Tag Archives: Madinah

Empat Wasiat Pertama Nabi Untuk Madinah

عن أبي يوسف عبد الله بن سلام رضي الله عنه قال: لما قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة انجفل الناس قِـبَـله، وقيل: قد قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم -ثلاثا-، فجئت في الناس لأنظر، فلما تبينت وجهه عرفت أن وجهه ليس بوجه كذاب، فكان أول شيء سمعته تكلم به أن قال: (يا أيها الناس: أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصِلُوا الأرحام، وصلّوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام) رواه أحمد والترمذي والحاكم، وصححه الترمذي والحاكم ووافقه الذهبي.

“Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di kota Madinah, orang-orang berduyun-duyun mendatangi beliau. Mereka berkata, ‘Rasul telah tiba!’. Akupun mengikuti kerumunan mereka untuk turut melihat. Ketika nampak wajah beliau, aku langsung tahu bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Hal pertama yang aku dengar dari beliau adalah ‘Wahai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalin silaturahim, dan salatlah pada malam hari ketika orang-orang tengah tertidur. Maka kalian semua akan masuk surga dengan selamat.’” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Al-Hakim)

Kedatangan Nabi Muhammad SAW ke kota Yastrib menjadi kabar gembira bagi penduduk kota tersebut. Mereka berbondong-bondong ingin tahu, dan ingin melihat langsung bagaimana rupa nabi yang selama ini telah dijanjikan. Tak luput pula, ‘Abdullâh bin Salâm, perowi hadis ini. Beliau merupakan salah seorang beragama yahudi yang paling terhormat di kota tersebut. Menurut sejarah, beliau masih keturunan nabi Yusuf AS, dan beliau bak lautan dalam hal keilmuan. Beliau banyak tahu akan kitab suci umat nabi Musa AS. tersebut.

‘Abdullâh bin Salâm yang ketika itu masih belum memeluk islam, menceritakan dalam hadisnya, bagaimana pertama kali kesannya berjumpa nabi, dan bagaimana sekilas suasana ketika itu. Kala itu orang-orang berteriak bahagia, “Rasul telah tiba!” hingga tiga kali. Mereka berduyun-duyun mengerumuni nabi besar Muhammad SAW yang ketika itu masih baru sampai di Quba’. Dengan hanya melihat wajah beliau saja, muncul benih-benih keimanan dalam hati ‘Abdullâh bin Salâm, ia langsung percaya dan membenarkan nabi Muhammad SAW.  Hal ini pulalah yang akhirnya diabadikan dalam Alquran (al-Ahqof: 10),

وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ

Menurut sebagian mufassir, sosok yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah ‘Abdullâh bin Salâm.

Dalam hadis tersebut, nabi mewasiatkan empat hal penting. Empat hal yang jika dapat dilakukan, beliau telah menjanjikan surga.

Wasiat Pertama: Sebarkanlah Salam

Salam adalah salah satu media dan jalan untuk menciptakan jalinan kasih sayang. Salah satu cara yang paling tepat untuk menebarkan kedamaian dan persaudaraan antar umat muslim dengan saling mendoakan. Wasiat nabi untuk menebarkan salam, tak kurang maksudnya adalah anjuran bagi kita untuk memperbanyak mengucapkan salam kepada setiap muslim yang kita temui. Beliau nabi pernah bersabda,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا، ولا تؤمنوا حتى تحابوا، أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم: أفشوا السلام بينكم) رواه مسلم

Dari sahabat Abu Hurairah RA beliau berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda ‘Kalian semua tidak akan masuk surga sebelum beriman. Dan kalian belum bisa  sempurna imannya sebelum saling mengasihi. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mengasihi? Sebarkanlah salam diantara kalian.’” (HR. Muslim)

Tidak sampai disini saja, salam juga termasuk salah satu syiar islam dan hak seorang muslim. Nabi bersabda:

عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (حق المسلم على المسلم ست)، قيل: ما هي يا رسول الله؟ قال: (إذا لقيته فسلم عليه, وإذا دعاك فأجبه, وإذا استنصحك فانصح له, وإذا عطس فحمد الله فشمته, وإذا مرض فعده, وإذا مات فاتبعه) رواه مسلم.

