Kehidupan tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita harapkan. Ada kalanya kita mendapatkan kemudahan, tetapi ada pula saatnya kita harus menghadapi sakit, kehilangan, kegagalan, kesempitan rezeki, dan berbagai persoalan kehidupan. Semua itu merupakan ujian yang pasti dalam hidup setiap manusia.
Namun, yang menentukan nilai seorang mukmin bukanlah seberapa sedikit ujian yang ia hadapi, melainkan bagaimana ia menyikapinya. Karena itu, pada kesempatan khutbah kali ini, marilah kita merenungkan tentang kesabaran dalam menghadapi ujian hidup, serta bagaimana menjadikan setiap ujian sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Khutbah Pertama: Kesabaran dalam Menghadapi Ujian Hidup
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اَللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita, terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan sehingga kita dapat melaksanakan salat Jumat secara berjamaah.
Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib sendiri dan kepada seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebab, sebaik-baik bekal menuju akhirat adalah ketakwaan.
Baca juga: Khutbah Jumat: Hindari FOMO!
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Tidak ada seorang pun yang hidup di dunia ini tanpa ujian. Setiap manusia akan menghadapi berbagai keadaan: sakit, kehilangan, kesulitan ekonomi, kegagalan, persoalan keluarga, dan berbagai musibah lainnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar,” (QS. Al-Baqarah: 155)
Baca juga: Khutbah Jumat: Akhlak Rasulullah Adalah Al-Qur’an
Ayat ini menunjukkan bahwa ujian hidup merupakan bagian dari kehidupan manusia. Karena itu, persoalannya bukan apakah kita akan mendapatkan ujian atau tidak. Sebab, ujian pasti datang. Persoalannya adalah bagaimana kita menyikapinya.
Allah tidak mengatakan, “Berbahagialah orang-orang yang tidak pernah mendapatkan ujian.” Allah justru berfirman:
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang sabar.”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ujian tidak selalu berarti Allah sedang murka kepada kita. Terkadang, musibah menjadi sarana Allah menghapus dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita.
Rasulullah saw. bersabda:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, penyakit, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Khutbah Jum’at: Menjaga Lisan dan Adab Bermedia Sosial
Maka, ketika mendapatkan ujian, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah sedang meninggalkan kita. Bisa jadi, melalui ujian itulah Allah sedang menghapus dosa, mengangkat derajat, atau mengembalikan hati kita kepada-Nya.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Mengapa Allah memberikan ujian ini kepadaku?” Namun, belajarlah bertanya, “Apa yang Allah kehendaki agar aku pelajari melalui ujian dalam hidup ini?”
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sabar bukan berarti seseorang tidak boleh menangis atau merasa sedih. Sabar juga bukan berarti berhenti berusaha.
Nabi Ya’qub ‘alaihissalam menangis karena kehilangan putranya. Nabi Ayyub ‘alaihissalam mengadukan penderitaannya kepada Allah. Rasulullah saw. pun pernah menangis ketika kehilangan orang yang beliau cintai.
Yang menjadi ukuran bukanlah ada atau tidaknya rasa sedih, tetapi bagaimana seseorang menjaga hatinya agar tetap percaya kepada Allah.
Baca juga: Khutbah Jum’at: Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah saw
Lihatlah bagaimana Nabi Ayyub ‘alaihissalam menghadapi ujian yang berat. Allah berfirman:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.’” (QS. Al-Anbiya: 83)
Perhatikan doa Nabi Ayyub. Beliau mengakui penderitaannya, tetapi tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Beliau berkata:
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ
“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit.”
Kemudian beliau menutup doanya dengan:
وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”
Baca juga: Khutbah Jumat: Cerita Keberkahan Mengagungkan Kelahiran Nabi Muhammad
Seakan-akan Nabi Ayyub mengajarkan kepada kita: boleh mengakui bahwa kita sedang sakit, lemah, dan menghadapi kesulitan, tetapi jangan pernah kehilangan keyakinan bahwa Allah tetap Maha Penyayang.
Allah kemudian berfirman:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ
“Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, Kami mengembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami melipatgandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami dan pengingat bagi semua yang menyembah (Kami).” (QS. Al-Anbiya: 84)
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Dari kisah Nabi Ayyub kita belajar bahwa sabar tidak sama dengan menyerah.
Orang yang sabar tetap berusaha, tetap berdoa, dan tetap mencari jalan keluar. Namun, di tengah semua usaha itu, hatinya tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Sebab Allah berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.” (QS. Az-Zumar: 10)
Allah tidak mengatakan bahwa pahala orang sabar diberikan dengan jumlah tertentu. Allah mengatakan:
بِغَيْرِ حِسَابٍ
Maka, ketika hari ini kita sedang menghadapi kesulitan, jangan merasa bahwa kesabaran kita sia-sia.
Baca juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Umat Nabi Muhammad
Ketika kita bersabar dalam sakit, menghadapi kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, maupun ketika menahan diri dari sesuatu yang haram karena takut kepada Allah, semuanya diketahui oleh Allah.
Marilah kita menghadapi setiap ujian dengan iman, sabar, doa, dan ikhtiar. Jangan biarkan kesulitan membuat kita jauh dari Allah. Jadikanlah setiap ujian sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua: Kesabaran dalam Menghadapi Ujian Hidup
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ.
أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ الشَّاكِرِينَ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ، وَاكْشِفْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْمِحَنَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
