Category Archives: Konsultasi

Pengalokasian Sisa Kulit Kurban

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ibadah kurban di hari raya Idul Adha merupakan momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Namun meskipun telah usai, masih ada saja problematika yang membutuhkan jalan keluar. Salah satunya adalah dilema sisa kulit hewan Kurban yang telah disembelih.

Adalah takmir masjid, sebagai pihak yang menjadi wakil sekaligus panitia penyembelihan hewan kurban berinisiatif menjual kulit binatang kurban tersebut. Selain bertujuan untuk menghindari terbengkalainya kulit hewan kurban yang sudah tidak dibutuhkan lagi, uang hasil penjualan tersebut akan dimasukkan ke dalam kas masjid. Hal ini memandang di masjid tersebut sudah memiliki bedug yang masih layak pakai. Apakah dapat dibenarkan tindakan takmir masjid tersebut? Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

_____________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb.

Pada mulanya, mayoritas ulama sepakat bahwa seluruh bagian hewan kurban yang meliputi daging, kulit, tanduk, dan lain sebagainya tidak boleh dijual. Hukum ini juga mencakup terhadap seluruh jenis kurban, baik kurban wajib ataupun sunah. Permasalahan ini pun cukup sensitif di masyarakat dan sering terjadi kesalahpahaman dalam berbagai prakteknya.

Namun dalam kitab Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, Imam An-Nawawi menceritakan dari Imam Al-Haromain bahwa ada satu pendapat yang mengatakan boleh menjual kulit hewan kurban dengan catatan harus mengalokasikan uang hasil penujualannya terhadap fakir muskin.

Dari pendapat tersebut sudah sangat jelas bahwa tindakan takmir masjid dapat dibenarkan hanya dalam praktek penjualan kulit kurban, namun tidak dapat dibenarkan apabila mengalokasikan uang hasil penjualan tersebut untuk di masukkan ke dalam kas masjid.

Solusinya, bagi takmir masjid memberikan kulit hewan kurban tersebut kepada salah satu fakir miskin. Kemudian ia menjulanya dan uang hasil penjulan boleh untuk di masukkan ke dalam kas masjid sebagai bentuk sedekah darinya untuk kemaslahatan masjid.

Referensi:

Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, juz 8 hal 419, cet. Dar Al-Fikr.

Syarh Al-Bahjah Al-Wardiyah, juz 5 hal 159.

 

 

 

Jasa Qurban Online

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Perkembangan zaman yang semakin maju sedikit banyak telah merubah pola pikir masyarakat untuk lebih mudah dalam segala hal, bahkan dalam urusan ibadah sekalipun. Salah satunya adalah dengan berqurban melalui jasa penerima dan penyalur kurban yang banyak bermunculan saat ini.

Dengan mentransfer sejumlah uang dari salah satu pilihan yang ditawarkan, pihak yang berqurban berarti menyerahkan sepenuhnya urusan yang berkaitan dengan qurbannya. Salah satu contoh adalah untuk satu ekor kambing cukup mentransfer 1,75 juta, dan untuk satu ekor sapi 12,25 juta. Pertanyaan, bagaimana pandangan fikih mengenai praktek jasa penyedia Qurban online tersebut?, terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

____________________

AdminWa’alaikumsalam Wr.Wb.

Praktek jasa qurban online yang beredar sekarang ini merupakan salah satu konsep Wakalah (perwakilan) berqurban. Dengan artian, seseorang yang berqurban (Mudhahhi) telah mewakilkan kepada pihak penerima jasa atas segala urusannya yang berkaitan dengan qurban, mulai dari pembelian, penyembelihan, pendistribusian daging, dan lain sebagainya.

Praktek mewakilkan qurban tersebut dapat dibenarkan dalam kaca mata fiqih. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Diantaranya:

  1. Seseorang yang berqurban diharuskan niat berqurban saat menyerahkan uangnya kepada wakil. Untuk praktek ini, pihak wakil tidak disyaratkan niat lagi. Namun bisa juga dia mewakilkan urusan niat, sehingga yang harus niat hanya dicukupkan kepada wakil.[1]
  1. Sebenarnya, pendistribusian daging qurban hanya ditentukan pada daerah tempat tinggal seseorang yang melakukan qurban. Namun bisa mengikuti pendapat shahih (benar) dalam kitab Kifayah Al-Akhyar yang mengatakan diperbolehkan mendistribusikan daging qurban ke daerah lain.[2]

Kasus ini sebenarnya sangat mirip dengan praktek mewakilkan qurban dengan mentransfer uang dari Indonesia ke Mekah untuk dibelikan hewan qurban di Mekah dan disembelih serta didistribusikan disana. Menurut Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi dalam fatwanya mengatakan bahwa ibadah qurban dengan praktek demikian dihukumi sah. [3]

Referensi:

[1] Hasyiyah Al-Qulyibi, juz 4 hal 254, cet. Al-Haromain.

