Hari-hari ini, tepatnya tanggal 11-13 Dzulhijjah, kita memasuki hari yang terkenal dengan nama “al-ayyam at-tasyriq”. Pada malam hari raya, orang-orang islam beramai-ramai melantunkan kalimat takbiran di seluruh pelosok dunia. Lantas, apakah takbiran masih berlaku setelah hari raya idul adha? apakah ada hikmah dibalik itu semua?
Baca juga: Pentingnya Membaca Shalawat Setiap Hari Jumat
Pembagian takbiran
Perlu kita ketahui, bahwa takbiran itu terbagi menjadi dua macam:
- Takbir mursal; yakni takbir yang tidak berlaku setelah salat id. Adapun batasannya adalah dari mulai tenggelamnya matahari pada malam hari raya sampai imam memimpin jalannya salat id. Jenis takbir ini ada pada hari raya idul fitri. Sedangkan menurut an-Nawawi dalam kitab al-Adzkarnya, masih tetap terkena hukum sunah meskipun dalam melantunkannya setelah salat id.
- Takbir muqayyad; yakni takbir yang berlaku walaupun setelah salat id. Adapun batasannya adalah dari mulai masuknya waktu ashar pada hari arafah sampai dengan akhir hari tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah). [Baca: Ibnu Qasim, Fath al-Qarib, (Beirut: Dar Ibn Hazm), hal. 103).
Oleh karena itu, dengan adanya perbedaan kesunahan jangka takbiran tersebut, membuktikan bahwa melantunkan lafal takbiran pada hari tasyriq ini sangat dianjurkan.
Baca juga: Shalat dan Doa Istikharah dalam Menentukan Pilihan
Alasan penamaan hari tasyriq
Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab syarh Shahih al-Bukhari, menjelaskan ihwal alasan penamaan hari tasyriq. Menurut Sebagian ulama bahwa alasan dinamakan tasyriq karena salat id terlaksana setelah munculnya matahari dari arah timur (asy-syarq), sedangkan menurut Ibn al-‘Arabi karena kurban dan hadhaya tidak boleh disembelih sehingga terbitnya matahari dari arah timur (asy-syarq). [Baca: Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, (Beirut: Dar al-Ma’rifat), vol. 2 hal. 457.]
Baca juga: Doa Ketika Dalam Keadaan Susah
Berdzikir pada hari tasyriq
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ
“…dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan…” (Q.S. al-Haj ayat: 28)
Menurut Sahabat Ibnu Abbas bahwa arti dalam lafal “al-Ma’lumat” pada ayat tersebut adalah hari-hari tasyriq dan hari-hari pada tanggal 10 awal bulan Dzulhijjah. Kemudian jika ada kejanggalan mengapa hari tasyriq sama dengan tanggal 10 awal bulan Dzulhijjah? Jawabannya karena keduanya memiliki titik kesamaan yaitu masih sama dalam rangkaian ibadah haji. [Baca: Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, (Beirut: Dar al-Ma’rifat), vol. 2 hal. 458.]
Untuk itu, pada hari tasyriq ini, salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan adalah dengan berdzikir seraya meresapi setiap kalimat takbir, tahmid dan tahlil—atau yang lebih kita kenal dengan istilah takbiran—yang sedang dilantunkan.
Hikmah takbiran pada hari tasyriq
Menurut al-Khatabi hikmah disunahkannya takbiran pada hari-hari itu dikarenakan bahwa pada masa Jahiliyah, mereka menyembelih (hewan kurban) untuk berhala-berhala mereka, maka disyariatkanlah takbir pada hari-hari tersebut sebagai isyarat bahwa penyembelihan hanya diperuntukkan bagi Allah dan atas nama-Nya yang Maha Mulia dan Maha Agung. [Baca: Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, (Beirut: Dar al-Ma’rifat), vol. 2 hal. 458.]
Oleh karenanya, hal ini menunjukkan ada titik perbedaan antara hari raya idul fitri dan idul adha. Yakni, kesunahan takbiran pada hari raya idul fitri hanya ada pada hari itu saja, sedangkan kesunahan takbiran pada hari raya idul adha itu berlaku sampai tiga hari setelahnya.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
