All posts by tubagus godhonfar

Urgensi Ukhuwah Hadapi Pandemi (Bagian 1)

Pandemi covid-19, berdampak penerapan lockdown dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) serta larangan mudik hari raya yang ditetapkan pemerintah. Meski pembatasan ruang gerak telah sesuai protokol  kesehatan, namun tetap terasa berat dan ganjil tersekat, jauh dari kampung halaman, keluarga, tetangga, teman, dan saudara seagama. Banyak batin orang berkecamuk menyoal penghidupan dirinya dan orang yang dinafkahi karena mereka tak lagi dapat bekerja. Bagaimana kita menyikapinya?

            Untuk keadaan berjarak ini, saling mencintai karena Allah Swt. adalah roh dan penguat ukhuwah, Syekh Muhammad Mutawali as-Syarawi menuturkan, dekat atau jauh bukan tentang jarak, tempat, atau pertemuan. Namun dekat atau jauh tergantung perasaan hati. (As-Sya’rawi, tt)

            Senada, Ibnu Asakir meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. “Jika dua orang saling mencintai karena Allah Swt. dan salah satu dari mereka berdua di timur, sementara yang lainnya bertempat di barat, niscaya kelak Allah Swt. mempertemukan mereka berdua di hari kiamat.” (Ibnu Katsir, tt)

            Ukhuwah berasal dari akar kata akhun, secara etimologi bermakna tholab (pencarian). Menurut Raghib al-Isfihani bermakna ikatan (hubungan) dengan orang lain dari segi kelahiran seayah seibu, atau salah satunya, bisa juga dari tunggal susuan (radha’).

            Kata akhun dialegorikan (isti’arah) ke bentuk ikatan dengan orang lain, menilik aspek suku bangsa (qabilah), agama, pekerjaan, pergaulan, cinta kasih dan lain-lain, yang masih melingkupi kecocokan atau keselarasaan. (Al-Ashfihani, 1970)

            Persaudaraan (Ukhuwah), menurut al-Ghozali, layaknya ikatan pernikahan. Artinya Ukhuwahmengandung tugas dan tangggung jawab yang wajib ditunaikan kepada saudara. Kewajiban itu terangkum dalam delapan poin, yakni segi harta, perlakuan, lisan, hati memaafkan, mendoakan, tulus, integritas, meringankan, tidak menyusahkan, dan tidak penuh tuntutan. (Al-Ghozali, 2015)

            Syekh Athiyah bin Muhammad Salim mengatakan: ukhuwah islamiyah lebih kuat dari pada ikatan ukhuwah secara nasab dan kekerabatan. Dan kita dapat melihat bahwa berbagai ras, suku, bangsa yang berbeda-beda dan saling berjauhan–bersaudara di bawah bayangan pohon besar Islam. (Athiyah, tt)

            Muhammad Amin al-Alawi as-Syafi’i mengungkapkan, ukhuwah berlandaskan Islam lebih kuat dibandingkan ukhuwah nasab ketika tanpa ruh ukhuwah islamiyah. Ihwal nyata saat kematian menjemput, saudara non Muslim atau dua anak bersaudara hasil zina tidak dapat saling diwarisi dan mewarisi  harta. Hukum ini muncul berdasarkan bahwa tidak ada legimitasi penyatu yang salah (al-jami’ al-fasid) dan tentu tak berefek pada subtansi ukhuwah sesungguhnya. Karena syariat Islam menjadi pokok dan pondasi dalam ukhuwah. (Al-Alawy As-Syafi’i, tt)

            Hal yang seirama disingkap oleh firman-Nya;

الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ

Al-akhilaa pada hari itu sebagiannya menjadi musuh sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67).

            Tafsir kata al-akhila adalah al-ashdiqa wa al-ahbab yang berarti teman akrab dan kekasih. Ayat yang menjelaskan pertemanan dan cinta kasih yang merupakan pilar ukhuwah, memberi rambu-rambu, bahwa ukhuwah harus berlandaskan takwa dan iman kepada Allah Swt. (As-Syirbini, tt) Para ulama menyebutnya sebagai Ukhuwah fi Ad-ddin.