[2] Kifayah Al-Akhyar, juz 2 hal 704, cet. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[3] Hasiyah I’anah At-Thalibin, juz 2 hal 380.

Aplikasi Penunjuk Arah Kiblat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Di zaman yang serba mudah seperti saat ini, banyak hal yang membuat urusan hidup semakin mudah, tidak terkecuali dalam ibadah sekalipun. Dan sekarang, banyak dijumpai berbagai aplikasi yang membantu umat muslim dalam berbagai hal, salah satunya adalah aplikasi penunjuk arah kiblat yang mudah didownload melalui smartphone.

Bagaimana hukum menjadikan aplikasi penunjuk arah kiblat tersebut sebagai acuan dalam menentukan kiblat saat salat? Dan apakah dicukupkan hanya dengan menghadap ke arah barat bagi orang Indonesia?, Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

______________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb. Sudah menjadi keharusan bagi seseorang yang akan melaksanakan salat (terutama salat fardu) untuk menyempurnakan syarat-syarat sebelum melaksanakannya. Salah satu dari beberapa syarat tersebut adalah menghadap kiblat (Ka’bah di kota Mekah). Legalitas syarat tersebut bertendensi pada firman Allah Swt dalam Alqur’an:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Dan hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram,” (QS. Al-Baqoroh: 144).

Yang dimaksud wajah dalam ayat tersebut hanyalah sebatas kata Majaz, dengan artian bahwa yang menjadi pertimbangan penting dalam menghadap kiblat adalah posisi dada seseorang yang salat.

Pada hakikatnya, metode dalam hal menghadap kiblat bagi orang yang akan melaksanakan salat sudah dianggap cukup dengan berpedoman dari salah satu dari 4 cara, yaitu mengetahui secara yakin, kabar dari seseorang yang dipercaya, ijtihad (menghasilkan prasangka), dan mengikuti seorang mujtahid.[1]

Adapun aplikasi pencari arah kiblat dalam operasionalnya berusaha untuk menunjukkan arah kiblat seakurat mungkin dengan mengupdate data lokasi seluler yang mengaksesnya, baik ketinggian tempat, posisi garis lintang, garis bujur, dan lain sebagainya. Karena praktek dengan metode tersebut juga memandang validitas dan kemungkinan kecil untuk terjadi kesalahan, maka aplikasi penunjuk arah kiblat yang beredar sekarang sudah dianggap mencukupi sebagai acuan dalam menentukan arah kiblat.[2]

Apabila muncul lagi sebuah persoalan, apakah seorang dalam menghadap kiblat harus tepat persis terhadap bangunan Ka’bah atau dicukupkan dengan arah dimana kiblat tersebut berada?. Maka dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama (khilaf).

Menurut madzhab Syafi’i, pendapat yang unggul mengatakan bahwa seseorang harus secara tepat menghadap terhadap bangunan Ka’bah. Apabila posisi orang yang salat dekat dengan Ka’bah maka harus berdasarkan keyakinan, dan apabila posisinya jauh maka dicukupkan sebatas prasangka (dzon) saja.

Namun dalam lingkup internal madzhab Syafi’iyyah sendiri masih ada pendapat yang mengatakan bahwa seseorang yang salat dicukupkan menghadap arah dimana ka’bah tersebut berada, misalkan orang Indonesia menghadap ke arah barat.[3] Pendapat ini didukung oleh Al-Ghozali, al-Mahalli, Ibnu Kajin, dan Abi Usrun. Menururt Imam Al-Adzro’i, pendapat ini buka berarti tanpa alasan. Karena menimbang ukuran bangunan ka’bah yang sangat kecil, dan sudah dipastikan mustahil bagi seluruh penduduk dunia untuk menghadapnya secara tepat.[4] Dengan alasan inilah beberapa ulama tersebut mengatakan cukup dengan sekedar menghadap arah kiblat.[] waAllahu a’lam.

