Tag Archives: wanita

Shaf Wanita Sejajar Shaf Pria

Dalam kitab fikih, salat jamaah mempunya porsi pembahasan yang cukup panjang. Banyak hal mendetail yang dibahas dan diatur di dalamnya. Salah satunya yaitu mengenai aturan barisan salat (shaf) ketika makmumnya terdiri dari golongan laki-laki dan perempuan.

Secara umum, aturan  shaf (barisan salat) yang utama adalah jamaah perempuan berada di belakang jamaah laki-laki. Sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi dalam kitabnya yang berjudul Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzahb:

إِذَا صَلَّتِ النِّسَاءُ مَعَ الرِّجَالِ جَمَاعَةً وَاحِدَةً وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا حَائِلٌ فَأَفْضَلُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا لِحَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) “خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Ketika para perempuan salat jamaah bersama laki-laki tanpa adanya pemisah, maka yang lebih utama bagi perempuan adalah yang paling belakang. Berdasarkan hadis riwayat abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: Yang paling utama bagi bagi barisan laki-laki adalah yang paling awal dan yang paling buruk adalah yang terakhir. Yang paling utama bagi bagi barisan perempuan adalah yang paling akhir dan yang paling buruk adalah yang aling awal.”[1]

Namun realitanya, banyak sekali ditemukan tempat jamaah perempuan yang sejajar dengan jamaah laki-laki beralasan sudah aman dari fitnah dengan adanya satir (penutup) yang berupa kelambu atau semacamnya. Mendukung alasan tersebut, maka Syekh Wahabh Az-Zuhaily pernah menjelaskan:

يَقِفُ خَلْفَ الْإِمَامِ الرِّجَالُ ثُمَّ بَعْدَهُمُ الصِّبْيَانُ ثُمَّ بَعْدَهُمُ النِّسَاءُ فَالنِّسَاءُ يَكُنَّ فِيْ آخِرِ الصُّفُوْفِ اِتِّقَاءً لِلْفِتْنَةِ وَإِذَا ضَاقَ المُصَلَّى عَلَيْهِنَّ اُتُّخِذَ لَهُنَّ مُصَلَّى أَخَرَ تَوَسُّعَةً لِلْأَوَّلِ وَمُوَازِياً لِصُفُوْفِ الرِّجَالِ فَإِنَّهُ يَجُوْزُ لِلْحَاجَةِ تَنْزِيْلاً لَهَا مَنْزِلَةَ الضَّرُوْرَةِ كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ الْفُقَهَاءُ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ وَيَكُوْنُ ذَلِكَ بِضَوَابِطِهِ الَّتِيْ تَمْنَعُ تَقَدُّمَ النِّسَاءِ عَلَى الرِّجَالِ وَعَدَمَ رُؤْيَةِ بَعْضِهِمِ الْبَعْضَ الآخَرَ أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ فَلَابُدَّ مِنْ وُجُوْدِ الْفَوَاصِلِ الثَّابِتَةِ بَيْنَ مُصَلَّى الرِّجَالِ وَمُصَلَّى النِّسَاءِ

Yang berdiri di belakang imam adalah laki-laki, anak kecil, kemudian perempuan. Keberadaan perembuan berada di akhir barisan untuk menghindari fitnah. Namun ketika tempat salat sempit, maka boleh bagi golongan perempuan mengisi tempat lain dan menyesuaikan pada barisan laki-laki. Hal tersebut diperbolehkan dalam rangka hajat (kebutuhan) yang diposisikan seperti saat darurat, sebagaimana penjelasan para pakar fikih. Namun tetap ada beberapa batasan, di antaranya tidak diperbolehkan barisan perempuan lebih maju daripada laki-laki dan mereka tidak bisa saling memandang. Sehingga diharuskan adanya pemisah antara tempat salat laki-laki dan tempat salat perempuan.” [2]

Penjelasan di atas berlaku ketika keadaan menuntut untuk menjajarkan antara shaf perempuan dan laki-laki karena sebuah kebutuhan tertentu. Namun apabila tidak ada kebutuhan, maka perempuan tetap dianjurkan berada di belakang. Apabila masih ada di samping dan sejajar dengan shaf laki-laki, maka sebagian ulama ada yang mengatakan dapat menggugurkan keutamaan (fadhilah) jamaah, dan ada juga yang mengatakan hanya mengugurkan keutamaan barisan (shaf).[3]

[]waAllahu a’lam


[1] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzahb, vol. IV hal. 192, CD. Maktabah Syamilah.

[2] Fatawa Muashirah, hal. 121, cet. Darul Fikr.

[3] Hasyiyah At-Tarmasi, vol. III hal. 62. Cet. Darul Minhaj.

Istri Bekerja Membantu Suami, Bagaimana Tanggapan Syariat?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana tanggapan syariat mengenai seorang istri yang berkarir atau bekerja dalam rangka membantu suaminya? Mohon penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Evi, Surabaya)

_______________________________

Admin- Wa’alaikumsalam WR. Wb.

Kesejahteraan merupakan salah satu modal penting dalam membina rumah tangga. Namun tidak semua keluarga merasakan hal itu, terutama yang masih tersandung masalah ekonomi. Diakui atau pun tidak, persoalan ekonomi kerap kali menjadi menjadi beban utama sebuah keluarga. Sehingga menjadi lumrah ketika banyak istri turut bekerja meringankan beban sang suami. Berkaitan dengan hal tersebut, dengan bijak Imam Khatib As-Syirbini pernah menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Mughni Al-Muhtaj: .

وَلَهَا الْخُرُوجُ مِنْ بَيْتِهَا زَمَنَ الْمُهْلَةِ نَهَارًا لِتَحْصِيلِ النَّفَقَةِ بِكَسْبٍ أَوْ تِجَارَةٍ أَوْ سُؤَالٍ، وَلَيْسَ لَهُ مَنْعُهَا سَوَاءٌ كَانَتْ فَقِيرَةً أَمْ غَنِيَّةً لِأَنَّ التَّمْكِينَ وَالطَّاعَةَ فِي مُقَابَلَةِ النَّفَقَةِ، فَإِذَا لَمْ يُوَفِّهَا ممَا عَلَيْهِ لَمْ يَسْتَحِقَّ عَلَيْهَا حَجْرًا

Bagi istri diperbolehkan untuk keluar rumah ketika siang hari untuk mencari nafkah. Baik dengan cara bekerja, berdagang, atau meminta haknya. Bagi suami tidak diperbolehkan mencegahnya, baik sang istri tergolong perempuan yang fakir atau pun kaya. Karena kepasrahan dan taat sebagai perbandingan nafkah, sehingga ketika sang suami tidak mampu memenuhi nafkah yang menjadi kewajibannya, maka ia tak berhak untuk melarang sang istri (untuk bekerja).”[1]

Islam tidak membatasi ruang gerak seorang istri untuk melakukan aktivitas pekerjaan di luar rumah. Namun syariat memberikan batasan selama ia tetap mampu menjaga diri dari hal-hal yang dilarang agama selama bekerja. Dalam referensi lain juga dijelaskan:

وَمَعَ ذَلِكَ فَالإْسْلاَمُ لاَ يَمْنَعُ الْمَرْأَةَ مِنَ الْعَمَل فَلَهَاا أَنْ تَبِيعَ وَتَشْتَرِيَ، وَأَنْ تُوَكِّل غَيْرَهَاا، وَيُوَكِّلَهَا غَيْرُهَا، وَأَنْ تُتَاجِرَ بِمَالِهَا، وَلَيْسَ لأِحَدٍ مَنْعُهَا مِنْ ذَلِكَ مَا دَامَتْ مُرَاعِيَةً أَحْكَامَ الشَّرْعِ وَآدَابَهُ

Dalam keadaan (suami tak bisa menafkahi) itu, maka Islam tidak mencegah seorang wanita untuk bekerja. Ia diperbolehkan melakukan aktivitas jual beli, menerima atau memberikan mandat perwakilan orang lain, dan ia boleh berbisnis dengan hartanya. Bagi siapa pun tidak diperkenankan mencegah wanita melakukan pekerjaan itu selama ia mampu menjaga hukum-hukum dan etika-etika syariat.”[2]

[]waAllahu a’lam


[1] Mughni Al-Muhtaj, vol. V hal. 181, CD. Maktabah Syamilah.

[2] Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah, vol. VII hal. 82.

Kisah Wanita Cantik dan Si Pandai Besi

Sebagian Ulama menceritakan:

Ada seorang lelaki pandai besi. Dia mampu memasukkan tangannya pada api dan mengeluarkan besi yang menyala-nyala, namun dia tidak merasakan panasnya api.

Lalu dia didatangi seorang lelaki untuk membuktikan berita itu. Setelah melihat dan menyatakan apa yang didengarnya, lalu lelaki itu menunggu hingga pandai besi itu merampungkan pekerjaannya. Setelah selesai, ia terus mengucapkan salam dan pandai besi itu membalasnya.

Aku ingin menjadi tamu engkau pada malam ini,” kata lelaki itu.

Dengan senang hati dan penuh kehormatan,” jawab pandai besi.

Kemudian lelaki itu diajak pulang ke rumah pandai besi, ia dijamu dengan makanan khas sore hari dan bermalam bersama si pandai besi. Ternyata, dalam penelusurannya, si pandai besi tidak beribadah kecuali mendirikan shalat fardhu dan tidur hingga subuh.

Mungkin si pandai besi itu menutupi ihwalnya terhadapku pada malam ini,” gumam lelaki itu dalam hatinya.

Lelaki itu lalu bermalam satu malam lagi. Ternyata pandai besi itu masih seperti biasa, tidak menambah ibadah sama sekali kecuali mendirikan shalat fardhu.

Melihat hal demikian, lelaki tersebut akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai saudaraku, aku telah mendengar bahwa engkau diberi kemuliaan oleh Allah dan aku pun melihat sendiri kemuliaan itu. Namun aku merenung, karena tidak melihat banyaknya amal yang engkau lakukan. Engkau tidak beramal selain shalat fardhu. Dari mana engkau memperoleh kemuliaan seperti itu (memegang besi dibakar tidak merasakan panas)?

Akhirnya si pandai besi tersebut menjawab, “Wahai saudaraku, aku ini mengalami cerita yang aneh dan perkara yang jarang terjadi. Ceritanya begini:

Aku mempunyai tetangga wanita cantik, aku pun sangat mencintainya. Berkali-kali tidak berhasil mendapatkan wanita itu, karena dia menjaga dirinya dengan memelihara kehormatan diri.

Lalu pada suatu masa, timbul musim paceklik (kesulitan makanan) yang mana seluruh orang merasa lesu. Saat aku duduk di rumah. Tiba-tiba ada seseorang mengetuk-ketuk pintu. Aku pun keluar sambil berkata, “Siapa itu?”.

Tiba-tiba wanita cantik itu berdiri di pintu seraya berkata, “Wahai saudaraku, aku sangat lapar. Apakah anda dapat memberi makan padaku karena Allah?

Aku tidak dapat memberikan makanan padamu, kecuali jika engkau menyerahkan dirimu padaku. Apakah engkau tidak tahu apa yang ada dalam hatiku? Apakah kamu tidak tahu kalau aku mencintaimu?” jawabku.

Aku memilih mati daripada durhaka kepada Allah.” sahut wanita itu. Akhirnya ia pun kembali ke rumahnya.

Setelah dua hari berlalu, wanita itu kembali kepadaku dan mengatakan kepadaku seperti dahulu. Lalu aku jawab seperti yang lalu. Kemudian wanita itu masuk dan duduk di dalam rumahku dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk. Aku pun meletakkan makanan di depannya. Melihat apa yang aku lakukan, maka matanya mencucurkan air mata seraya berkata, “Apa makanan ini karena Allah?

Tidak, syaratnya engkau harus menyerahkan dirimu kepadaku.” jawabku.

Wanita itu lalu berdiri dan sama sekali tidak mau makan, ia kemudian pulang menuju rumahnya.

Selang dua hari kemudian, datang kembali mengetuk pintu. Aku keluar sedangkan ia berdiri di depan pintu. Suaranya terputus-putus karena kondisi yang kelaparan dan punggungnya telah lemah, seraya berkata, “Wahai saudaraku, aku telah berupaya tidak bisa datang kepada selain engkau. Apakah engkau dapat memberi makanan kepadaku karena Allah?”.

Iya, jika kamu mau menyerahkan dirimu padaku.” jawabku.

Wanita itu akhirnya mau memasuki rumahku dan duduk di dalamnya. Ketika itu, aku tidak mempunyai makanan. Saya berdiri, menyalakan api untuk memasakkan makanan buat wanita itu. Setelah makanan saya letakkan di hadapannya, belas kasihan Allah menemuiku.

Celaka engkau hai diriku ini, wanita ini kurang akalnya, kurang agamanya, tidak memakan yang bukan miliknya. Dia berulang kali datang ke rumahmu karena sakit kelaparan, tetapi dirimu tidak mau menghentikan perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala. Ya Allah, aku bertaubat pada-Mu dari perbuatan dosa yang kulakukan. Aku tidak akan mendekati wanita itu selama-lamanya,” gumamku dalam hati.

Kemudian aku menjumpai wanita itu, tetapi ia tetap tidak mau makan.

Makanlah, tak perlu takut. Sebab makanan ini aku berikan karena Allah” kataku.

Setelah wanita itu mendengar ucapanku, lalu ia mengangkat kepalanya ke langit seraya berdo’a, “Ya Allah, jika lelaki itu benar ucapannya, semoga Engkau mengharamkan api untuk orang ini di dunia dan akhirat.

Wanita itu lalu kubiarkan untuk melanjutkan makan. Karena pada saat itu musim penghujan, aku hendak memadamkan api. Ternyata kakiku menginjak bara api, tetapi tidak terasa panas dan tidak membakar kakiku.

Ketika aku menemui wanita yang sedang makan, rasa senang terpancar dari wajahnya. Aku pun berkata, “Bergembiralah engkau karena Allah telah mengabulkan do’amu”.

Wanita itu tetap melahap suapan makanan dari tangannya. Setelah selesai memakan semua makanan, ia bersujud syukur karena Allah dengan berdo’a, “Ya Allah, Engkau telah berkenan memperlihatkan kepadaku apa yang menjadi maksudku kepada lelaki itu. Semoga Engkau berkenan mencabut nyawaku saat ini.”

Maka Allah mencabut nyawa wanita itu dalam keadaan bersujud. Inilah ceritaku wahai saudaraku, Allah Maha Mengetahui”.

 

______________

Disarikan dari karya Syekh Nawawi Banten yang berjudul Uqud al-Lujain, hal. 22, cet. Al-Haromain.

 

Hukum Memperbarui Nikah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ada satu hal yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukumnya memperbarui nikah? Dan kalau boleh apakah harus membayar mahar lagi? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Faza B- Semarang)

____________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Memperbarui nikah (tajdidun nikah) adalah sebuah istilah yang digunakan oleh masyarakat untuk mengulangi akad nikah sudah sah. Biasanya, praktek tersebut dilakukan ketika usia pernikahan telah berjalan beberapa tahun. Dengan berbagai motif tujuan, seperti nostalgia masa-masa penikahan, sebagian pasangan memilih untuk melakukan tajdidun nikah tersebut.

Dalam pandangan syariat, hal tersebut diperbolehkan. Karena pada umumnya tajdidun nikah dilakukan demi kehati-hatian (ikhtiyat) terhadap akad nikah yang baru saja dilakukan. Atau dengan tujuan untuk memperindah hubungan pernikahan yang telah terjalin sempurna.

Dari tujuan ini sudah sangat jelas bahwa memperbarui nikah (tajdidun nikah) dilakukan bukan dalam rangka pengakuan atas talak. Sehingga tidak ada keharusan membayar mahar untuk yang kedua kalinya. Sebagaimana penjelasan yang dipaparkan imam Ibnu Hajar:

أَنَّ مُجَرَّدَ مُوَافَقَةِ الزَّوْجِ عَلَى صُورَةِ عَقْدٍ ثَانٍ مَثَلًا لَا يَكُونُ اعْتِرَافًا بِانْقِضَاءِ الْعِصْمَةِ الْأُولَى بَلْ وَلَا كِنَايَةَ فِيهِ وَهُوَ ظَاهِرٌ الى ان قال- وَمَا هُنَا فِي مُجَرَّدِ طَلَبٍ مِنْ الزَّوْجِ لِتَحَمُّلٍ أَوْ اِحْتِيَاطٍ فَتَأَمَّلْهُ

Sesungguhnya persetujuan suami atas akad nikah yang kedua (memperbarui nikah) bukan merupakan pengakuan habisnya tanggungjawab atas nikah yang pertama (talak) dan juga bukan merupakan kinayah (kiasan) dari pengakuan tersebut. Dan itu sudah sangat jelas … sedangkan apa yang dilakukan suami di sini (dalam memperbarui nikah) semata-mata untuk memperindah atau berhati-hati.” []waAllahu a’lam

Referensi: Tuhfah al-Muhtaj, juz VII hal 391.

 

Makna Surga Istri Tergantung Keridaan Suami

 

Keharmonisan dalam rumah tangga, siapa sih yang tidak mengidam-idamkannya?  Apalagi keharmonisan ini bisa sampai dibawa hingga nanti di akhirat. Untuk meraih itu, haruslah ada keseimbangan dan saling beriringan antara suami dan istri dalam satu misi. Rasulullah Saw. Sebagai penuntun kita telah memberikan banyak kiat terkait hubungan suami-istri. beliau sebagai manusia yang paling sempurna saja dalam keluarganya masih ada batu sandungan. Semua dari kisah kehidupan Nabi Saw. Yang terjadi salah satu tujuannya untuk memberikan nilai hikmah yang terkandung didalamnya.

dalam koridor islam, banyak persoalan agama yang dijadikan sebagai alat oleh orang-orang yang memang tujuannya untuk merusak citra islam, untuk menyerang agama ini. Satu kasus seperti permasalahan keluarga, antara suami-istri, banyak yang beranggapan bahwa islam mendiskreditkan peran istri, istri cukup berada dirumah, tidak usah ikut campur soal urusan diluar. Tuduhan semacam ini sudah banyak dari pakar islam yang menjawabnya.