Dari sahabat Abu Hurairah RA, nabi pernah bersabda, ‘hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam perkara’. Sahabatpun bertanya, apakah itu wahai rasulallah? Nabi menjawab ‘Ketika kamu jumpa seorang muslim, maka ucapkanlah salam. Ketika kamu diundang, maka datangilah. Ketika ada muslim yang minta nasihat, maka nasihatilah. Ketika ada muslim yang bersin, kemudian membaca hamdalah, maka doakan. Ketika ada muslim yang sakit, maka jenguklah. Dan ketika ada muslim yang meninggal, maka hadirlah mengantarkannya.” (HR. Muslim)


[ads script=”1″ align=”center”]

Wasiat Kedua: Berikanlah Makanan

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِيناً وَيَتِيماً وَأَسِيراً * إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاء وَلَا شُكُوراً} (الإنسان: 8-9

Dan mereka (Al-Abrâr, orang-orang yang taat kepada Allah) memberikan makanan karena cinta kepada Allah untuk orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Mereka berkata) ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.’” (QS. Al-Insan: 8-9)

Memberikan makanan juga menjadi amaliah yang merupakan perantara untuk masuk surga. Hal tersebut nyata, kala seorang sahabat menghadap nabi dan mengemukakan pertanyaan tentang amaliah yang menjadi perantara agar dapat memasuki surga-Nya.

عن هانئ أنه لما وفد على رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: يا رسول الله، أي شيء يوجب الجنة؟ قال: (عليك بحسن الكلام وبذل الطعام) رواه الطبراني.

Wahai rasul, apakah yang bisa menetapkan masuk surga? Nabi menjawab ‘Katakanlah perkataan yang baik, dan sedekahkanlah makanan.” (HR. Thabarâni)

Imam Al-Khatthabi menafsirkan, “Rasul SAW menjadikan amaliah yang terbaik adalah memberikan makanan yang merupakan kebutuhan pokok badan. Lalu beliau menyatakan bahwa perkataan yang paling baik adalah menebarkan salam, baik yang umum dan khusus, untuk orang yang tak kita kenal, atau orang yang kita kenal. Sehingga akhirnya bisa menjadi semata-mata keikhlasan untuk Allah. Karena salam adalah salah satu syiar islam.”

Fadhîlah menyedekahkan makanan akan semakin menumpuk kala kita memberikannya di saat yang tepat. Di saat banyak orang membutuhkannya. Sesuai firman-Nya,

أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَة} (البلد: 14)

“”Atau memberi makan pada hari kelaparan” (QS. Al-Balad)

Wasiat Ketiga: Jalin Silaturahim

{وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً} (النساء: 1)

Dan takutlah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (takutlah kalian semua untuk memutus) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (QS. Al-Nisâ’:1)

Menyambung silaturahim merupakan salah satu anjuran bagi umat muslim. Menjalin silaturahim selain memiliki nilai lebih dalam tahap sosialisasi dan hubungan antar manusia, juga memiliki nilai lebih dimata agama. Beberapa kali disebutkan bahaya memutuskan tali silaturahim dalam Alquran, hingga tak perlu lagi kiranya ditegaskan akan arti penting slaturahim dalam islam.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (من سره أن يُبسط له في رزقه أو ينسأ له في أثره فليصل رحمه) متفق عليه

Diriwayatkan dari sahabat Anas RA, aku pernah mendengar rasulullha SAW bersabda, ‘Barang siapa yang senang dilapangkan rizkinya, atau dipanjangkan umurnya, maka jalinlah silaturahim.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wasiat Terakhir: Dirikanlah Salat Malam

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً} (السجدة: 16)

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada tuhannya dengan rasa takut (terhadap siksa-Nya) dan mengharap (rahmat-Nya). Dan dari rizki yang Aku berikan kepada mereka, merejka menafkahkannya.” (Al-Sajdah: 16)

Demikian kiranya Allah mengabadikan pujian-Nya kepada hamba-hambanya yang beriman dan mendirikan salat malam dalam Alquran. Malam adalah waktu yang tepat untuk berdoa dan bermunajat. Waktu yang tepat untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Nabi pernah bersabda kepada sahabat beliau, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash untuk tak lupa mendirikan salat malam saat terjaga,

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يا عبد الله لا تكن مثل فلان، كان يقوم الليل فترك قيام الليل) متفق عليه

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda kepadaku, ‘Wahai Abdullah, jangan sampai kamu seperti si Fulan. Dia terjaga di malam hari namun meninggalkan qiyamul lail.’” (HR. Bukhari dan Muslim.)

