas Cinta

Melalui pendekatan tekstual ini, kita dapat memahami bahwa cinta tidak selalu diukur dari seberapa sering sebuah nama dipanggil secara formal. Bagi Sang Kekasih Agung, Allah swt. tidak hanya menyebut namanya, tetapi memotret seluruh gerak-gerik, emosi, beban hidup, hingga fisik beliau dengan kelembutan yang tiada tanding.

Ini adalah bentuk penyebutan yang jauh lebih berkesan, mendalam, dan memuliakan—sebuah bukti otentik tentang cinta di atas cinta.

Wallahu a’lam

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses