HomeKonsultasiMemegang Tafsir Quran Saat Haid

Memegang Tafsir Quran Saat Haid

0 0 likes 2.6K views share

Admin yang terhormat. Seorang wanita yang sedang haid, apakah boleh memegang tafsir quran, seperti Shafwatu al Bayan li Ma’ani Alqur’ani al Karim?

Fitri

Admin – Saudari Fitri yang berbahagia. Hukum menyentuh atau membawa Alquran bagi orang yang hadats (tidak suci) masih diperselisihkan oleh para ahli fikih:

  1. Menurut Imam Dawud al Dzahiri, hukumnya diperbolehkan secara mutlak, walaupun Alquran tersebut tidak disertai tafsir. Pendapat ini juga disampaikan Imam Hakim dan Imam Hammad, guru Abu Hanifah. Dalil yang menjadi pijakan mereka dalam mencetuskan hukum tersebut adalah: Pertama, Rasulullah pernah mengirimkan surat yang di dalamnya tertulis ayat-ayat Alquran kepada Raja Heraqles. Padahal Raja Heraqles dalam keadaan hadats. Kedua, firman Allah dalam surat al Waqi’ah [56]: 77-79

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ.  فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ.  لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” Menurut mereka, maksud kalimat Alquran dalam ayat tersebut adalah Alquran yang ada di Lauh Mahfudz, sehingga yang dimaksud al Muthahharun adalah para malaikat. Jadi, Alquran yang ada di dunia tidak haram disentuh. Ketiga, hadis Rasulullah Saw.:

لَا يَمُسُّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ

Artinya: “Tidak boleh menyentuh al Quran selain orang yang suci (orang mukmin).” Kalimat Thahir (orang yang suci) dalam hadis di atas maksudnya adalah orang-orang mukmin, yang berarti setiap orang mukmin diperbolehkan menyentuh atau membawa Alquran. Penafsiran hadis ini berdasarkan firman Allah surat al Taubah [9]: 28:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا … الآية

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini.”

Dan berdasar hadis Rasulullah Saw. yang disabdakan saat Abu Hurairah merasa enggan berkumpul bersama para sahabat karena beliau sedang junub (berhadas besar):

سُبْحَانَ اللّٰهِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ

Artinya: “Maha Suci Allah, sesungguhnya orang mukmin tidaklah najis.”

  1. Menurut mayoritas ahli fikih, membawa Alquran diperbolehkan jika disertakan dengan benda lain -meskipun hanya sebuah jarum kecil- asalkan berniat membawa benda yang menyertai Alquran, bukan berniat membawa Alquran atau berniat membawa keduanya sekaligus. Diperbolehkan juga membawa Alquran yang disertai tafsir, atau keterangan-keterangan lain seperti asbab al nuzul (sebab-sebab ayat Alquran diwahyukan), fadhilah ayat dan lain sebagainya. Hal ini jika tafsirnya atau keterangan-keterangan itu lebih banyak daripada ayat Alquran itu sendiri. Pendapat ini juga disampaikan oleh Abu Makhramah dan Imam Romli.

Ulama madzhab Syafi’i menjelaskan, Alquran yang tulisannya bercampur dengan tafsir -seperti kitab Tafsir Jalalain- dan Alquran yang tulisannya terpisah dari tafsirnya -seperti tafsir Shafwatul Bayan li Ma’ani al Quran– memiliki hukum yang sama. Tentang hukum menyentuh Alquran, menurut Imam Romli diperbolehkan asalkan tidak menyentuh pada bagian tulisan Alquran.