            Berangkat dari perspektif ini, konsep ukhuwah yang diajarkan agama atau berdasarkan titah Allah Swt. dirumuskan oleh Kyai Ahmad Shidiq menjadi tiga konsep, yaitu ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, dan ukhuwah basyariah. (Rasyid, 2018)

            Implementasi Ukhuwah Hadapi Pandemi

            Selayaknya, kita kembali mempelajari tentang ukhuwah di masa pandemi ini dalam sabda multi interfensi dari Rasulullah Saw. empat belas abad lalu berupa:

 إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ ، فَلا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا ، فَلا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

“Jika kalian mendengar wabah melanda suatu wilayah, maka jangan kalian memasukinya. Dan jika wabah itu datang dan kalian berada di wilayah terdampak, maka janganlah kalian keluar karena lari darinya.” (HR. Bukhori)

            Menurut al-Kholil, Thoun adalah wabah penyakit. Sedangkan interfensi ulama saling bertentangan mengenai illat (alasan) larangan keluar dan masuk wilayah terdampak wabah. Namun terdapat dua pendapat menarik.

            Pendapat pertama, menurut Abu Thoyib Syamsul Haq al-Abidi, larangan memasuki wilayah terdampak wabah bersifat haram karena menjebloskan diri sendiri pada keadaan berbahaya. Sebagaimana dilarang dalam ayat al-Baqarah ayat 195. Interfensi ini mengajarkan lockdown dan segala pencegahan virus agar tidak menyebar. (Al-Abidi, tt)

            Pendapat kedua, menurut al-Ghozali, larangan keluar dari wilayah wabah dilatar belakangi solidaritas sosial. Jika orang-orang yang kuat, mampu dan sehat meninggalkan zona wabah, maka akan menghancurkan perasaan hati mereka yang tidak mampu keluar dari zona tersebut, serta orang-orang yang sakit tidak mendapatkan perawatan medis dan kebutuhan primer mereka, juga korban jiwa pada akhirnya tidak dirawat (tajhiz). (Bersambung)

Penulis: Arif Fahrijal

Baca juga: Harga Sebuah rasa Aman.

Simak juga: Prinsip dalam Beramal | KH. M. Anwar Manshur

Cerpen: KEPADA BURUNG JENIS LAIN

Bayang senja surut mengiring langkah mentari sebagai tanda kepulangan para nelayan. Di tepi pantai, beberapa bangku tersusun rapi hiasi lautan. Pada salah satunya, seseorang terduduk takzim tanpa sedikitpun memandang laut dihadapannya. Ia tampak berjibaku dengan bias wasangka, seolah menerka selaksa masalah untuk diubahnya menjadi solusi.

            Memang, masalah tak kenal waktu datang, tak pasti kapan ia pergi. Manusia dituntut untuk terus menghadapi. Namun jika tubuh sudah tak tahan, apakah pasrah adalah kunci untuk menjawab segalanya?

            “Pasrah bukanlah menyerah. Pasrah adalah fase terakhir yang harus dilakukan. Usaha, doa dan pasrah akan takdir harus saling terikat.” Ungkap salah satu ustadz yang kudengar dari surau tempatku dulu.

            Di hari yang lalu, tak jauh dari tempat yang sama. Kulihat orang itu asyik bercerita. Entah apa yang ada dalam pikirannya, ia acuhkan apapun, begitu syahdi dalam obrolan-obrolannya sendiri. Kukatakan “sendiri” karena memang benar-benar sendiri, tanpa satupun kulihat orang menemani-mendengarnya bercerita.

            Kuingat, hari itu gerimis rintik menghujam begitu pelan. Disaat yang lain berhambur pergi berteduh di bawah atap-atap warung yang ada, ia malah berdiri gagah menantang lautan. Anehnya, semakin lantang ia bercerita, semakin deras hujan turun.

            “Oh, angin. Oh, hujan. Oh, ombak.” Begitu seterusnya ia berucap.

            Dari jarak tak begitu jauh, aku mengamati laku orang itu. Aku takjub, ternyata bukan hanya hujan, angin juga sangat berteman baik dengannya. Bayangkan, saat ia menyapa “Oh, angin.” Seketika itu pula tetiba angin berhembus kencang, balik menyapa. Aku heran kenapa demikian bisa terjadi, angin-hujan kusaksikan mufakat untuk menghiburnya.

            Aku tak dapat menebak “oh” apalagi yang akan ia katakan. Orang kita, ia sudah gila. Berbeda, kurasa itulah yang disebut manusia sebagai seni. Seni penceritaan tanpa pencitraan.