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (رحم الله رجلا قام من الليل فصلى وأيقظ امرأته، فإن أبت نضح في وجهها الماء, رحم الله امرأة قامت من الليل فصلت وأيقظت زوجها، فإن أبى نضحت في وجهه الماء) رواه أحمد وأصحاب السنن.

Allah merahmati seorang laki-laki yang melakukan qiyamul lail lalu mendirikan salat malam dan membangunkan istrinya. Ketika istrinya menolak, si laki-laki menyipratkan air di wajah istrinya. Allah merahmati seorang wanita yang melakukan qiyamul lail, lalu mendirikan salat dan membangunkan suaminya. Ketika suaminya menolak, ia menyipratkan air di wajah suaminya.” (HR. Ahmad)

Refleksi Hadis

Nabi yang diutus di jazirah Arab, tidak hanya diutus untuk bangsa Arab. Beliau diutus bahkan untuk sekalian alam. Beliau diutus menyebarkan agama islam. Membangun peradaban yang bermartabat, dan menghancurkan budaya-budaya jahiliyyah yang menyimpang dari ajaran agama.  Beban di pundak beliau seakan semakin berat, kala waktu itu beliau juga dinantikan kejadirannya di Yatsrib, sekarang menjadi Madinah, juga untuk mendamaikan pertikaian antar dua suku utama kota itu, Aus dan Khazraj. Pada akhirnya, beliau pulalah yang kemudian membangun peradaban dan menjadikan Madinah kota yang Mutamaddin, sebuah cikal bakal negri yang membentang luas, mengalahkan luasnya imperium adikuasa Persia saat itu. Bukan sebuah gambaran kota islam, namun kota yang tetap damai meski dihuni berbagai macam agama yang berdampingan. Hidup rukun meski berbeda, hidup saling berbagi meski sama-sama tak begitu memiliki.

Pesan pertama nabi ketika menyelesaikan perjalanan hijrah, sebuah catatan penting bagi kita. Beliau mewasiatkan empat hal untuk penduduk kota yang telah lama menunggu beliau.

عن أبي يوسف عبد الله بن سلام رضي الله عنه قال: لما قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة انجفل الناس قِـبَـله، وقيل: قد قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم -ثلاثا-، فجئت في الناس لأنظر، فلما تبينت وجهه عرفت أن وجهه ليس بوجه كذاب، فكان أول شيء سمعته تكلم به أن قال: (يا أيها الناس: أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصِلُوا الأرحام، وصلّوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام) رواه أحمد والترمذي والحاكم، وصححه الترمذي والحاكم ووافقه الذهبي.

“Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di kota Madinah, orang-orang berduyun-duyun mendatangi beliau. Mereka berkata, ‘Rasul telah tiba!’. Akupun mengikuti kerumunan mereka untuk turut melihat. Ketika nampak wajah beliau, aku langsung tahu bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Hal pertama yang aku dengar dari beliau adalah ‘Wahai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalin silaturahim, dan salatlah pada malam hari ketika orang-orang tengah tertidur. Maka kalian semua akan masuk surga dengan selamat.’” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Al-Hakim)
[ads script=”2″ align=”right” float=”right”]

Yang beliau sampaikan pertama kali bukanlah “dirikanlah salat malam”. Bukan itu yang beliau pentingkan pertama kali untuk mulai membangun kota Madinah. Justru hal tersebut menjadi hal terakhir dalam pesan beliau. ini memiliki makna yang dalam sebenarnya kala kita renungkan baik-baik.

