Membaca dan Belajar adalah Ibadah yang Dilupakan

Yai Anwar sedang Membaca Kitab Kuning Yai Anwar sedang Membaca Kitab Kuning

Di tengah semangat sebagian orang mengejar pahala lewat berbagai macam ibadah sunnah seperti puasa Senin-Kamis, shalat malam, wirid, atau dzikir yang panjang padahal ada satu bentuk ibadah yang sering luput dari perhatian: membaca dan belajar ilmu agama. Padahal, menurut pandangan para ulama besar seperti Imam al-Ghazali dan Imam an-Nawawi, mencari ilmu adalah ibadah yang nilainya bisa lebih utama daripada ibadah-ibadah sunnah tersebut.

Baca juga: Bagaimana Menyusun Target Ibadah dengan Efektif?

Ibadah Bukan Hanya Wirid

Imam al-Ghazali dalam salah satu karyanya menegaskan bahwa wirid-wirid harian, dzikir, dan amalan-amalan sunnah lainnya sebenarnya sangat syariat anjurkan bagi orang yang benar-benar mengkhususkan kepada orang yang fokus untuk beribadah. Mereka adalah Orang yang tidak punya kesibukan lain selain beribadah bisa mengisi waktunya dengan rangkaian wirid dan dzikir. Karena jika tidak, waktu mereka hanya akan terbuang sia-sia. Namun, bagi seorang alim. Baik yang mengajar, menulis, memberi fatwa, atau menyampaikan ilmu, maka membaca wirid dengan cara yang sama seperti seorang ahli ibadah tentu bukan pilihan ideal.

Orang yang berprofesi sebagai guru, penulis, atau penuntut ilmu tidak bisa meniru pola ibadah ahli sufi yang menghabiskan malam dengan qiyamul lail dan siangnya dengan dzikir tanpa henti. Ia memerlukan waktu untuk membaca buku, menelaah nash, menulis penjelasan, dan berdialog dengan murid atau masyarakat. Dan justru kegiatan-kegiatan itulah yang merupakan ibadah utama baginya, karena di dalamnya ada dzikir, tafakur terhadap ayat-ayat Allah dan sabda Nabi, serta manfaat besar bagi umat. [1]

Baca juga: Manfaat Ilmu Pengangkat Derajat Penyebab Kehancuran.

Pendapat Ulama Perihal Keutamaan Belajar dan Membaca

Imam an-Nawawi mendukung pandangan ini. Dalam kitab-kitabnya ia menyebutkan bahwa para ulama salaf sepakat. menyibukkan diri dengan belajar ilmu agama lebih utama daripada amal sunnah berupa shalat, puasa, atau dzikir. Karena ibadah-ibadah sunnah tersebut manfaatnya hanya dirasakan oleh pelakunya, sedangkan ilmu agama memberi manfaat luas baik bagi si pelajar maupun orang-orang yang belajar darinya.

Hadis Nabi yang sangat masyhur di kalangan santri pun menguatkan:
“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, maka Allah akan memahamkannya dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini bukan sekadar pujian untuk orang berilmu, tapi isyarat kuat bahwa belajar agama adalah tanda seseorang dikehendaki kebaikan oleh Allah.

Dalam konteks masyarakat kita, nasihat ini menjadi sangat relevan. Banyak orang rajin mengamalkan ibadah-ibadah sunnah, tapi tidak paham bahwa sebagian perilaku ibadah mereka sebenarnya tidak sesuai dengan tuntunan syariat. Misalnya, dalam beberapa kasus, sebagian orang menyalahkan praktik ibadah masyarakat hanya karena tidak sesuai dengan teks pendek kitab-kitab pemula seperti Taqrib. Padahal, seperti kata Gus Baha, “Saya mohon di masjid-masjid juga ada kitab Taqrib dan Mahalli. Kalau hanya Taqrib saja, resikonya kalau ada perilaku ibadah masyarakat itu kita anggap tidak sah. Padahal di kitab-kitab besar ada pembenaran tentang hal ini.”

Penting untuk menyadari bahwa membaca, mengkaji, dan memperdalam pemahaman keagamaan bukan hanya tugas para ustadz atau santri. Bahkan bagi kalangan awam, menghadiri majelis ilmu lebih utama daripada hanya berdiam diri berdzikir sendirian. Imam al-Ghazali menyebut bahwa bagi kaum awam dan penuntut ilmu, menghadiri majelis ilmu lebih utama daripada menyibukkan diri dengan wirid. Begitu pula bagi pekerja atau pencari nafkah, mereka tidak syariat tuntut meninggalkan pekerjaan demi ibadah sunnah. Tetapi justru syariat ingatkan agar tetap berdzikir kepada Allah di sela-sela pekerjaannya.

Baca juga: Waktu-waktu terbaik membaca al-Qur’an.

Makna Ibadah Sangat Luas

Dengan demikian, belajar tidak hanya menjadi sarana meraih ilmu, tapi juga bagian dari ibadah harian. Menelaah kitab, mendengar ceramah, atau sekadar membaca tafsir al-Qur’an termasuk bentuk dzikir yang bernilai tinggi. Namun sayangnya, kegiatan membaca seringkali tidak kita anggap ibadah. Banyak yang masih mengira bahwa dzikir harus dengan tasbih dan wirid yang panjang. Padahal membaca satu halaman kitab bisa saja menyamai nilai dzikir itu jika kita niatkan karena Allah.

Maka sudah saatnya kita mengembalikan makna ibadah ke dalam bentuk yang lebih luas. Belajar dan membaca bukan sekadar aktivitas akademik, tapi juga bagian dari perjalanan ruhani. Ia adalah bentuk dzikir, tafakur, dan kontribusi bagi umat. Seorang santri yang membuka kitab dan menyelami ilmu-ilmu agama sesungguhnya sedang berdzikir dengan caranya sendiri. Dzikir yang berbentuk pencarian, penggalian, dan penyampaian kebenaran.

Di tengah zaman yang penuh informasi dan gangguan, mengalokasikan waktu untuk membaca dan belajar agama adalah jihad tersendiri. Dan bagi siapa pun yang melakukannya dengan niat ikhlas, insyaAllah, setiap huruf yang ia baca tercatat sebagai ibadah. Yang jelas hal itu tak kalah mulia dari shalat malam dan puasa sunnah.

Karena itu, mari kita hidupkan kembali semangat belajar. Kita perlu meyakini, sebagaimana diyakini para ulama, bahwa membaca adalah ibadah yang dilupakan—namun nilainya agung di sisi Allah.

Referensi:

[1] al-Ghazali, Mauidzatul Mu’minin

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses