Bulan Ṣafar adalah salah satu dari dua belas bulan dalam kalender Hijriah yang sering kali disalahpahami oleh sebagian masyarakat. Di sebagian daerah, masih ada keyakinan bahwa bulan ini identik dengan kesialan, sehingga sebagian orang menghindari melakukan pernikahan, bepergian jauh, atau memulai usaha pada bulan ini. Namun, benarkah keyakinan ini memiliki dasar dalam Islam?
Baca juga: Hukum dan Etika Menguap dalam Salat
Asal penamaan bulan Ṣafar
Imam Ibn Katsīr dalam Tafsīr al-Qurʾān al-ʿAẓīm menjelaskan bahwa bulan Ṣafar dinamakan demikian karena pada masa jahiliah, orang-orang Arab meninggalkan rumah mereka untuk berperang atau melakukan perjalanan jauh. Akibatnya, rumah-rumah mereka menjadi kosong (ṣafira al-makānu berarti “tempat itu kosong”). Kata Ṣafar juga dapat dijamakkan menjadi Aṣfār, sebagaimana kata jamal (unta) dijamakkan menjadi ajmāl.
وَصَفَرٌ سُمِّيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوتِهِمْ مِنْهُمْ حِينَ يَخْرُجُونَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ، يُقَالُ: صَفِرَ الْمَكَانُ إِذَا خَلَا
Dan bulan Ṣafar dinamakan demikian karena rumah-rumah mereka menjadi kosong ketika mereka keluar untuk berperang dan melakukan perjalanan. [Ibn Katsir, Tafsīr al-Qurʾān al-ʿAẓīm, (Bayrūt: Dār al-Kutub al-ʿIlmīyah, cet. 1), 1419 H, jld. 4, hlm. 129.]
Jadi, penamaan bulan Ṣafar sama sekali tidak berkaitan dengan kesialan atau malapetaka, melainkan murni karena fenomena sosial pada masa itu.
Baca juga: Salat Subuh Kesiangan? Begini Cara Baca Qunut Tanpa Jadi Perbincangan
Pandangan Islam tentang keyakinan bulan Ṣafar
Adapun keyakinan bahwa bulan Ṣafar membawa sial adalah warisan dari kepercayaan jahiliah. Dalam Laṭāʾif al-Maʿārif, Ibn Rajab al-Ḥanbalī menegaskan bahwa mengkhususkan suatu waktu tertentu — seperti bulan Ṣafar — sebagai waktu sial adalah tidak benar.
وَأَمَّا تَخْصِيصُ الشُّؤْمِ بِزَمَانٍ دُونَ زَمَانٍ – كَشَهْرِ صَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِ – فَغَيْرُ صَحِيحٍ
Adapun mengkhususkan kesialan pada suatu waktu tertentu — seperti bulan Ṣafar atau selainnya — maka itu tidak benar. [Abd al-Raḥmān ibn Aḥmad ibn Rajab al-Ḥanbalī al-Dimashqī, Laṭāʾif al-Maʿārif, (Riyāḍ: Dār Ibn Khuzaymah, cet. 1, 1428 H/2007 M.), hal. 189.]
Beliau menambahkan bahwa semua waktu adalah ciptaan Allah. Waktu menjadi berkah jika diisi dengan ketaatan, dan menjadi sial jika diisi dengan maksiat. Kesialan yang sebenarnya adalah kemaksiatan kepada Allah, bukan karena bulan atau hari tertentu.
Ibnu Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu berkata:
أخبرنا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ قَالَ: إِنْ كَانَ الشُّؤْمُ فِي شَيءٍ فَهُوَ فِيمَا بَيْنَ اللَّحْيَيْنِ، يَعْنِي اللِّسَانَ، وَمَا شَيءٌ أَحْوَجُ إِلَى سِجْنٍ طَوِيلٍ مِنَ اللِّسَانِ.
Telah mengabarkan kepada kami ‘Abd al-Razzāq, dari Ma‘mar, dari al-A‘mash, bahwa Ibnu Mas‘ūd berkata: “Jika kesialan itu ada pada sesuatu, maka ia berada di antara dua rahang,” yakni lidah. “Dan tidak ada sesuatu yang lebih membutuhkan penjara yang panjang daripada lidah.” Abū Bakr ‘Abd al-Razzāq ibn Hammām al-Ṣan‘ānī, al-Muṣannaf, (Dar at-Ta’shil), cet. ke-2, 1437 H/2013 M, jld. 10, hlm. 34.
Ungkapan ini menekankan bahwa sumber kesialan terbesar justru adalah ucapan buruk yang keluar dari mulut manusia.
Baca juga: Tata Cara Mencuci Pakaian Najis Dengan Mesin Cuci
Hadis Nabi
Rasulullah ﷺ secara tegas membantah keyakinan jahiliah tersebut dalam hadis sahih:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
Tidak ada penyakit menular (yang memberi pengaruh dengan sendirinya), tidak ada tathayyur (menganggap sial), tidak ada burung hantu (sebagai pertanda kematian), dan tidak ada kesialan pada bulan Ṣafar.
Penjelasan para ulama, seperti Syekh Abū Bakr Shaṭṭā al-Dimyāṭī, menyebut bahwa maksud “tidak ada penularan” adalah:
…adalah “tidak ada penularan yang memberi pengaruh dengan sendirinya”, sehingga tidak menafikan bahwa penularan itu dapat terjadi, namun hal itu terjadi dengan perbuatan Allah Ta‘ālā. Sebab hadis ini datang untuk membantah keyakinan orang-orang jahiliah yang menyandarkan terjadinya suatu perbuatan kepada selain Allah Ta‘ālā. [Abū Bakr ʿUthmān ibn Muḥammad Shaṭṭā al-Dimyāṭī, Iʿānat al-Ṭālibīn ʿalā Ḥall Alfāẓ Fatḥ al-Muʿīn, Bayrūt: Dār al-Fik, cet. 1, 1418 H/1997 M), jld. 3, hlm. 382.]
Baca juga: Sawah Tercampur Air Bekas Basuhan Babi, Najiskah?
Bukti Bahwa Bulan Ṣafar Bukan Bulan Kesialan
Di sisi lain, Habib Abu Bakar al-‘Adnī dalam salah satu karyanya menyebutkan beberapa peristiwa yang membantah keyakinan masyarakat Jahiliah yang menganggap bulan Ṣafar sebagai bulan kesialan. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain:
- Rasulullah ﷺ melangsungkan pernikahan dengan Sayyidah Khadijah pada bulan Ṣafar.
- Pernikahan antara Sayyidina ‘Ali dan Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā’ juga terjadi pada bulan Ṣafar.
- Hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah bertepatan dengan bulan Ṣafar.
- Perang pertama, yaitu Perang Abwā’, terjadi pada bulan Ṣafar, di mana umat Islam justru meraih kemenangan telak atas kaum kafir.
- Pada bulan Ṣafar juga terjadi peperangan besar, yaitu Perang Khaybar, yang dimenangkan oleh umat Islam. [Abu Bakar al-‘Adnī, Mandzûmatu Syarḥil Ātsār fī Mā Warada ‘an Syahri Ṣafar, hlm. 9]
Baca juga: Hukum Wudu bagi Difabel: Perlukah Membasuh Anggota Tubuh Palsu?
Boleh Mempercayai Adat, Asalkan Pengaruh Tetap dari Allah Swt.
Sedangkan Ibnu al-Firkāḥ meriwayatkan dari Imam Syafi’i menjelaskan bahwa:
. وَذَكَرَ ابْنُ الْفِرْكَاحِ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ: إِنْ كَانَ الْمُنَجِّمُ يَقُولُ وَيَعْتَقِدُ أَنَّهُ لَا يُؤَثِّرُ إِلَّا اللهُ، وَلَكِنْ أَجْرَى اللهُ الْعَادَةَ بِأَنَّهُ يَقَعُ كَذَا عِنْدَ كَذَا، وَالْمُؤَثِّرُ هُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَهَذَا عِنْدِي لَا بَأْسَ بِهِ
“Jika seorang ahli ilmu falak (astrolog) berkata dan meyakini bahwa tidak ada yang memberi pengaruh selain Allah, namun Allah-lah yang menjalankan kebiasaan (sunnatullah) bahwa sesuatu terjadi bersamaan dengan sesuatu lainnya, dan yang memberi pengaruh sebenarnya adalah Allah ‘azza wa jalla, maka menurutku hal itu tidak mengapa. [Ibn Ziyād, Gāyat Talkhīṣ al-Murād, (Beirūt: Dār al-Fikr), t.t., hlm. 268.]
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