Memang syariat memerintahkan seorang istri supaya taat kepada suami, bahkan dengan ketaatan itulah ketergantungan surga seorang istri, jikalau sebelum ia bersuami, surganya berada dibawah telapak kaki ibunya, namun setelah bersuami surga itu beralih kepada sang suami. sebagaimana sebuah hadis mengatakan :

عَنِ الْحُصَيْنِ بْنِ مِحْصَنٍ، أَنَّ عَمَّةً لَهُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ، فَفَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا، فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ ” قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: ” كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ ” قَالَتْ: مَا آلُوهُ إِلَّا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ، قَالَ: ” فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ .

Dari Al Hushain bin Mihshan bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi Saw. untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi Saw. pun bertanya kepadanya: “Apakah kamu mempunyai suami?” ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi: “Bagaimana engkau baginya?” ia menjawab, “Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” Beliau bersabda: “Perhatikanlah, akan posisimu terhadapnya. Sesungguhnya suamimu adalah yang menentukan surga dan nerakamu (dengan keridhoannya terhadapmu atau ketidak sukaannya terhadapmu).” [HR. Ahmad 31/341]

Keridaan suami pada hadits diatas tidaklah mencakup rida dalam segala hal,baik ataupun buruk, sebab tidak semua suami adalah suami yang mentaati Allah Swt. dan RasulNya, apabila seorang suami adalah orang yang tidak taat kepada Allah Swt. dan ia memerintahkan istrinya untuk tidak mentaati Allah Swt. maka kala itu ketaatan kepada Allah Swt. lebih diutamakan daripada ketaatan kepada suami, dan mengharap rida Allah Swt. haruslah lebih diutamakan dibanding mengharap rida suami.

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فيِ المَعْرُوفُ

“Sesungguhnya ketaatan hanya pada perkara yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim.)

Perkara yang baik disini adalah perkara yang diperintahkan oleh syari’at dan perkara yang tidak menyelisihi syari’at dan legal. Apabila seorang suami ahli maksiat dan ia rida terhadap istrinya bila ia ikut berbuat maksiat maka istri tidak boleh mengikuti keinginan suami dan mengutamakan keridaannya sebab mengutamakan keridaan suami yang demikian tidak akan mengantarkan ke surga, akan tetapi malah bisa mengantarkan seorang istri ke neraka.

Apa ini sebuah pendiskriminasian kepada perempuan? Tidak juga, sebab sudah selayaknya seorang suami mendapatkan hak untuk ditaati, mengapa? Kalau kita tinjau lebih dalam, semua itu tidak lepas dari tanggung jawab yang teramat berat yang dipikul oleh suami yang tidak hanya tanggung jawab di kehidupan dunia ini seperti wajibnya memberi nafkah, penjagaan dan lainnya, namun juga kelak di akhirat suami masih dituntut untuk memberikan pertanggung jawaban kepada istri sekaligus anaknya selama di dunia. Singkatnya tanggung jawab suami meliputi urusan material dan juga spiritual. Sehingga dirasa cukup impas kalau ketaatan kepada suami adalah sebuah hak.

 

الرِّجَالُ قَوّٰمُونَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَبِمَآ أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوٰلِهِمْ ۚ

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya” (QS. An-Nisa’ 4: 34)

 

Bahkan pepatah jawa mengatakan bahwa istri itu “surgo nunut neroko katut”  artinya keselamatan dan celakanya seorang istri kelak diakhirat tergantung suaminya, namun jikalau suaminya masih berhenti dineraka, sedangkan istrinya shalihah sehingga mengantarnya untuk menghuni surga, sang suami tidak ikut kecipratan masuk surga, ia masih dituntut menyelesaikan urusannya sendiri. Hal ini akan berbeda ketika yang terjadi sebaliknya.

Namun, dengan memiliki hak yang sedemikian rupa tersebut, bukan berarti laki-laki bisa seenaknnya sendiri memperlakukan anggota keluarga yang berada pada otoritas pengaturannya, semua tetap berjalan pada norma-norma yang telah ditetapkan oleh agama, sehingga jika semua mampu berjalan pada posisinya dan dengan porsi yang sesuai, keharmonisan akan dapat diraih.