Hal pertama yang paling penting, yang menjadi wasiat pertama nabi adalah “sebarkanlah salam”.  Secara harfiah memang bermakna sebarkanlah ucapan “assalâmu’alaikum”, namun ada kandungan lain. Yang sejatinya kita sebarkan pertama kali adalah kedamaian. Membutuhkan kedamaian untuk membangun sebuah kota yang rukun. Sejatinya yang kita utamakan sebelum memulai membangun banyak hal adalah membangun arti kedamaian.

Kemudian nabi melanjutkan wasiatnya dengan “sedekahkanlah makanan”. Yang kita sedekahkan secara lahiriyah adalah sebentuk makanan pokok. Namun lebih dari itu, kita diberi wejangan setelah terbentuknya kedamaian dengan memperkuat ekonomi. Memperkuat kekuatan dan modal untuk mulai membangun masyarakat yang lebih bermutu. Tidak dengan ekonomi yang lemah, namun dengan ekonomi yang kuat. Memliliki banyak harta berarti memliki banyak kesempatan untuk banyak-banyak bersedekah.

Yang ketiga, “jalin silaturahim”. Memiliki masyarakat yang damai dan kuat membutuhkan kekompakan. Membutuhkan rasa saling mengerti dan saling menyayangi. Dengan silaturahim, hubungan antar satu insan dengan insan yang lain akan semakin kuat. Hubungan persaudaraan akan terbentuk, dan gambaran negri yang mutamaddin akan semakin dekat. Yang nampak sebenarnya adalah persaudaraan lahir, namun sejatinya, diam-diam kita tengah membangun sebuah komunitas yang bersatu lahir dan batin.

Baru kemudian nabi berwasiat untuk beribadah kepada-Nya, “dirikanlah salat tatkala orang-orang sedang pulas tertidur”. Sebuah tujuan akhir, tatkala sudah terbentuk negri yang damai dan kuat, barulah kita dapat tenang beribadah kepada-Nya. Setelah terbentuk sebuah masyarakat yang madani, baru kita dapat dengan tenang menyembah-Nya. Kita patut berkaca pada saudara-saudara kita yang jauh, di negri mereka yang dilanda peperangan, yang kedamaiannya hilang, yang ekonominya berantakan, yang warganya saling bermusuhan, bagaimana mungkin mereka dapat beribadah dengan tenang? Bagaimana mungkin mereka dapat menunaikan salat malam dengan khusu’, sementara nyawa mereka sedang dalam bahaya?

Ini menjadi sebuah renungan yang paling penting. Sebenarnya makanah yang paling musti kita dahulukan? Egois membentuk komunitas dengan membawa-bawa nama islam? Ataukah lebih baik membangun sebuah bangsa yang kuat dan damai, hingga akhirnya dengan sendirinya agama islam dapat membentuk komunitas yang kuat didalamnya? []

Nabi dan Masyarakat Madani

Madinah Al-Munawwaroh, kota yang diterangi cahaya Nabi, demikian nama yang disematkan kepada Yastrib setelah kepindahan Nabi dari Mekah ke kota tersebut. Kota berjarak sekitar 560 KM di utara Mekah ini adalah salah satu kota yang memainkan peran sangat penting dalam perkembangan peradaban Islam di masa mendatang. Di kota ini “terlahir” banyak sahabat-sahabat besar dibawah bimbingan langsung Nabi Muhammad SAW. Di sini pulalah Islam dapat menggeliat dengan bebas tanpa kungkungan kaum kafir dari suku Quraisy. Di sini pulalah, Islam menunjukkan eksistensinya yang bertahan sampai sekarang.

Nabi perlahan mengubah keadaan masyarakat Madinah menuju masyarakat madani, dan “mengembangkan” agama Islam agar diterima seluruh masyarakat dengan beragam karakter. Seluruh budaya jahiliyyah ditanggalkan. Bangsa Arab yang dulu saling unjuk supremasi antar suku, kini menjadi bangsa yang bersatu. Semua seolah mimpi, kareana Nabi melakukan itu hanya butuh waktu dua puluh tiga tahun. Sangat singkat. Namun tentu saja, hal tersebut tidak mudah. Ada saja rintangan yang harus dilewati, sebelum akhirnya Islam menjadi agama besar yang tersebar di seantero jazirah Arab.