            Hujan tetap berlangsung, ombak semakin meninggi. Sementara angin bertiup dengan suara mendebarkan hati, tetapi siapa kiranya yang akan mendengarnya? Alam berbicara sendiri tak peduli apakah ada atau tiada manusia menghuni. Lihat, bahkan sekarang alam seolah menyimak khusyuk keluh-kesah seseorang. Berbanding dengan manusia yang hanya mau mendengarkan jika itu sesuai dengan persepsi yang dimiliki.

            Hari-hari berikutnya aku tak menemukan orang itu disana. Aku merasa kehilangan sesuatu yang berharga, yang aku pun tak mengerti rasa kehilangan itu. Karena sampai detik ini, aku tak pernah memiliki keberhargaan yang sering disebut-sebut manusia. Lalu hari ini, setelah sekian waktu ia menghilang, kudapati orang itu lagi. Betapa bahagianya aku. Bahagia yang aneh. Bagaimana tidak, di saat kulihat orang itu nampak bersedih kenapa aku merasakan kesebalikannya? “Oh, sial. Aku terkena hipnotis, tapi aku sadar.”

***

            Aku semakin dibuat penasaran dengannya. Lalu kuputuskan untuk terbang mendekat, agar dapat kudengar kalimat apa saja yang ia ungkapkan. Sadar tak ada apapun di dekatnya, aku bertengger saja pada bangku sebelah, menjaga jarak agar tak dicurigai. Dari dulu memang aku dikenal sebagai “si pencuri dengar” di surau, rumah penduduk, atau pun masjid, bagiku sama saja. Menangkap hal yang menarik lalu menarasikannya pada segerombolan burung jenis lain adalah kehebatanku sebagai burung gereja.

            Nahas, ia menyadari keberadaanku. “Duhai burung, kemarilah mendekat.” Ucapnya menyapa. “Kemarilah, aku tak akan menyakitimu.” Katanya lagi.

            Selama ini aku tak pernah percaya pada manusia, tetapi kenapa aku merasa begitu yakin padanya? Tanpa daya tubuhku terbang begitu saja hinggap pada jemarinya. Dan aneh, saat bertengger, kakiku tak merasakan adanya tulang pada pangkal ibu jarinya.

            “Wahai, kenapa kau tampak begitu heran denganku?”

            Sungguh, bahkan ia bisa menangkap ekspresi wajahku—yang kata orang—sebegitu rupa semua burung tampak sama. “Siapa gerangan orang ini?” Tanyaku dalam hati.

***

            Kupandang langit yang mulai tampak petang. Segala hal yang sebelumnya terlihat jelas kini samar. Kesamaran yang membuat mata ayam-ayam ternak buta semalaman. Kesamaran yang menjadikan manusia kadang salah menyebut nama. Atau bahkan kesamarasn inilah yang menyebabkanku disebut sebagai burung gereja, seekor burung yang meski tiap hari pulang-pergi ke surau-masjid, akan tetap dipanggil sebagai burung penganut agama yang ada di gereja. Aku putus asa, lalu pergi dari surau mencari tempat baru. Kutelusuri seluruh pelosok tempat yang pada akhirnya singgah disini, di antara atap warga yang ada di tepi pantai Rembat. Tempat dimana aku bertemu dengan orang itu.

            Rasanya ingin sekali kuceritakan semua hal yang terjadi saat itu pada kalian, wahai burung-burung yang bukan satu jenis denganku. Namun, dengan keterbatasan, ini aku sampaikan. Jika suatu saat nanti kalian bertemu dengan seseorang yang senang bercerita sendiri, maka dia lah yang pernah berjumpa denganku. Ucapkan salamku padanya.[]

Penulis: Muhammad Abdu Fadlillah

Baca juga: Rahasia Bapak.

Simak juga: Kilas Pandang Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri 

Tujuh Puluh Tahun Beribadah, Seorang Saleh Tak Jua Pantas Masuk Surga

Ada seorang yang tekun beribadah. Dia salah satu umat Bani Israil. Ibadahnya tanpa cela. Tujuh puluh tahun lamanya.

Allah ingin menunjukkannya kepada malaikat. Ia mengutus beberapa dari mereka untuk datang menemuinya. Bukan untuk menunjukkan keistimewaan ibadahnya. Atau menunjukkan betapa mulianya si hamba di sisiNya.

Allah ingin para malaikat itu membawa kabar penting bagi si hamba. Memberi tahu apa yang dikehendaki Allah akan ibadah-ibadahnya.

