Hari Guru Sedunia (World Teachers’ Day) diperingati setiap 5 Oktober sejak tahun 1994 atas rekomendasi UNESCO dan ILO sebagai bentuk penghormatan terhadap peran pendidik. Dalam Islam, guru bukan sekadar pemberi materi, melainkan pembimbing jiwa, penunjuk jalan moral, dan penjaga warisan ilmu. Guru adalah pewaris para nabi (waratsatul anbiya’). Sebuah status luhur yang mengingatkan kita bahwa, hubungan murid-guru dalam Islam, bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi jalinan amanah spiritual.
Baca juga: 4 Ayat Al-Quran yang Rawan Disalahpahami
Sebuah renungan
Dalam hal ini, yang penulis maksud adalah guru yang mengajarkan ilmu keagamaan. Mari kita renungkan: jika orientasi kita adalah akhirat—kehidupan yang benar-benar kekal—maka, betapa besar peran guru agama dalam membentuk dasar keagamaan kita. Saat lahir, kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita, dan bisa saja kita tumbuh di lingkungan tanpa dasar agama yang kuat. Namun, berkat guru yang menuntun, kita memahami akidah, tata cara ibadah, dan ilmu yang menyelamatkan amal agar Allah ﷻ terima.
Baca juga: 5 Hal yang Dikira Haram Padahal Boleh Menurut Islam
Namun, di banyak kampung, kita mendapati para ustaz dan ustazah yang rela menyisihkan waktunya. Mereka mengajar anak-anak mengaji, memperbaiki bacaan Al-Qur’an, dan mengenalkan tata cara salat sesuai tuntunan syariat. Mereka lakukan itu tanpa pamrih, sering kali tanpa imbalan apa pun. Pernahkah kita membayangkan, bahwa ilmu sederhana yang mereka ajarkan—cara membaca alif ba ta, cara berwudu, cara sujud dengan benar—akan terus kita amalkan sepanjang hidup? Bahkan akan kita bawa sebagai bekal menuju akhirat. Betapa mulia jasa guru yang mungkin tidak pernah disebut namanya di podium, tapi amalnya tetap hidup di setiap salat kita.
Baca juga: Rahasia Keistimewaan Kemerdekaan Indonesia Tanggal 17 Agustus
Penuntun kita menjadi saleh ritual dan saleh sosial
Lebih jauh, sebagian orang menuntut ilmu ke Pondok Pesantren Salaf[1] yang masih menjaga tradisi keilmuan Islam klasik. Dari sana mereka belajar, ibadah bukan hanya soal gerakan lahiriah, tapi menyangkut ketepatan hati dan niat. Mereka mendapat pelajaran bahwa, Islam tidak hanya mengatur hubungan hamba dengan Allah. Lebih jauh dari itu, juga mengatur seluruh detik kehidupan: dari transaksi jual beli, akad nikah, halal-haram makanan, hingga tata cara bersosial dengan sesama. Guru-guru pesantren—para kiai dan ustaz—dengan sabar membimbing agar mereka tidak hanya menjadi “saleh ritual”. Tetapi juga muslim yang mengerti etika sosial dan tanggung jawab moral “saleh sosial”.
Dengan begitu, kehidupan yang mereka jalankan tidak hanya sekadar memakan waktu setiap detiknya dengan susah payah, tapi juga bisa menghasilkan tambahan nilai ibadah yang akan menghantarkan balasan surga di akhirat kelak.
Maka dari itu, sudah selayaknya kita menghormati guru dengan semaksimal mungkin. Untuk itu, tidak sedikit ulama yang menegaskan bahwa murid harus memuliakan guru sebagaimana memuliakan orang tuanya. Bahkan dalam beberapa sisi harus melebihi orangtuanya, karena guru memberi “hidup” bagi jiwa dengan ilmu, sedangkan orang tua memberi hidup bagi raga.
Baca juga: Muharram: Bulan Allah dan Tujuh Peristiwa Agung dalam Sejarah Para Nabi
Adab bukan feodal
Oleh karena itu, sikap menundukkan badan di hadapan guru bukanlah bentuk feodalisme sebagaimana sering disalahpahami, melainkan salah satu tradisi luhur dalam menghormati guru di Jawa. Tradisi ini berbeda dengan budaya Arab yang menunjukkan penghormatan dengan berdiri. Begitu pula mencium tangan guru bagi santri bukan sekadar kebiasaan. Melainkan keyakinan bahwa tangan itu pernah bersambung kepada tangan gurunya, terus bersambung hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ. Bahkan dalam sebuah hadis terdapat keterangan, siapa yang bersalaman dengan orang yang pernah bersalaman dengan Rasulullah, maka ia akan masuk surga. Dan dalam dunia pesantren disebut juga ijazah musalsal bi al-mushafahah.
Maka dapat kita pahami, penghormatan lahiriah seperti menunduk, mencium tangan, atau menjaga adab di hadapan guru. Sejatinya adalah bentuk pengakuan batin bahwa ilmu tidak bisa dipisahkan dari sanad (mata rantai keilmuan). Guru bukan sekadar pengajar, melainkan penghubung kita dengan para ulama, salafus shalih, hingga akhirnya kepada Nabi Muhammad ﷺ. Itulah sebabnya, dalam tradisi pesantren, adab kepada guru selalu didahulukan daripada mencari ilmu itu sendiri.
Lebih jauh, penghormatan ini juga menjaga keberkahan ilmu. Sebab, betapapun tinggi kecerdasan seseorang, jika tidak beradab kepada guru, ilmunya sering tidak bermanfaat, bahkan bisa menjerumuskan. Sebaliknya, seorang murid yang penuh adab meski hanya menguasai sedikit ilmu, insya Allah ilmunya akan berkah, bermanfaat, dan menyelamatkan.
Baca juga: Hijrah Rasulullah SAW: Perjalanan Penuh Strategi dan Pengorbanan
Kesimpulan
Di Hari Guru Sedunia ini, penting bagi kita untuk menyadari bahwa menghormati guru bukanlah warisan budaya semata. Tetapi bagian dari ajaran Islam yang menekankan ta’dzim (penghormatan) kepada pewaris para nabi. Guru adalah jalan kita menuju cahaya ilmu, dan adab kepada guru adalah jalan agar ilmu itu benar-benar menjadi cahaya, bukan sekadar informasi kosong.
[1] Pondok Pesantren Salaf adalah jenis pesantren tradisional yang berfokus pada pengkajian kitab-kitab klasik atau “kitab kuning” untuk mendalami ilmu-ilmu agama Islam. Lembaga ini mempertahankan metode pengajaran kuno seperti sorogan dan bandongan serta menjunjung nilai-nilai kesederhanaan, toleransi, dan gotong royong, berbeda dengan pesantren modern yang mengintegrasikan kurikulum umum.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
