Tulisan ini menjelaskan tentang keutamaan dan nilai ibadah yang sangat mulia dalam setiap peluh dan jerih payah seorang Muslim yang bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Selama dilakukan dengan cara yang halal dan niat yang tulus karena Allah, pekerjaan sehari-hari—mulai dari mencari nafkah hingga mengasuh anak—terhitung sebagai jalan mendulang pahala di sisi Allah Swt. Mari kita simak khutbah berikut:
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. أَمَرَ بِالإِحْسَانِ وَالْعَدْلِ. وَجَعَلَ السَّعْيَ فِي الْحَلاَلِ مِنْ أَسْبَابِ صَلاَحِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ لَيْسَتْ فِي الْمَسْجِدِ وَحْدَهُ، بَلْ تَظْهَرُ فِي الْعَمَلِ. وَالْكَسْبِ، وَالإِنْفَاقِ، وَأَدَاءِ الْحُقُوقِ
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ﴾
Baca juga: Khutbah Jum’at: Akhlak Rasulullah Adalah Al-Qur’an
Hadirin rahimakumullah,
Di antara makna mendalam yang sering kali dilupakan oleh sebagian orang adalah bahwa bekerja keras demi menyediakan makanan, pakaian, tempat tinggal, pengobatan, hingga pendidikan bagi anggota keluarga yang menjadi tanggung jawab kita. Pada hakikatnya itu semua adalah sebuah ibadah yang amat agung.
Mengenai kewajiban menafkahi ini, Allah SWT berfirman:
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 233)
Imam At-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan kewajiban seorang ayah untuk menafkahi istri dan anak-anaknya sesuai dengan kemampuannya. Orang yang lapang rezekinya menafkahi dari kelapangannya, sedangkan yang terbatas rezekinya menafkahi sesuai apa yang Allah berikan kepadanya. Allah tidak pernah membebani seseorang melainkan sesuai dengan batas kemampuannya.
Sebagaimana firman-Nya dalam surah lain:
لِيُنْفِقْ ذُوَ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا
“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. At-Thalaq: 7)
Islam tidak menuntut orang miskin untuk bersedekah seperti orang kaya, tidak pula membebani orang yang lemah melebihi kesanggupannya. Yang dituntut adalah kesungguhan dalam berikhtiar, kejujuran dalam berjuang, dan niat yang tulus untuk menunaikan kewajiban sebatas kemampuan yang dimilikinya.
Hadirin rahimakumullah,
Jangan sampai mengira bahwa sedekah itu hanya bernilai jika diberikan kepada orang miskin di luar rumah. Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّمَا مِنْ أَفْضَلِ دِينَارٍ أَنْفَقَهُ الرَّجُلُ عَلَى عِيَالِهِ
“Sesungguhnya di antara dinar (harta) yang paling utama dinafkahkan oleh seseorang adalah harta yang ia nafkahkan untuk keluarganya…”
Pahala yang sangat besar akan didapatkan oleh seseorang yang menafkahi anak-anaknya yang masih kecil hingga Allah mencukupi kebutuhan mereka. Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis lain:
إِذَا أَنْفَقَ الْمُسْلِمُ عَلَى أَهْلِهِ، وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا، فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Apabila seorang Muslim menafkahi keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah, maka nafkah itu bernilai sedekah baginya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa nafkah wajib kepada keluarga akan bernilai sedekah yang bernilai tinggi apabila disertai niat mendulang pahala. Bahkan, menafkahi keluarga yang menjadi tanggung jawab utama didahulukan tingkat utamanya dibandingkan sedekah sunnah kepada orang lain.
Wahai para bapak-bapak yang bahkan sebagian dari kita selepas salat Jum’at ini melanjutkan kerjanya.
Ukuran mulianya suatu ibadah bukanlah seberapa banyak kita membicarakannya, melainkan seberapa tulus niat dan kebaikan amal yang kita lakukan. Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin menyebutkan bahwa bersabar dalam mengurus keluarga, mengayomi, dan menanggung kebutuhan mereka adalah ibadah tersendiri. Bekerja mencari rizki halal demi mengasuh dan mendidik anak-anak kerap kali lebih utama daripada ibadah sunah yang manfaatnya hanya dirasakan oleh diri sendiri.