“Wahai hamba Allah. Ketahuilah. Sungguh, ibadahmu yang banyak itu tak membuatmu pantas masuk surga.”

Tentu mengherankan. Tujuh puluh tahun beribadah ternyata tak menjamin dia mendapat balasan yang mulia. Bukankah sudah selayaknya, berbuat kebaikan mendapat kebaikan pula? Tetapi sang hamba nyatanya tenang-tenang saja. “Saya ini diciptakan Allah untuk beribadah. MenyembahNya. Ya saya beribadah sebisa-bisa saya.”

Malaikat lalu kembali. Mereka menghadap Allah. Melaporkan peristiwa musykil itu.

“Wahai Allah, tuhan kami. Engkau tentu lebih tahu apa yang akan kami katakan.”

Tentu saja Allah tahu. Tahu apa yang telah, sedang, dan akan terjadi.

“Meskipun begitu, ia tetap tidak berhenti beribadah. Aku, dengan kemuliaanKu, dengan kebaikan dan pengampunanKu, tak akan Aku acuh padaNya. Maka saksikanlah wahai malaikatKu, Aku telah mengampuniNya.”

Di tempat dan waktu yang berlainan, ada kisah yang mengemuka. Mirip, namun lebih ekstrim. Di kota Makkah, terdapat seseorang yang tekun beribadah (‘abid). Seorang lelaki mendatanginya, “Wahai tuan. Sungguh aku telah melihat lauhil mahfudz. Di sana namamu tertulis sebagai orang yang celaka.”

Lauh al-mahfudz adalah tempat di mana takdir setiap makhluk digoreskan‑dan dipastikan: celaka, atau beruntungkah ia.

Sang ‘abid tanpa diduga menyela, “Apa yang kau lihat itu telah aku ketahui empat puluh tahun lalu. Tapi ketahuilah. Allah menciptakan kita sebagai hambaNya. Maka apa yang semestinya kita lakukan selain menghamba padaNya?”

Ayyuhal Walad.

Baca juga: Keutamaan Ibadah di Malam Hari.

Simak juga: Prinsip dalam Beramal | KH. M. Anwar Manshur

Samnun, Sufi yang Menantang Tuhan

Ibrahim bin Fatak adalah ulama yang hidup sezaman dengan Samnun, seorang ahli ibadah yang kadang bertingkah menggelikan. Ia seperti menjadi juru tulis dari kisah hidup Samnun. Buktinya, banyak kisah Samnun yang ia kisahkan kembali, dan menjadi khazanah pengetahuan bagi kaum muslim setelahnya.

Salah satu kisahnya adalah ketika Samnun beribadah di suatu malam. Sebagai orang yang selalu mencoba mendekat kepada Tuhannya, hatinya tentu lebih sensitif dan lebih akrab dengan tanda-tanda dari Tuhan. Malam itu hatinya berbunga-bunga karena ia merasa ada segumpal sabar yang berdiam di hatinya.

“Tuhan, tak maukah engkau menguji diriku? Uji aku dengan apapun yang Engkau mau. Sungguh aku orang yang mampu bersabar.”

Samnun merasa percaya diri, karena dengan kesabaran yang ia miliki, tentu tak akan sulit menahan gelisah dan susah dari penderitaan duniawi.

Sampai suatu saat, tak berapa lama setelah doa malam itu, ia didera satu penyakit. Penyakit kecil sebenarnya. Hanya sembelit. Namun semakin lama penyakit itu bertambah parah. Sembelit itu terus menyiksa diri dan kesabarannya. Hingga kemudian ia terhuyung-huyung, mondar-mandir di pasar-pasar di kota Bashrah.

Ia tak betah. Penyakit sembelit itu dirasa sudah keterlaluan. Maka sembari berkeliling pasar itu ia berseru, “Tuhan, aku hanya bercanda. Kemarin itu aku berbohong padamu. Aku berbohong. Tak akan aku ulangi permintaan seperti itu, wahai Tuhanku.” Ia kapok meminta hal yang aneh-aneh kepada Tuhannya. Walhasil, ia terus melakukannya—berkeliling pasar sembari mengadu–sampai penyakit itu dihilangkan darinya.

Toh, Samnun adalah seorang sufi, yang hari-harinya dihabiskan dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Prilakunya memang terkadang aneh, dan absurd untuk dilakukan oleh seorang yang dikenal dekat dengan Tuhan. Tapi sering sekali dari mulutnya keluar perkataan-perkataan bijak. Bahkan, kebanyakan perkataannya adalah syair-syair ungkapan cintanya kepada Sang Khalik. Seperti satu syair ini, yang juga diceritakan kembali oleh Ibrahim bin Fatak.

