Nabi Yusuf dan Zulaikho
Ada sebuah kisah yang sangat masyhur tentang tipu daya wanita yang ingin menjebak Nabi Yūsuf. Diceritakan bahwa tak kala zulaikho tertangkap basah oleh suaminya qitfir sedang menggoda nabi yusuf di dalam kamar ia balik menuduf bahwa yang menggoda adalah Nabi Yusuf dan berniat memfitnahnya:
“Suamiku! Tidak ada balasan bagi orang yang mengganggu istrimu kecuali di penjara atau disiksa dengan siksa yang pedih,” Zulaikho melempar tuduhan pada Yūsuf selaku biang keladi perilaku keji ini.
Yūsuf menunduk, “Ia yang menghendaki diriku.”
Bayi kecil dalam ayunan yang menyaksikan peristiwa itu, secara tiba-tiba bersaksi:
“Jika pakaian Yūsuf robek di depan maka Zulaikha adalah pihak yang benar, tapi jika robek di belakang maka Zulaikho berbuat bohong dan Yūsuf adalah orang yang benar.”
Baca juga: Hukum Salat Jumat bagi Wanita
Zulaikho kaget bukan kepalang, ia tidak menyangka sepupunya yang masih bayi yang ia biarkan begitu saja di kamarnya berbicara dan bersaksi. Kemudian Qitfir memeriksa baju Yūsuf. Lalu dengan tajam ia menatap istrinya:
“Ini adalah rekayasamu, sesungguhnya intrik wanita adalah tipu daya yang besar,” Qitfir memarahinya.
Lalu ia berkata pada Yūsuf: “Berpalinglah! Jangan kau ceritakan peristiwa ini.”
Kemudian beralih menatap istrinya: “Mintalah maaf Zulaikha atas dosamu. Sesungguhnya kau adalah orang yang salah dan kau telah menuduh Yūsuf.”
Laki-laki Mesir memang terkenal tidak mudah terbakar api cemburu atau memang rasa cemburu mereka mengikis, sehingga mereka lebih toleran membebaskan wanita memilih.
Dari cerita al-Qur’an tersebut pada redaksi:
فَلَمَّا رَءَا قَمِيصَهُۥ قُدَّ مِن دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُۥ مِن كَيْدِكُنَّ ۖ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ
“Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar”.
Penafsiran Ayat Tipu Daya Wanita
Redaksi dalam ayat tersebut secara tekstual mengatakan bahwa tipu daya wanita sangat besar. Terkait makna tekstual ini ulama berbeda pandangan. Pertama, sebagian ulama setuju dengan tekstual ayat tersebut hal ini karena ada beberapa alasan yang menguatkannya. Bahwa mufassirin berbeda pendapat dalam men-tafsiri ayat yang menjelaskan tentang tipu daya wanita. Setidaknya ada dua pendapat yang dapat kami simpulkan:
Baca Juga: Aurat Wanita Perspektif 4 Mazhab
Pertama, ulama yang memaknai sesuai kemutlakan ayat yang berarti tipudaya perempuan lebih besar dari pada tipudaya manapun termasuk laki-laki dan setan. Kedua, ulama yang melihat konstektual ayat, bahwa ayat tersebut berkata bahwa tipudaya perempuan kuat dalam hal godaan syahwat hubungan badan.
Pendapat pertama:
Dalam tafsirnya imam al-qurtubi meriwayatkan hadist dari muqhotil dari yahya ibn abi katsir dari abi hurairoh bahwa rasulullah berkata:
Sungguh tipudaya perempuan lebih besar dari tipu daya syaithon karena allah berkata dalam satu ayat: “sungguh tipudaya setan lemah” kemudian dalam ayat lain yang menjelaskan tipudaya perempuan allah berkata: “sungguh tipu daya wanita lebih besar”.
Baca Juga: Menikahi Wanita Hamil Karena Zina
Pendapat pertama ini juga menyampaikan alasan logis kenapa tipudaya perempuan lebih besar daripada tipu daya setan. Sebab perempan adalah godaan yang secara langsung nampak pagi manusia. Berbeda dengan godaan setan yang tidak tampak akan tetapi berupa was-was yang muncul dari dalam hati. Mereka juga mengatakan bahwa dalam tipudaya perempuan terdapat dua tipudaya sekaligus, yakni perempuan yang menjadi perangkap paling kuat bagi setan menggoda manusia serta tipu daya setan itu sendiri.
Pendapat Kedua:
Ayat di atas tidak dalam konteks penegasan dari Allah Swt. bahwa tipu daya wanita sangat besar. Akan tetapi konteks ayat tersebut sedang menceritakan ucapan qitfir yang memarahi istrinya zulaikha karena tertangkap basah hendak memfitnah Nabi Yusuf, padahal aslinya zulaikha lah yang merayu Nabi Yusuf.
Baca Juga: Wanita Terbaik Sepanjang Masa
Hadis nabi yang diriwayatkan Imam al-Qurtubi terdapat kecacatan, bahwa menurut dalam karangannya at-Tafsir wa al-Mufassirun mengatakan hadist tersebut hanya diriwayatkan oleh imam qurtubi. Kemudian Yahya Ibn Katsir tidak pernah didengar meriwayatkan dari Abi Hurairoh, terlebih muqotil dalam susunan sanad tersebut diduga adalah Muqotil Ibn Sulaiman yang dikenal sebagai golongan ulama tajzim.
Kedua ayat tentang tipudaya setan dan perempuan memiliki konteksnya sendiri-sendiri. Tipudaya perempuan sangat besar jika dihadapkan kepada laki-laki. Banyak laki-laki yang gagal mencapai cita-cita dalam belajar dan karirnya harus gagal karena godaan perempuan. Sementara tipudaya setan lemah jika dihadapkan kepada pertolongan Allah Swt. kepada hambanya yang terpilih, Allah berkata:
Sesungguhnya hamba-hambaku tidak ada kekuasaan bagi kalian (setan) atas mereka.
Mereka juga mengatakan bahwa sumber tipudaya perempuan adalah tipudaya setan, maka tidak mungkin bisa lebih besar.
Jangan lupa kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
