Nabi dan Masyarakat Madani

Madinah Al-Munawwaroh, kota yang diterangi cahaya Nabi, demikian nama yang disematkan kepada Yastrib setelah kepindahan Nabi dari Mekah ke kota tersebut. Kota berjarak sekitar 560 KM di utara Mekah ini adalah salah satu kota yang memainkan peran sangat penting dalam perkembangan peradaban Islam di masa mendatang. Di kota ini “terlahir” banyak sahabat-sahabat besar dibawah bimbingan langsung Nabi Muhammad SAW. Di sini pulalah Islam dapat menggeliat dengan bebas tanpa kungkungan kaum kafir dari suku Quraisy. Di sini pulalah, Islam menunjukkan eksistensinya yang bertahan sampai sekarang.

Nabi perlahan mengubah keadaan masyarakat Madinah menuju masyarakat madani, dan “mengembangkan” agama Islam agar diterima seluruh masyarakat dengan beragam karakter. Seluruh budaya jahiliyyah ditanggalkan. Bangsa Arab yang dulu saling unjuk supremasi antar suku, kini menjadi bangsa yang bersatu. Semua seolah mimpi, kareana Nabi melakukan itu hanya butuh waktu dua puluh tiga tahun. Sangat singkat. Namun tentu saja, hal tersebut tidak mudah. Ada saja rintangan yang harus dilewati, sebelum akhirnya Islam menjadi agama besar yang tersebar di seantero jazirah Arab.

Kondisi Madinah Ketika Nabi Hijrah

Masa pra Islam menjadi masa yang menggelisahkan bagi Yatsrib, dimana masyarakat asli kota itu, suku Aus dan Suku Khazraj sedang dilanda perang saudara yang semakin berlarut-larut dan tak kunjung ada penyelesaian. Perang makin lama makin meluas dan makin melibatkan banyak qabilah. Jika terus dibiarkan, bisa saja Yatsrib luruh. Di tengah keputus asaan ini, sayup-sayup terdengar kabar bahwa datangnya Nabi yang dijanjikan sudah tiba masanya. Kabar ini santer tak hanya berasal dari penduduk Yahudi Yatsrib yang paham betul dengan kitab suci mereka. Ibn Hayyabân, seorang Yahudi yang baru pindah dari Suriah mengatakan bahwa Nabi yang dijanjikan akan pindah ke kota ini segera. Ditambah lagi, Iyâs bin Mu’âdz, seorang delegasi suku Aus, bertemu langsung dengan Nabi. Ketika pergi ke Mekah guna minta bantuan suku Quraisy untuk melawan rivalnya, suku Khazraj. Sepulang dari Mekah, Iyâs berkali-kali menyebut tentang keesaan Tuhan dan hari akhir sebelum akhirnya meninggal dunia.

Kedatangan Nabi  ke Yatsrib menjadi semakin dinantikan, dimana beliaulah yang diharapkan bisa memadamkan perang saudara berkepanjangan ini.

Hingga pada akhirnya, ketika Nabi tiba pada, 27 September 622 M, Nabi disambut hangat oleh seluruh penduduk Yatsrib. Yatsrib menjadi Madinah, dan perang saudara dapat diakhiri.

Kondisi Masyarakat Pasca Hijrah

Setidaknya ada empat komponen besar masyarakat Madinah pada masa Nabi. Kaum Muslimin, yang diisi oleh kaum Muhajirin dan Anshar, kaum Yahudi Madinah (yang paling dominan adalah Banu Quraidzah, Banu Qainuqa’ dan Banu Nadhir), kaum musyrik madinah yang berasal dari suku Aus dan Khazraj, dan kaum munafik.

Keberhasilan Nabi menyatukan Madinah adalah hal yang mencengangkan, sebab Madinah sebenarnya bukanlah suatu komunitas yang harmonis. Beliau harus berhadapan dengan beragam tipu muslihat, perang dingin, bahkan yang paling berbahaya; musuh dalam selimut. Begitulah, beliau menata masyarakat dari beragam sisi. Mulai dari membangun aset, tata sosial, ekonomi, administrasi, sanksi pidana, bahkan hubungan diplomatik dengan “negara” tetangga.

Banyak masalah baru yang timbul, seperti dimanakah kaum Muhajirîn harus bertempat, sebagai kaum migran, butuh perhatian khusus agar mereka bisa hidup layak di “negeri orang”. Masalah kemiskinan juga pelik. Kaum muslimin dengan jumlah yang sedikit, fasilitas minim, dan masih berupa komunitas baru harus berhadapan dengan lawan yang  menyatakan permusuhan. Nabi Muhammmad SAW menghapus era jahiliyyah yang identik dengan saling membanggakan keturunan, dan ketimpangan sosial -kebal hukum bagi yang berkuasa- diganti dengan sebuah “wacana” baru tentang persamaan hak untuk seluruh lapisan masyarakat. Tak ada lagi masyarakat yang kebal hukum, semua ditindak tegas jika melanggar norma. Siapapun itu. “Andai Fathimah putri Muhammad mencuri, pasti kupotong tangannya,” sabda Nabi suatu ketika.

Membangun Aset

Aset paling penting bagi masyarakat muslim Madinah adalah Masjid Nabi. Di tempat yang semula dimiliki dua bersaudara Sahl dan Suhayl, Nabi membangun sebuah Masjid. Masjid bersejarah ini awalnya sangat sederhana, hanya dipagari tembok dari tanah liat yang tak begitu tinggi dan tak memiliki atap di bagian tengah. Masjid Nabi tak hanya berfungsi tunggal sebagai sarana ibadah, namun juga menjadi “pusat pemerintahan”, administrasi, dan aktifitas keilmuan. Semakin mulia masjid ini, karena kelak juga menjadi tempat jasad Nabi dibaringkan, ditemani dua sahabat tercintanya Abu Bakar RA. dan Umar RA. Nabi juga membangun kuburan yang dinamai Baqi Al-Gharqad, atau lebih dikenal dengan pemakaman Baqi’, “membangun” pasar khusus umat Islam yang mandiri dan terpisah dari pasar Bani Qainuqa’ di pinggiran Madinah, sehingga pedagang bebas bertransaksi, menurunkan barang atau melewatkan unta tanpa mengganggu penduduk kota.

Membangun Kehidupan Sosial

Hal yang penting dilakukan Nabi di Madinah adalah menghapus tradisi jahiliyyah yang sudah terlanjur mengakar. Beliau membentuk pribadi masyarakat yang kuat, dan perberadaban tinggi. Hingga sepeninggal Beliau, Islam semakin kuat dan mengakar. Bahkan ketika Islam semakin tersebar luas, kuatnya peradaban Islam kian terasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.