Ruhku dengan dirimu telah menyatu, seutuhnya

Bahkan hingga jiwamu hancur, kita tetap tak terpisah.

Kau menangis dengan sepenuh dirimu, seluruh jiwamu

Sampai-sampai orang-orang menganggap kau tercipta dari air mata.

Maka pandanglah jiwamu dengan kasih dan cinta

Kadang, pandangan itu bisa memberi kenikmatan yang menggembirakannya.

Sufi memang seperti itu. Bahasa mereka bebas nan suci, karena hati mereka tak terbelenggu nafsu amarah dan dunia yang penuh kepentingan-kepentingan. Mereka mudah berbincang dengan Tuhan dengan bahasa-bahasa kasmaran. Bahkan perkataan yang terdengar sebagai keangkuhan, itu tak lebih dari arti dekatnya seorang sufi dengan Tuhan.

Uqala’ al-Majanin, 231-234.

Baca juga: Dahsyatnya Doa Ibu.

Simak juga: Rendah Hati: KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Bersikap Tuli

“دع ما يريبك إلى ما لا يريبك”

“Tinggalkan perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu.”

(H.R. Tirmidzi)

Bersikap tuli tidak lain adalah keadaan dimana kita memilih untuk bersikap acuh tak acuh pada apapun, atau bisa juga diartikan dengan sikap tidak peduli, menganggap apa-apa yang terlontar dari ucapan orang lain hanyalah angin lalu belaka.

Dalam kitab Siraj at-Thalibin, Syaikh Muhammad Ihsan al-Jampesy menukil kisah sufistik Lukman al-Hakim bersama anaknya:

Suatu hari Lukman al-Hakim hendak pergi ke pasar bersama anak laki-lakinya. Ia membawa seekor keledai sebagai kendaraan. Ia menunggangi keledai tersebut sementara anaknya berjalan kaki, menuntun keledai.

“Dasar orang tua yang tidak sayang pada anaknya!” Ucap orang-orang yang berpapasan di tengah jalan. “Ia enak-enakan di atas keledai, sementara anaknya disuruh untuk berjalan.”

Mendengar perkataan mereka, Lukman al-Hakim menaikan anaknya, dan ikut menunggang keledai, berboncengan di belakang.

“Dua orang menunggang satu keledai secara bersamaan? Kenapa tidak sekalian ditambah tiga orang. Biar keledainya mampus!” Komentar yang lain saat berpapasan di jalan menuju pasar.

Lukman al-Hakim pun turun dari keledai. Sekarang tinggal si anak sendirian di atas punggung keledai tersebut.

“Dasar anak tidak tahu diuntung! Ayahnya yang sudah tua malah dibiarkan berjalan, sementara ia enak-enakan duduk di atas keledai!” Kata yang lain lagi di tengah jalan menuju pasar.

Kemudian Lukman al-Hakim menurunkan anaknya dari keledai. Ia biarkan keledai itu kosong tanpa tumpangan. Keduanya berjalan menuju pasar dengan menuntun seekor keledai.

“Seekor keledai dibiarkan kosong. Sedangkan dua orang berjalan kaki di belakangnya. Bodoh sekali!” Ucap orang lain lagi dalam perjalanan berikutnya menuju pasar.

Dari potongan cerita di atas, dapat kita ambil hikmah tentang pentingnya untuk bersikap tuli. Karena menuruti perkataan orang lain tidak akan pernah ada habisnya, kecuali waktu itu sendiri yang akan habis sia-sia.

Bahkan dalam meraih cita-cita, sikap tersebut sangat berpengaruh sebagai penunjang, karena dapat membulatkan tekad dan keyakinan kita. Sehingga tidak mudah digoyahkan oleh cobaan, terlebih hanya sebuah komentar orang.

“Kalau mau melakukan perubahan, jangan tunduk pada kenyataan. Lawan kenyataan itu jika benar, dan buat kenyataan baru.”[]

Baca juga: https://lirboyo.net/dawuh-kh-m-anwar-manshur-senantiasa-berdoa-saat-pandemi/

Simak juga: https://www.youtube.com/watch?v=A3i5abqCqRM

Penulis: Ahmad Qomarudin siswa kelas III Tsanawiyah bagian B.02