Referensi:

[1] Al-Bajuri, juz 1 hal 142, cet. Al-Haromain.

[2] Hasyiyah Al-Qulyubi, juz 1 hal 155, cet. Dar Al-Fikr.

[3] Bujairomi ‘Ala Al-Khotib, juz 2 hal 119, cet. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[4] Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 78.

Hukum Shalat Dhuha Berjamaah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin yang terhormat, saya mau bertanya seputar fenomena yang terjadi di beberapa pesantren di sekitar tempat tinggal saya. Yaitu praktek shalat sunah Dhuha yang dikerjakan secara berjamaah. Bahkan sebagian pesantren ada yang menjadikan kegiatan tersebut sebagai rutinitas wajib yang harus diikuti oleh seluruh santrinya. Bagaimana fiqih menanggapi hal demikian?, terima kasih atas penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Maimun Najib, Pasuruan.

_______________________

AdminWa’alaikumsalam Wr.Wb. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih dan apresiasi kepada saudara Maimun Najib karena setidaknya Anda telah mampu bersikap kritis melihat apa yang terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggal. Apalagi ini berkaitan dengan hukum agama.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa shalat Dhuha merupakan kategori shalat sunah yang tidak dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah. Artinya, shalat Dhuha lebih baik dikerjakan sendirian (munfarid). Rumusan ulama dalam hal ini berlandaskan pada sebuah hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw melaksanakan shalat Dhuha sendirian. Abdurrahman Bin Abi Laila meriwayatkan:

مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ، أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا قَالَتْ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ، فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، فَلَمْ أَرَ صَلاَةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ

Tidak ada seorangpun selain Ummi Hani’ yang mengabariku bahwa ia melihat Nabi Saw melakukan shalat Dhuha. Dialah yang menceritakan bahwa Nabi Saw pernah masuk rumahnya ketika masa penaklukan kota Mekah. Lalu beliau mandi dan mendirikan shalat delapan rakaat, dan aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat yang lebih ringan daripada itu, kecuali beliau menyempurbakan ruku’ dan sujudnya.”[1]

Meskipun konsep awal mengatakan demikian, pelaksanaan shalat Dhuha yang dikerjakan secara berjamaah tidak serta merta menimbulkan hukum makruh atas jamaah tersebut. Sebab secara umum, shalat-shalat sunah yang tidak dianjurkan untuk dilakukan secara munfarid (tidak berjamaah) tetap boleh dilaksanakan secara berjamaah. Namun dalam konteks ini, praktek yang demikian tetap saja menyelisihi terhadap hal yang lebih utama (khilaful afdhol).[2]

Bahkan, kalau praktek shalat Dhuha yang dilaksanakan secara berjamaah memiliki tujuan yang baik dan dapat dibenarkan menurut syariat justru akan menjadikan nilai pahala dari tujuan tersebut. Salah satu contoh tujuan yang baik yang dibenarkan menurut syariat adalah melaksanakan shalat Dhuha secara berjamaah dalam rangka mendidik dan membiasakan anak kecil atau para santri dalam masa pendidikan agar terbiasa melakukan shalat Dhuha. Dengan catatan, praktek tersebut dapat dibenarkan dan bernilai pahala apabila tidak menimbulkan unsur-unsur yang dilarang, misalkan meninggalkan perkara yang sudah menjadi kewajiban.

Dalam kitab Bugyah Al-Mustarsyidin, Habib Abdur Rahman Al-Masyhur berkata:

(مسألة : ب ك) تُبَاحُ الْجَمَاعَةُ فِيْ نَحْوِالْوِتْرِوَالتَّسْبِيْحِ فَلَا كَرَاهَةَ فِي ذَلِكَ وَلَا ثَوَابَ, نَعَمْ إِنْ قَصَدَ تَعْلِيْمَ الْمُصَلِّيْنِ وَتَحْرِيْضَهُمْ كَانَ لَهُ ثَوَابٌ وَأَيُّ ثَوَابٍ بِالنِّيَّةِ الْحَسَنَةِ فَكَمَا يُبَاحُ الْجَهْرُ فِيْ مَوْضِعِ الْإِسْرَارِ الَّذِيْ هُوَ مَكْرُوْهٌ لِلتَّعْلِيْمِ فَأَوْلَى مَا أَصْلُهُ الِإْبَاحَةُ وَكَمَا يُثَابُ فِي الْمُبَاحَاتِ إِذَا قُصِدَ بِهَا الْقُرْبَةَ كَالتَّقَوِّيِّ بِالْأَكْلِ عَلَى الطَّاعَةِ. هَذَا إِذَا لَمِ يَقْتَرِنْ بِذَلِكَ مَحْذُوْرٌ كَنَحْوِ إِيْذَاءٍ أَوْ إِعْتِقَادِ مَشْرُوْعِيَّةِ الْجَمَاعَةِ وَإِلَّا فَلَا ثَوَابَ بَلْ يُحْرَمُ وَيُمْنَعُ مِنْهَاـ

“Diperbolehkan melaksanakan semacam shalat Witir atau shalat Tasbih secara berjamaah. Maka hal tersebut tidak manjadi makruh dan tidak pula mendapatkan pahala. Namun apabila praktek demikian bertujuan untuk mengajari/mendidik orang-orang yang sholat dan bertujuan memotivasi mereka, maka akan mendapatkan pahala. Dan setiap pahala juga diberikan atas niat atau tujuan yang baik. Misalkan mengeraskan bacaan pada shalat yang seharusnya dibaca secara pelan-pelan dengan tujuan pembelajaran, meskipun hukum asalnya adalah boleh (ibahah). Begitu juga perkara-perkara mubah apabila diniati dengan dengan niat untuk mendekatkan diri pada Allah Swt maka juga mendapatkan pahala, contohnya adalah makan dengan tujuan menghasilkan kekuatan untuk mengerjakan ketaatan. Namun semua itu apabila tidak menimbulkan hal-hal yang dilarang seperti berdampak menyakiti orang lain atau menimbulkan prasangka orang awam bahwa sholat itu harus berjamaah. Apabila menimbulkan hal-hal yang demikian maka tidak mendapatkan pahala, bahkan menjadi haram.”[3]

Kesimpulannya, sholat Dhuha lebih baik dikerjakan sendirian. Namun boleh dikerjakan secara berjamaah, apalagi ketika memiliki tujuan yang baik dan benar, seperti mendidik dan memotivasi. Maka hal tersebut justru bernilai pahala dan sangat dianjurkan dalam syariat.

Sekian, waAllahu A’lam Bis Shawab. []

Refrensi:

[1] Shahih Al-Bukhori, juz 2 hal 58.

[2] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 4 hal 55.

[3] Bugyah Al-Mustarsyidin, hal 67. Cet. Al-Hidayah.

Salat Qasar dan Jamak

I. Sholat Qashar
A. Hukum Qashar Sholat
Orang yang bepergian jauh diperbolehkan untuk meringkas (qashar) salat fardlu yang bilangan rakaatnya empat. Yakni sholat dhuhur, ashar, dan ‘isya. Sementara hukum mengqashar sholat secara lebih terperinci adalah sebagai berikut:
1. Boleh, bila perjalanan telah mencapai dua marhalah.
2. Lebih baik qashar, bila jarak tempuh telah mencapai tiga marhalah atau lebih.
3. Wajib, jika waktu sholat tidak cukup untuk melakukan sholat kecuali dengan cara meringkas sholat.
B. Syarat-Syarat Qashar Sholat

1. Tujuan bepergian tidak untuk maksiat.
2. Jarak yang ditempuh telah mencapai dua marhalah/16 farsakh. Jarak ini bila diukur menggunakan satuan kilometer, maka terdapat beberapa pendapat :

Menurut Mayoritas ulama’ 119,9 KM
Menurut Ahmad Al-Husain Al-Mishny 94,5 KM
Menurut Al-Ma’mun 89,999992 KM
Menurut Kitab At-Taqnrat Syadidah 82 KM
Menurut Kitab fiqh Al-Islamiy 88,7C4 KM
Menurut Kitab Tanwir Al-Qulub 80, 64 KM

3. Sholat yang diqashar adalah sholat yang dikerjakan dalam waktunya (ada).
4. Niat qashar sholat pada saat takbiratul ihram:

أصلي فرض الظهر مقصورة لله تعالى

 

5. Tidak dilakukan dengan cara bermakmum kepada imam yang tidak mengqashar sholat, baik imam ltu seorang musafir atau muqim.
6. Dilakukan setelah keluar dari batas desanya.
7. Dilakukan ketika masih dalam bepergian.
8. Memiliki tujuan daerah atau tempat yang jelas.
9. Mengetahui hukum diperbolehkannya qashar sholat.