Kondisi Madinah Ketika Nabi Hijrah

Masa pra Islam menjadi masa yang menggelisahkan bagi Yatsrib, dimana masyarakat asli kota itu, suku Aus dan Suku Khazraj sedang dilanda perang saudara yang semakin berlarut-larut dan tak kunjung ada penyelesaian. Perang makin lama makin meluas dan makin melibatkan banyak qabilah. Jika terus dibiarkan, bisa saja Yatsrib luruh. Di tengah keputus asaan ini, sayup-sayup terdengar kabar bahwa datangnya Nabi yang dijanjikan sudah tiba masanya. Kabar ini santer tak hanya berasal dari penduduk Yahudi Yatsrib yang paham betul dengan kitab suci mereka. Ibn Hayyabân, seorang Yahudi yang baru pindah dari Suriah mengatakan bahwa Nabi yang dijanjikan akan pindah ke kota ini segera. Ditambah lagi, Iyâs bin Mu’âdz, seorang delegasi suku Aus, bertemu langsung dengan Nabi. Ketika pergi ke Mekah guna minta bantuan suku Quraisy untuk melawan rivalnya, suku Khazraj. Sepulang dari Mekah, Iyâs berkali-kali menyebut tentang keesaan Tuhan dan hari akhir sebelum akhirnya meninggal dunia.

Kedatangan Nabi  ke Yatsrib menjadi semakin dinantikan, dimana beliaulah yang diharapkan bisa memadamkan perang saudara berkepanjangan ini.

Hingga pada akhirnya, ketika Nabi tiba pada, 27 September 622 M, Nabi disambut hangat oleh seluruh penduduk Yatsrib. Yatsrib menjadi Madinah, dan perang saudara dapat diakhiri.

Kondisi Masyarakat Pasca Hijrah

Setidaknya ada empat komponen besar masyarakat Madinah pada masa Nabi. Kaum Muslimin, yang diisi oleh kaum Muhajirin dan Anshar, kaum Yahudi Madinah (yang paling dominan adalah Banu Quraidzah, Banu Qainuqa’ dan Banu Nadhir), kaum musyrik madinah yang berasal dari suku Aus dan Khazraj, dan kaum munafik.

Keberhasilan Nabi menyatukan Madinah adalah hal yang mencengangkan, sebab Madinah sebenarnya bukanlah suatu komunitas yang harmonis. Beliau harus berhadapan dengan beragam tipu muslihat, perang dingin, bahkan yang paling berbahaya; musuh dalam selimut. Begitulah, beliau menata masyarakat dari beragam sisi. Mulai dari membangun aset, tata sosial, ekonomi, administrasi, sanksi pidana, bahkan hubungan diplomatik dengan “negara” tetangga.

Banyak masalah baru yang timbul, seperti dimanakah kaum Muhajirîn harus bertempat, sebagai kaum migran, butuh perhatian khusus agar mereka bisa hidup layak di “negeri orang”. Masalah kemiskinan juga pelik. Kaum muslimin dengan jumlah yang sedikit, fasilitas minim, dan masih berupa komunitas baru harus berhadapan dengan lawan yang  menyatakan permusuhan. Nabi Muhammmad SAW menghapus era jahiliyyah yang identik dengan saling membanggakan keturunan, dan ketimpangan sosial -kebal hukum bagi yang berkuasa- diganti dengan sebuah “wacana” baru tentang persamaan hak untuk seluruh lapisan masyarakat. Tak ada lagi masyarakat yang kebal hukum, semua ditindak tegas jika melanggar norma. Siapapun itu. “Andai Fathimah putri Muhammad mencuri, pasti kupotong tangannya,” sabda Nabi suatu ketika.

