Tag Archives: istisqo’

Hujannya Kok Gak Turun

Turunnya hujan yang penuh berkah menjadi harapan semua orang. Tapi entah kenapa hujan tahun sekarang belum juga turun. Salat Istisqo sendiri di pondok ini telah dilakukan beberapa kali. Mungkinkah ini cobaan atau ujian dari sang Maha Kuasa, atau cuma karena iklimnya saja yang tidak mendukung?

Di bumi Nusantara ini, ada beberapa adat untuk mendatangkan hujan. Bahkan konon, dahulu sebelum datangnya Wali Songo, cara meminta hujan itu lebih tragis dengan cara mengorbankan anak perawan untuk dibunuh dan dipersembahkan bagi Dewa Langit.

Dalam kitab Multaqotul hikayat ada sebuah hikayat yang bercerita tentang kisah Nabi Musa as. dan kaumya Bani Israil. Dikisahkan, pada zaman Nabi Musa AS. pernah terjadi kekeringan. Kaumnya mendatangi beliau seraya berkata, “Wahai Kalimullah (gelar Nabi Musa) berdoalah pada tuhanmu agar menurunkan hujanNya pada kami.”

Nabi Musa lantas berdiri dan keluar bersama mereka ke sebuah gurun pasir. Jumlah mereka sebanyak 70 ribu orang lebih. Nabi Musa Berdoa, “Ya tuhanku, berilah kami hujan. Sebarkanlah bagi kami rahmatMu. Kasihanilah bayi-bayi yang sedang menyusui, binatang yang digembala, dan orang-orang tua yang masih bersujud.”

Langit tidak kunjung mendung. Tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan, malah matahari bersinar tambah panas. Nabi Musa berdoa lagi, “Ya tuhanku, kehormatanMu ada di sisiMu, Engkau bagiku adalah yang Maha Mulia.” Allah SWT. berfirman, “wahai Musa, akan tetapi ada seseorang di antara kalian yang terang-terangan berbuat maksiat di hadapanKu. Suruhlah dia keluar, karena dialah aku tangguhkan hujan pada kalian.”

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Nabi Musa bertanya, “Ya Tuhanku, aku seorang hamba yang lemah dan suaraku juga lemah, bagaimana mungkin bisa terdengar oleh mereka yang berjumlah 70 ribu lebih?” Allah SWT. berfirman, “serukanlah dan nanti Aku yang akan menyampaikannya.”

Lantas Nabi Musa berseru pada umatnya, “Wahai hamba yang sudah terang-terangan berbuat maksiat di hadapan Allah SWT. Selama 40 tahun, keluarlah dari kami, karena kami tidak mendapatkan hujan karenamu.”

Hamba yang bermaksiat itu pun menoleh ke kiri dan kanan tapi tidak ada seseorangpun yang keluar, dia sadar bahwa dirinyalah yang dicari. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Jika aku keluar dari perkumpulan ini maka terbukalah aibku di kalangan Bani Israil. Tapi jika aku tidak keluar, maka mereka tidak akan mendapatkan hujan karenaku.”

Lantas orang ini pun memasukan kepala ke dalam baju yang dikenakan seraya berkata, “Ya Tuhanku, aku telah bermaksiat padaMu selama 40 tahun, tapi Engkau tangguhkan siksa padaku. Aku menghadapMu dengan rasa taat maka terimalah aku.”

Sebelum selesai hamba itu berbicara, tiba-tiba mendung mulai tampak, dan turunlah hujan. Nabi Musa berkata, “Ya tuhanku, tidak ada seseorangpun yang keluar dari kami.” Allah SWT. berfirman, “wahai Musa, aku menurunkan hujan kepada kalian sekaligus kepada orang yang menyebabkan hujan itu tidak turun karenanya.”

Nabi Musa bertanya, “Ya tuhanku, tunjukanlah hamba yang taat ini,” Allah SWT. berfirman, “sesungguhnya aku tidak menghinakannya karena dia bertaubat kepadaku. Apakah aku akan menghinakan seseorang yang taat kepadaku? Wahai Musa, sesungguhnya aku sangat membenci kepada orang-orang yang suka mengadu domba.”

Alhasil, dari cerita di atas, terserah pembaca ingin mengartikannya dengan sudut pandang mana. Kalau menurut penulis, bisa jadi hujan yang tak kunjung turun disebabkan oleh dosa-dosa kita. Sudah saatnya mari kita sama-sama merenungi dan mengeja kata mengungkap makna suara yang selalu terdengar dari speaker saat menjelang adzan shubuh. Hasibuu anfusakum qobla antuhasabu, mari mengevaluasi diri sendiri sebelum mengoreksi orang lain.[]

Penulis, Godhonfar Khan

Lirboyo Minta Hujan

LirboyoNet, Kediri – Tepat pada Hari Jum’at Jam 13.00 s/d 14.30 tanggal 04 Oktober 2013 Pondok Pesantren Lirboyo Kediri mengadakan shalat istisqa yang dipimpin langsung oleh Romo KH. M. Anwar Manshur bersama ribuan para santri yang bertempat di utara Masjid Al Hasan.

Di situ para santri dengan khusyuk membaca qasidah istisqo’, istighfar, dan yang paling inti berdo’a semoga lekas diberi hujan oleh Sang Kholiq seusai melaksanakan Sholat Istisqo’.

 

Sekilas dawuh dari Romo KH M. Anwar Manshur ”Mari kita melaksanakan sholat Istisqo’ untuk meminta hujan, Bila Al Kholiq belum memberi hujan mari kita melaksanakan sholat yang kedua kalinya. Bila belum kunjung hujan, mari kita sholat yang ketiga kalinya sampai hujan turun”.

Kemarau Panjang, Lirboyo Gelar Salat Istisqo’

LirboyoNet, Kediri – Prihatin atas musim kemarau yang berkepanjangan di daerah kediri, hari kamis 06/09/12 ribuan santri pondok pesantren Lirboyo melaksanakan Sholat Sunah Istisqo’ di Lapangan Pondok Pesantren Lirboyo.

Lebih dari lima ribu santri putra memakai baju putih berkalungkan surban menuju lapangan barat aula Muktamar guna bermunajat memohon kepada sang Khalik agar musim kemarau di daerah Kediri cepat berlalu berganti dengan musim hujan.

Ritual sholat yang digelar jam 1 siang dibawah sengatan panas matahari ini dimulai dengan Istighotsah kurang lebih satu jam. Diakhir istighotsah sebelum sholat dilaksanakan, beliau romo Yai Muhammad Anwar Manshur selaku Imam memraktekan tata cara pelaksanaan sholat istisqo’ diantaranya; cara memindah surban dari punggung kiri kekanan yang mana tujuannya adalah mengharapkan agar keadaan berubah menjadi lebih baik.

Sholat sunah Istisqo’ sendiri hukumnya sunah, jadi melaksanakan sholat saja sudah mendapatkan pahala. Sholat ini akan di ulangi beberapa kali sampai turun hujan karena sumber air dan sumur-sumur yang digunakan para santri sudah mulai surut, tutur pengasuh pondok pesantren Lirboyo yang juga Wakil Rois ‘Am Syuriyah PWNU Jatim. (Nang)