Khutbah Jum’at: Sejenak Mensyukuri Nikmat yang Allah Berikan

Khutbah Mensyukuri Nikmat

Tulisan ini mengajak kita untuk mensyukuri nikmat dan merenungi setiap helai napas dan detik kehidupan yang kerap kita anggap biasa, padahal merupakan limpahan kasih sayang Allah yang tiada tara. Selama hati mau menyadari dan lisan tak henti bersyukur, setiap detik yang kita jalani, mulai dari nikmat sehat, seteguk air, hingga ketenangan di dalam rumah terhitung sebagai jalan mendulang kedekatan dan kemuliaan di sisi Allah Swt. Mari kita simak khutbah berikut:

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ 

 . اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ هِيَ الزَّادُ الحَقِيقِيُّ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Baca juga: Khutbah Jum’at: Bekerja Menafkahi Keluarga Sama Dengan Beribadah

Hadirin rahimakumullah,

Kita mungkin sedang menjalani tumpukan beban kerja dan tuntutan harian yang seolah tak ada habisnya, sering kali kita merasa ada yang kurang. Kita sibuk melihat apa yang belum kita miliki, hingga tanpa sadar kita lupa menghirup napas lega untuk mensyukuri apa yang sudah ada di depan mata.

Para ulama menyebutkan, seandainya di sisi Allah ada bentuk ibadah hamba yang paling ikhlas dan paling mulia melampaui rasa syukur, niscaya Allah akan secara khusus menyebut nama para pengamalnya dari sekian banyak makhluk. Namun, karena tidak ada ibadah hati yang lebih agung dari bersyukur dalam setiap keadaan, Allah mengkhususkan kedudukan ini dan berfirman:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (bersyukur).” (QS. Saba’: 13)

Rasulullah saw. menceritakan bahwa Allah Swt. pernah berfirman kepada Nabi Musa a.s.: “Wahai Musa, bersyukurlah kepada-Ku dengan sebenar-benarnya syukur.” Maka Nabi Musa pun bertanya dengan penuh kerendahan hati: “Ya Rabbi, bagaimana aku bisa bersyukur kepada-Mu dengan sebenar-benarnya syukur, sedangkan setiap rasa syukur yang kuucapkan itu sendiri adalah nikmat baru yang Engkau berikan kepadaku?” Lalu Allah berfirman: “Wahai Musa, engkau telah bersyukur kepada-Ku dengan sebenar-benarnya ketika engkau menyadari dan mengakui bahwa semua nikmat itu murni berasal dari-Ku.”

Baca juga: Khutbah Jumat: Hindari FOMO!

Maka renungkanlah, hadirin:

bersyukur bukanlah sekadar mengucap alhamdulillah di bibir, melainkan sebuah kesadaran paling dalam di dalam dada bahwa tak ada satu pun kebaikan dalam hidup ini yang murni karena kehebatan kita.

Allah Swt. berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)

Hadirin rahimakumullah,

Di antara ribuan nikmat duniawi yang membalut tubuh kita setiap hari, ada dua nikmat agung yang sering kali baru terasa berharga saat ia telah hilang dari genggaman. Apa itu? kesehatan fisik dan ketenangan hidup.

Siapa saja yang terbangun di pagi hari, tubuhnya tidak digerogoti rasa sakit, langkah kakinya masih ringan, dan napasnya masih terasa lapang tanpa bantuan alat medis, sungguh ia sedang menggenggam anugerah yang sangat mahal. Namun, betapa sering kita baru teringat betapa mewahnya nikmat sehat saat kita berdiri di lorong rumah sakit, atau ketika mendengar kabar duka dan rintihan sakit dari kerabat serta sahabat kita.