Membangun Aset

Aset paling penting bagi masyarakat muslim Madinah adalah Masjid Nabi. Di tempat yang semula dimiliki dua bersaudara Sahl dan Suhayl, Nabi membangun sebuah Masjid. Masjid bersejarah ini awalnya sangat sederhana, hanya dipagari tembok dari tanah liat yang tak begitu tinggi dan tak memiliki atap di bagian tengah. Masjid Nabi tak hanya berfungsi tunggal sebagai sarana ibadah, namun juga menjadi “pusat pemerintahan”, administrasi, dan aktifitas keilmuan. Semakin mulia masjid ini, karena kelak juga menjadi tempat jasad Nabi dibaringkan, ditemani dua sahabat tercintanya Abu Bakar RA. dan Umar RA. Nabi juga membangun kuburan yang dinamai Baqi Al-Gharqad, atau lebih dikenal dengan pemakaman Baqi’, “membangun” pasar khusus umat Islam yang mandiri dan terpisah dari pasar Bani Qainuqa’ di pinggiran Madinah, sehingga pedagang bebas bertransaksi, menurunkan barang atau melewatkan unta tanpa mengganggu penduduk kota.

Membangun Kehidupan Sosial

Hal yang penting dilakukan Nabi di Madinah adalah menghapus tradisi jahiliyyah yang sudah terlanjur mengakar. Beliau membentuk pribadi masyarakat yang kuat, dan perberadaban tinggi. Hingga sepeninggal Beliau, Islam semakin kuat dan mengakar. Bahkan ketika Islam semakin tersebar luas, kuatnya peradaban Islam kian terasa.

Dalam menyelaraskan kehidupan sosial, Nabi mempersaudarakan kaum Muhajirîn dengan kaum Anshôr. Ditahun pertama Nabi menetap di Madinah, Beliau mempersaudarakan setidaknya tujuh puluh sampai seratus orang. Sejak itu, kaum Anshor berloba-lomba membantu saudara mereka, kaum Muhajirin. Ditunjukkan dengan perhatian dan sikap mendahulukan mereka, memberi perlindungan, dan membantu dengan apapun yang bisa mereka bantu. Kaum Muhajirin sendiri menyambutnya dengan menerima sesuai kebutuhan, bahkan sebisa mungkin menolak agar tidak “membebankan”. Berkat hal ini, Suku Aus dan Khazraj yang dulu kerap berseteru kini dapat hidup harmonis besama kaum Muhajirin.

Disisi lain, masih ada saja kelompok pendatang yang tidak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan. Masalah ini segera diatasi Nabi dengan dibangunnya Sufah di ujung Masjid Nabi. Setidaknya ada kurang dari empat ratus kaum pendatang yang berdomisili di Sufah Masjid Nabi, salah satu yang kita kenal adalah Abu Hurairoh. Mereka disebut sebagai Ahlussuffah. Jumlahnya tidak menentu, kadang naik dan turun, sebab jika ada yang sudah mendapat pekerjaan dan mandiri, mereka akan keluar. Kondisi merekapun sangat memprihatinkan, ada yang tidak memiliki pakaian layak hingga urusan berpakaian yang penting aurat sudah tertutup. Ahlusuffah belajar agama dan Alquran pada malam hari, lalu ketika siang menjelang, mereka keluar untuk mencari “nafkah”. Sering Nabi duduk bersama mereka. Nabi sangat sayang pada mereka, hingga ketika Nabi mendapat hadiah, Beliau hanya mengambil sedikit, dan sisanya diberikan pada mereka.

Kehidupan sosial juga diatur dengan norma-norma atas bimbingan dari Allah SWT. Dalam ranah kehidupan keluarga, Nabi melarang keras perbuatan asusila, hingga ditetapkanlah hijab. Nabi mengancam siapa saja yang berani kepada orang tuanya, dan Nabi memberikan solusi thalaq bagi rumah tangga yang tak lagi harmonis. Memberikan batasan tentang siapa saja yang boleh dinikahi -dulu orang boleh menikahi siapapun, bahkan ibunya sendiri, dan berapa maksimal istri yang boleh dinikahi –dulu orang boleh menikahi wanita sebanyak-banyaknya, bahkan sampai sepuluh orang.

Diluar rumah tangga, Nabi memerintahkan agar hubungan sosial juga terjalin baik. Nabi membimbing umatnya untuk senantiasa menjalin silaturahim, peduli dengan tetangga, dan memperdulikan hak-hak anak yatim. Masalah perbudakan juga tak luput dari perhatian, dimana budak diberi hak-hak yang menjadikannya hidup lebih layak.

