Dahulu, ketika KH Mahrus Aly masih berstatus sebagai santri di Lirboyo, KH Abdul Karim berkenan memanggil beliau. Rupanya, KH Abdul Karim bermaksud mengambil KH Mahrus Aly sebagai menantu.
Mendengar keinginan tersebut, KH Mahrus Aly merasa bingung dan terkejut. Salah satu yang terlintas dalam benak beliau adalah perasaan tidak pantas untuk menjadi menantu KH Abdul Karim. Kebingungan itu bahkan terus beliau rasakan selama beberapa hari.
Baca juga: Pemahaman yang Perlu Diluruskan: Dari Kisah Pencarian Tuhan Nabi Ibrahim
Meminta arahan kepada Sang Guru
Dalam keadaan demikian, KH Mahrus Aly akhirnya memutuskan untuk sowan kepada salah satu guru beliau yang lain, yaitu KH Kholil Kasingan, Rembang. Sebelum mondok di Lirboyo, KH Mahrus Aly memang pernah menimba ilmu kepada KH Kholil Kasingan. Beliau pun menyampaikan persoalan tersebut dan meminta pertimbangan kepada gurunya.
Setelah mendengar cerita KH Mahrus Aly, KH Kholil kemudian memberikan jawaban yang begitu singkat, tetapi sarat dengan makna:
“Apakah istikharahmu lebih baik daripada istikharah gurumu, (KH Abdul Karim)? Lantas, apakah pilihan gurumu tidak lebih baik?”
Mendengar jawaban tersebut, KH Mahrus Aly akhirnya mantap. Beliau menyadari bahwa pilihan gurunya tentu telah didasarkan pada pertimbangan dan istikharah yang matang.
Sejak saat itu, hilanglah keraguan dalam hati beliau. KH Mahrus Aly memilih untuk manut dan mengikuti pilihan gurunya, KH Abdul Karim, hingga akhirnya beliau bersedia menjadi menantu beliau.
KH Mahrus Aly menikah dengan putri KH Abdul Karim yang bernama Zaenab pada tahun 1938 M. Kemudian pada tahun 1944 M, KH. Abdul karim mengutus KH. Mahrus Aly untuk membangun kediaman di sebelah timur Komplek Pondok yang sekarang terkenal dengan Pondok HM. (Buku Tiga Tokoh Lirboyo)
Baca juga: KH. Mahrus Aly ( 1907 – 1985 )
Hikmah dan penutup
Kisah ini bukan sekadar tentang sebuah perjodohan. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang bagaimana seorang santri menempatkan diri di hadapan guru: ketika hati masih diliputi keraguan, ia mencari petunjuk kepada orang yang lebih alim; dan ketika gurunya telah menentukan pilihan, ia belajar untuk percaya, manut, dan menyerahkan urusan tersebut dengan penuh tawakal.
Baca juga: Kisah Abu Lahab Mendapat Keringanan karena Bahagia atas Kelahiran Nabi
Referensi kisah:
Caption Instagram Agus Ahmad Kafabihi
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