II. Sholat jama’
A. Hukum dan Ketentuan Jama’
Orang yang telah memenuhi syarat-syarat diperbolehkan melakukan qashar sholat, juga diperbolehkan untuk jama’ (mengumpulkan) sholat dalam satu waktu. Sementara pelaksanaannya bisa dengan jama’ taqdim (dilakukan pada waktu sholat pertama ) atau dengan jama’ ta’khir (dilakukan pada waktu sholat kedua).
1. Jama’ taqdim, yaitu mengumpulkan sholat dhuhur dan ashar yang dilakukan pada waktu sholat dhuhur, dan mengumpulkan sholat maghrib dan ‘isya yang dilaksanakan pada waktu sholat maghrib.
2. Jama’ ta’khir, yaitu mengumpulkan sholat dhuhur dan ashar yang dilakukan pada waktu sholat ashar, dan
mengumpulkan sholat maghrib dan ‘isya yang dilaksanakan pada sholat ‘isya.
B. Syarat-Syarat Jama’ Taqdim
1. Niat jama’ ketika melaksanakan sholat yang pertama pada saat takbiratul ihram.
• Niat sholat pertama (Dhuhur):

أصلى فرض الظهر مجموعا إليه فرض العصر جمعا تقديما لله تعالى

• Niat sholat kedua (Ashar):

أصلى فرض العصر مجموعا إليه فرض الظهر جمعا تقديما لله تعالى

2. Tertib, dalam artian mendahulukan sholat dhuhur dari sholat ashar dan mendahulukan sholat maghrib dari isya’.
3. Muwalab, artinya setelah melaksanakan sholat pertama, langsung melakukan sholat kedua tanpa dipisah oleh waktu yang lama menurut keumuman. Sebagian ulama’ berpendapat, standar pemisah yang lama adalah waktu yang cukup digunakan untuk melakukan sholat dua rakaat, kecuali jika pemisah tersebut masih berkaitan dengan kemaslahatan sholat seperti melaksanakn wudhu, mendengarkan adzan dan lain-lain.
C. Syarat-Syarat Jama’ Ta’khir
1. Niat (menyengaja) akan melaksanakan sholat pertama dalam waktu sholat yang kedua, dimana niat tersebut dilakukan mulai masuknya waktu sholat yang pertama hingga akhir waktu sekira cukup digunakan untuk mengerjakan kira-kira satu rakaat sholat.
2. Dikerjakan dalam bepergian hingga selesai melaksanakan sholat yang kedua.
Dalam jama’ ta’khir tidak disyaratkan tertib, muwalah dan niat jama’ dalam waktu sholat pertama. Namun ketiganya sunah dilakukan.
• Niat sholat pertama (Dhuhur):

أصلى فرض الظهر مجموعا إليه فرض العصر جمعا تأخيرا لله تعالى

 

• ,Niat sholat kedua (Ashar):

أصلى فرض العصر مجموعا إليه فرض الظهر جمعا تأخيرا لله تعالى

 

Catatan:
Keringanan melakukan sholat jama’ taqdim dan ta’khir juga diperuntukkan bagi orang sakit yang merasa berat bila harus melakukan sholat secara sempurna. Menurut qoul aujah, batasan sakit yang diperbolehkan jama’ taqdim dan ta’khir adalah sakit yang
sekira menyebabkan diperbolehkan duduk di dalam sholat fardlu.

Catatan Penting:
Jama’ dan qoshor juga terkadang hukumnya wajib. Seperti ketika mengluarkan waktu sholat dluhur hingga sampai waktu ashar dengan niat jama’, dan belum melakukan sholat hingga waktu ashar tersisa hanya cukup untuk melakukan sholat empat rakaat, maka dalam keadaan tersebut wajib baginya untuk melakukan jama’ dan qoshor.

 

Disarikan dari buku Kado Turats, karya tamatan MHM Lirboyo 2011.