Membangun Ekonomi

Setelah dibukanya pasar Madinah, ekonomi umat Islam menggeliat dan mampu mandiri dari dominasi ekonomi di pasar Yahudi. Kaum Muhajirin sebagai motor penggerak pasar Madinah, sejalan dengan basic mereka di Mekah dulu yang kebanyakan adalah pedagang. Geliat persaingan kian hebat kala banyak kafilah dagang yang keluar masuk. Barang-barang juga diimpor dari luar daerah guna mendorong percepatan laju ekonomi. Tidak ada pajak dan upeti yang dibebankan bagi pedagang muslim. Kebangkitan ekonomi Islam diiringi dengan pemberlakuan norma-norma yang sejalan dengan wahyu  Allah SWT.

Sejalan dengan itu, sahabat Nabi adalah kumpulan orang-orang hebat yang taat dalam menjalankan hukum sesuai tuntunan syari’at. Transaksi Islam yang transparan dan jauh dari praktik riba adalah sebentuk potret ekonomi yang bersih dan bermoral. Segala bentuk praktik penipuan yang sudah biasa dimasa lalu dikecam.

Membangun Administrasi dan Sanksi Pidana

Madinah diatur dalam sistem kelembagaan yang unik dan asing bagi masyarakat Arab pada waktu itu. Sebuah batu loncatan baru untuk membangun peradaban modern. Nabi membangun Madinah sejalan dengan nafas Islam. Berasaskan Alquran yang langsung bersumber dari wahyu, dan hasil-hasil mufakat pembesar sahabat. Nabi Muhammad yang berperan ganda sebagai pemimpin “negara”, tokoh agama, hakim, bahkan panglima perang, mencetuskan Piagam Madinah, suatu undang-undang yang menyangkut kaum muslimin dan kaum Yahudi agar Madinah kuat bersatu dalam masyarakat yang hidup rukun berdampingan walaupun berbeda keyakinan. Seluruh suku-suku  di Madinah dirangkul tanpa tertinggal. Piagam Madinah juga memandu permasalahan dan situasi perselisihan agar segera mendapat penyelesaian. Undang-undang pertama bagi sebuah negara berperadaban, dan suatu kontrak politik pertama dalam arti yang sesungguhnya. Ekonomi tumbuh dengan sehat dengan nota kesepakatan ini, dan jka ada ancaman, semua orang akan bahu-membahu mempertahankan Madinah dengan semangat solidaritas yang kuat. Piagam ini tak berbatas waktu, sepanjang semua pihak menghormati piagam ini, piagam Madinah tetap ada.

Disisi pemberlakuan hukum, agar tercipta stabilitas keamanan, dengan tegas beragam sanksi ditegakkan. Sanksi bagi pencuri adalah potong tangan, sanksi pelaku perzinaan adalah hukuman mati atau pengucilan, pemfitnah zina dan peminum arak dicambuk, sementara bagi seorang pembunuh harus membayar dengan nyawanya sendiri jika jalur kekeluargaan sudah gagal ditempuh. Semua sanksi tegas ini dijatuhkan tanpa ada yang kebal hukum. Semua orang dimata hukum adalah sama saja. Bahkan muslim yang membunuh non muslimpun juga turut ditindak tegas.

Islam Yang Bersinar Terang

Cahaya Islam  pelan-pelan menyinari seanteo jazirah, pelan tapi pasti Islam menyentuh titik-titik terjauh. Dari surat-surat ajakan masuk Islam yang dikirimkan kepada raja-raja di sekitar Arab, banyak yang ditanggapi positif. Islam kemudian disambut hangat dari beragam daerah. Tahun demi tahun banyak delegasi dari daerah-daerah masing-masing yang berdatangan untuk bertemu Nabi guna menyatakan keislaman dan ketundukan, atau memikirkan lebih dulu keputusan untuk masuk Islam. Banyak sahabat-sahabat Nabi yang dikirim ke berbagai daerah untuk mengajarkan islam dan menyebarkannya dengan baik-baik. []