Malakah Turats

      Malakah atau secara terjemah adalah watak, atau biasa diungkapkan sebagai sifat yang menancap kuat yang dihasilkan dari pergumulan yang intens atas suatu hal. Pengulangan yang secara konsisten dialami oleh manusia pada suatu hal secara alamiah akan menumbuhkan watak dalam diri manusia. Tak terkecuali watak bahasa pada manusia.

Dalam hal bahasa, pendengaran menempati posisi sentral dalam pembentukan watak kebahasaan. Sesuatu yang mendominasi pendengaran manusia akan secara alamiah membentuk watak kebahasaan seseorang. Termasuk juga bahasa Arab.(1)

        Pada masa awal Islam, penyampaian bahasa Arab hanya mengandalkan malakah masyarakat Arab, belum diformulasikan dalam pola-pola (qoidah) yang diikat dalam sebuah cabang keilmuan. Malakah masyarakat Arab terjaga dengan baik seiring dengan terbatasnya pergumulan secara intens bangsa arab dengan masyarakat non Arab (Ajam). Posisi pendengaran sebagai induk dari malakah kebahasaan relatif steril.

       Pada kurun setelahnya, pembauran dengan bangsa non arab tak terelakkan. Hal ini merupakan kompensasi dari semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam. Malakah kebahasaan dari bangsa Arab terancam. Kekhawatiran ini dibuktikan dengan semakin banyaknya ditemukan kecelakaan-kecelakaan bahasa (lahn) pada masa itu. Ketika hal ini dibiarkan, maka akan berimbas pada pemahaman atas syari’at, mengingat bahwa sumber primer syari’at yakni : Al Qur’an dan Hadits menggunakan bahasa Arab. Keprihatinan atas hal ini menjadi embrio lahirnya ilmu-ilmu untuk memahami bahasa Arab. Lahirlah secara beruntun ilmu nahwu, sorof, mantiq, ma’ani, bayan.(2)

       Semakin jauh kurun berjalan, semakin jauhnya kualitas sumber daya manusia menjadi penghalang yang nyata untuk mereguk air syari’at secara langsung dari sumber primernya secara langsung yakni : Al Qur’an dan Hadist.

     Untungnya para ulama meninggalkan warisan tak ternilai harganya berupa karya-karya yang kita sebut turats. Ia hadir sebagai jembatan kita untuk memahami al-Qur’an dan Hadist. Maka jargon kembali kepada al-Qur’an dan hadist tanpa bantuan turats para ulama, tak lebih dari keangkuhan belaka. Maka, pemahaman yang baik atas turats ulama adalah hal yang penting dewasa ini dalam upaya memahami syari’at. Menumbuhkan malakah turats haruslah digalakkan.

Pembagian malakah

     Menurut Sayyid Alawi bin Ahmad as-Segaf, malakah turats mempunyai tiga tingkatan(3) :

A) Malakah Istihshol

     Yakni sifat yang terpatri di dalam diri yang menjadi jalan untuk menerima malakah selanjutnya. Dalam gambaran bangunan, ia adalah pondasi. Ia bisa dihasilkan dengan secara konsisten menerima pengajaran turats dari guru.

B) Malakah Istikhroj

Ini adalah tingkatan selanjutnya dari malakah turats. Dengan malakah ini, seseorang akan mampu memahami turats dengan mudah. Ia bisa dihasilkan dengan menerapkan pengetahuan ilmu alat dalam pembacaan turats dan juga dengan konsisten me-mutholaah atas turats. Ketika dua hal ini secara konsisten dilakukan, maka akan muncul malakah puncak yakni : Malakah Istihdhor.

C) Malakah Istihdlor

Dengan Malakah ini, seseorang dapat menghadirkan referensi turats dengan tanpa melihat sumbernya. Karena turats telah menyatu dengan dirinya. Ini adalah malakah yang tersulit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.