Imam Al-Ghazali juga menambahkan bahwa seorang pedagang atau pekerja hendaknya meniatkan aktivitas usahanya untuk menjaga diri dari meminta-minta, menjaga kehormatan keluarga, serta niat menunaikan fardhu kifayah bagi masyarakat. Sebab, kehidupan masyarakat tidak akan berjalan selaras tanpa adanya kerja sama dan keanekaragaman profesi. Ketika niat ini tertanam kuat, maka aktivitas di pasar, toko, mau pun kantor akan berubah menjadi amal jalur akhirat.
Baca juga: Khutbah Jum’at: Cerita Keberkahan Mengagungkan Kelahiran Nabi Muhammad
Maka renungkanlah wahai hadirin:
Seorang pekerja di tokonya, pegawai di kantornya, dokter di kliniknya, petani di ladangnya, pengrajin di bengkelnya, serta ibu rumah tangga yang telaten merawat anak dan rumahnya—semua jerih payah mereka dapat bertransformasi menjadi nilai ibadah yang agung. Syaratnya adalah usahanya halal, jujur, dilakukan dengan tekun, mengharap pahala Allah, serta tidak melalaikan shalat dan hak-hak Allah lainnya.
Ada tiga syarat utama agar bekerja bernilai ibadah:
Pertama, rezekinya harus halal.
Kedua, niatnya harus benar. Usahakan berniat untuk menjaga kehormatan diri, mencukupi kebutuhan keluarga, menunaikan kewajiban agama, dan memberi manfaat bagi sesama.
Ketiga, dan saya rasa ini penting. Tidak menelantarkan agama dan kewajiban. Pekerjaan tidak boleh menyita waktu hingga melalaikan shalat, menelantarkan anak istri, atau menjadikan sibuknya mencari harta sebagai alasan untuk bersikap kasar dan memutuskan silaturahmi.
Maka bertakwalah kepada Allah dalam menjaga harta dan keluarga Anda. Ketahuilah bahwa setiap suapan makanan yang Anda berikan ke mulut istri Anda, pakaian yang Anda belikan untuk anak-anak Anda, dan setiap tetes keringat yang dicurahkan dalam mencari rezeki yang halal, semuanya dicatat oleh Allah sebagai pahala yang berlipat ganda selama diiringi keikhlasan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللهَ عِبَادَ اللهِ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى
﴿فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
Baca juga: Khutbah Jum’at: Keutamaan Umat Nabi Muhammad
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Allah Swt. berfirman mengenai hari Jumat:
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)
Beberapa ulama menjelaskan bahwa perintah carilah karunia Allah mencakup mencari rezeki yang halal dengan tetap melanggengkan zikir dan rasa syukur kepada Allah atas taufik-Nya. Imam At-Thabari pun menyebutkan bahwa bertebaran setelah shalat Jumat adalah bentuk kemudahan dan keizinan dari Allah dalam memenuhi kebutuhan duniawi maupun akhirat.
Maka dari itu:
Wahai Anda yang melangkah keluar setelah shalat Jumat menuju tempat kerja. NIATKANLAH pencarian rezeki halal Anda sebagai ibadah.
Wahai Anda yang berada di rumah mengasuh anak dan merawat keluarga. NIATKANLAH rasa lelah dan kesabaran Anda sebagai pahala.
Wahai Anda yang memikul beratnya beban nafkah. Jangan pernah meremehkan pekerjaan Anda selama Anda mencari yang halal dan menunaikan hak-hak sesama.
Dan wahai Anda yang dikaruniai kelapangan rezeki oleh Allah: Jangan jadikan kelapangan itu sebagai sarana kesombongan atau pemborosan, melainkan jadikanlah ia sebagai jalan untuk menunaikan kewajiban dan wujud syukur kepada Allah Yang Maha Memberi.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلاَلاً طَيِّبًا وَاسِعًا مُبَارَكًا فِيْهِ.
اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى أَدَاءِ حُقُوْقِ أَهْلِيْنَا وَأَوْلاَدِنَا. وَاجْعَلْ نَفَقَتَنَا عَلَيْهِمْ صَدَقَةً، وَسَعْيَنَا فِي مَعَاشِنَا طَاعَةً، وَأَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ.
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ مَكَاسِبَنَا مِنَ الْحَرَامِ، وَبُيُوْتَنَا مِنَ الشِّقَاقِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَيْدِيَنَا مِنَ الظُّلْمِ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحِ الآبَاءَ وَالأُمَّهَاتِ. وَبَارِكْ فِي الأَبْنَاءِ وَالْبَنَاتِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ الأَزْوَاجِ. وَارْزُقِ الْمُحْتَاجِيْنَ عَمَلاً حَلاَلاً كَرِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَوَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ. مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْن. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
