HomeSantri MenulisHujannya Kok Gak Turun

Hujannya Kok Gak Turun

0 0 likes 552 views share

Turunnya hujan yang penuh berkah menjadi harapan semua orang. Tapi entah kenapa hujan tahun sekarang belum juga turun. Salat Istisqo sendiri di pondok ini telah dilakukan beberapa kali. Mungkinkah ini cobaan atau ujian dari sang Maha Kuasa, atau cuma karena iklimnya saja yang tidak mendukung?

Di bumi Nusantara ini, ada beberapa adat untuk mendatangkan hujan. Bahkan konon, dahulu sebelum datangnya Wali Songo, cara meminta hujan itu lebih tragis dengan cara mengorbankan anak perawan untuk dibunuh dan dipersembahkan bagi Dewa Langit.

Dalam kitab Multaqotul hikayat ada sebuah hikayat yang bercerita tentang kisah Nabi Musa as. dan kaumya Bani Israil. Dikisahkan, pada zaman Nabi Musa AS. pernah terjadi kekeringan. Kaumnya mendatangi beliau seraya berkata, “Wahai Kalimullah (gelar Nabi Musa) berdoalah pada tuhanmu agar menurunkan hujanNya pada kami.”

Nabi Musa lantas berdiri dan keluar bersama mereka ke sebuah gurun pasir. Jumlah mereka sebanyak 70 ribu orang lebih. Nabi Musa Berdoa, “Ya tuhanku, berilah kami hujan. Sebarkanlah bagi kami rahmatMu. Kasihanilah bayi-bayi yang sedang menyusui, binatang yang digembala, dan orang-orang tua yang masih bersujud.”

Langit tidak kunjung mendung. Tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan, malah matahari bersinar tambah panas. Nabi Musa berdoa lagi, “Ya tuhanku, kehormatanMu ada di sisiMu, Engkau bagiku adalah yang Maha Mulia.” Allah SWT. berfirman, “wahai Musa, akan tetapi ada seseorang di antara kalian yang terang-terangan berbuat maksiat di hadapanKu. Suruhlah dia keluar, karena dialah aku tangguhkan hujan pada kalian.”

 

Nabi Musa bertanya, “Ya Tuhanku, aku seorang hamba yang lemah dan suaraku juga lemah, bagaimana mungkin bisa terdengar oleh mereka yang berjumlah 70 ribu lebih?” Allah SWT. berfirman, “serukanlah dan nanti Aku yang akan menyampaikannya.”

Lantas Nabi Musa berseru pada umatnya, “Wahai hamba yang sudah terang-terangan berbuat maksiat di hadapan Allah SWT. Selama 40 tahun, keluarlah dari kami, karena kami tidak mendapatkan hujan karenamu.”

Hamba yang bermaksiat itu pun menoleh ke kiri dan kanan tapi tidak ada seseorangpun yang keluar, dia sadar bahwa dirinyalah yang dicari. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Jika aku keluar dari perkumpulan ini maka terbukalah aibku di kalangan Bani Israil. Tapi jika aku tidak keluar, maka mereka tidak akan mendapatkan hujan karenaku.”

Lantas orang ini pun memasukan kepala ke dalam baju yang dikenakan seraya berkata, “Ya Tuhanku, aku telah bermaksiat padaMu selama 40 tahun, tapi Engkau tangguhkan siksa padaku. Aku menghadapMu dengan rasa taat maka terimalah aku.”

Sebelum selesai hamba itu berbicara, tiba-tiba mendung mulai tampak, dan turunlah hujan. Nabi Musa berkata, “Ya tuhanku, tidak ada seseorangpun yang keluar dari kami.” Allah SWT. berfirman, “wahai Musa, aku menurunkan hujan kepada kalian sekaligus kepada orang yang menyebabkan hujan itu tidak turun karenanya.”

Nabi Musa bertanya, “Ya tuhanku, tunjukanlah hamba yang taat ini,” Allah SWT. berfirman, “sesungguhnya aku tidak menghinakannya karena dia bertaubat kepadaku. Apakah aku akan menghinakan seseorang yang taat kepadaku? Wahai Musa, sesungguhnya aku sangat membenci kepada orang-orang yang suka mengadu domba.”

Alhasil, dari cerita di atas, terserah pembaca ingin mengartikannya dengan sudut pandang mana. Kalau menurut penulis, bisa jadi hujan yang tak kunjung turun disebabkan oleh dosa-dosa kita. Sudah saatnya mari kita sama-sama merenungi dan mengeja kata mengungkap makna suara yang selalu terdengar dari speaker saat menjelang adzan shubuh. Hasibuu anfusakum qobla antuhasabu, mari mengevaluasi diri sendiri sebelum mengoreksi orang lain.[]

Penulis, Godhonfar Khan