Perlu diketahui bahwa kitab tafsir Shafwatul Bayan li Ma’ani Alquran memuat beberapa keterangan berupa: Asbab al Nuzul, Tafsir, dan Faharis (Daftar Isi). Sehingga jelas bagi kita bahwa menyentuh atau membawa kitab tafsir Shafwatul Bayan li Ma’ani Alquran diperbolehkan, namun hukumnya makruh. Dijelaskan dalam kitab Itsmid al ‘Ainaini:

[مسألة] يَحِلُّ حَمْلُ قُرْآنٍ مَعَ تَفْسِيْرٍ مَشْكُوْكٍ فِيْ أَكْثَرِيَّتِهِ عِنْدَ (حج) كالضَّبَّةِ وَالْحَرِيْرِ

Artinya: “Halal membawa Alquran disertai tafsir yang perbandingan banyaknya masih diragukan menurut Imam Ibnu Hajar, seperti masalah tambalan dengan perak dan masalah kain sutera.”

[مسألة]: لَا تُعْطَى حَوَاشِي الْمُصْحَفِ حُكْمَ التَّفْسِيْرِ عِنْدَ (حج) وَقَالَ (م ر): الْحُكْمُ وَاحِدٌ

Artinya: “Bagian tepi Alquran tidak sama hukumnya dengan Alquran menurut Imam Ibnu Hajar. Sedangkan menurut Imam al Ramli hukumnya sama dengan Alquran.”

[مسألة]: حَيْثُ كَانَ التَّفْسِيْرُ أَكْثَرَ لَا يَحْرُمُ مَسُّ الْمُصْحَفِ مُطْلَقاً، وَقَالَ (م ر): الْعِبْرَةُ فِي الْحَمْلِ بِالْجَمِيْعِ وَفِي الْمَسِّ بِمَوْضِعِهِ.

Artinya: “Jika jumlah huruf tafsir lebih banyak dari pada jumlah huruf Alquran, maka tidak haram menyentuh kitab tersebut secara mutlak. Imam Al Romli mengatakan, hukum membawa kitab memandang pada keseluruhan kitab, sedangkan hukum menyentuh hanya pada bagian yang disentuh saja.”

[مسألة]: لَا يَحِلُّ حَمْلُ قُرْآنٍ وَمَتَاعٍ بِقَصْدِهِمَا (تحفة) وَيَحِلُّ عِنْدَ (م ر)

Artinya: “Haram membawa Alquran bersama benda lain dengan niat membawa keduanya (kitab Tuhfah). Namun menurut Imam al Ramli hukumnya halal.”

Dalam kitab Bughyaah al Mustarsyidin (Sayyid Abdurrahman bin Muhammad) menjelaskan:

وَاعْتَمَدَ (م ر) وَالْخَطِيْبُ حُرْمَةَ مَسِّ السَّاتِرِ لِلْمُصْحَفِ فَقَطْ ، وَجَوَّزَ أَبُوْ مَخْرَمَةَ مَسَّ جَمِيْعِ الْجِلْدِ. فَائِدَةٌ : قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ : يَجُوْزُ حَمْلُ الْمُصْحَفِ وَمَسُّهُ بِحَائِلٍ. وَقَالَ دَاوُدُ : لَا بَأْسَ بِهِمَا لِلْمُؤْمِنِ مُطْلَقاً. وَقَالَ طَاوُسُ : يَحِلَّانِ لِآلِ مُحَمَّدٍ مَعَ الْحَدَثِ اهـ شَرْحُ الدَّلَائِلِ

Artinya: “Imam al Romli dan Imam Khathib berpendapat, ‘Haram menyentuh penutup Alquran.’ Sedangkan Abu Makhramah memperbolehkan menyentuh seluruh sampul Alquran. (Faidah) Abu Hanifah memperbolehkan menyentuh dan membawa Alquran dengan alas/penghalang. Imam Dawud berpendapat, ‘Orang mukmin diperbolehkan menyentuh atau membawa Alquran secara mutlak.’ Sedangkan Imam Thawus berkata, ‘Keduanya (menyentuh dan membawa Alquran) halal bagi keturunan Nabi Muhammad Saw. meskipun dalam keadaan hadas.’