Mengenai kelalaian ini, Rasulullah saw. bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ، وَالفَرَغُ

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (terpedaya dan merugi) padanya: yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Wahai para bapak-bapak, para pemuda, dan jamaah sekalian,

Perhatikanlah sabda Rasulullah saw. yang begitu menyentuh dan menenangkan hati berikut ini:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ؛ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa di antara kalian yang menyongsong pagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk harinya itu, maka seolah-olah dunia beserta isinya telah diserahkan kepadanya.” (HR. Tirmidzi & Ibn Majah)

Renungkanlah hadis ini! Jika pagi ini Anda bangun dan rumah Anda aman dari rasa takut, tubuh Anda sehat, dan di dapur ada sepiring makanan untuk disambung hingga malam nanti, maka demi Allah, hari ini Anda adalah orang yang sangat beruntung. Anda telah memiliki dunia dalam bentuknya yang paling murni.

Ulama tersohor, Wahb bin Munabbih rahimahullah, pernah meringkas muara dari seluruh nikmat kehidupan ke dalam tiga pilar utama:

Pertama, nikmat Islam dan hidayah. Itulah pokok dari segala nikmat, yang tanpanya tak ada kebahagiaan yang abadi.

Kedua, nikmat ‘afiyah yakni nikmat kesehatan & keselamatan=

Dan ketiga, nikmat kecukupan.

Baca juga: Khutbah Jumat: Akhlak Rasulullah Adalah Al-Qur’an

Wahai hadirin yang dimuliakan Allah,

Coba kita perhatikan detail-detail kecil dalam keseharian kita yang kerap terlewatkan:

Betapa sederhananya kita menyuap makanan dan meminum air, lalu dengan sangat lancarnya tubuh kita memproses dan membuang sisa-sisa pencernaan itu tanpa rasa sakit. Tahukah kita, berapa banyak saudara kita di luar sana yang harus mengeluarkan biaya besar hanya untuk bisa buang air atau mencerna makanan dengan normal?

Dan betapa juga, kita bebas dari ketakutan akan konflik, bom, atau peperangan yang saat ini sedang mencabik-cabik saudara-saudara kita di belahan bumi lain.

Allah Swt. mengingatkan kita dalam Surah Quraysh:

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

“Dia yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS. Quraysh: 4)

Namun di atas semua itu, puncak nikmat terindah adalah ketika Allah mengurniakan hidayah istikamah di atas jalan agama-Nya. Hati yang senantiasa terikat dengan masjid, jemari yang ringan bertobat, jiwa yang ridha atas takdir Allah—bahkan saat takdir itu terasa pahit. Sebab, bagi orang yang beriman, kepahitan takdir sering kali merupakan bingkisan rahmat yang terbungkus rapi.

Sebagaimana firman Allah Swt.:

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19)

Maka dari itu, mari kita jadikan momentum shalat Jum’at ini untuk melepaskan sejenak keluh kesah. Pandanglah anak-anak kita yang tertawa di rumah, pandanglah makanan sederhana di meja makan, rasakan detak jantung yang masih teratur ini, dan ucapkanlah dari kedalaman jiwa: Alhamdulillah ya Allah, atas segala hal yang sering lupa kusinggahi dengan rasa syukur.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ الشُّكْرَ سَبَبٌ لِزِيَادَةِ النِّعَمِ وَدَوَامِهَا.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Wahai Anda yang saat ini diberi kesehatan fisik. Guna-pakai kekuatan itu untuk melangkah ke majelis ilmu, menjemput rezeki yang halal, dan membantu saudara-saudari kita yang sedang terbaring lemah.

Wahai Anda yang saat ini diberi ketenangan dan kedamaian di dalam rumah. Jagalah keharmonisan itu, naungi keluarga Anda dengan kasih sayang, dan jadikan rumah Anda sebagai madrasah yang penuh dengan dzikrullah.

Wahai Anda yang mungkin saat ini sedang diuji dengan kesempitan atau sakit. Jangan pernah berkecil hati. Ketahuilah bahwa rasa sakit yang Anda pikul dengan sabar adalah gugurnya dosa-dosa, dan kesempitan yang Anda hadapi dengan husnuzhan adalah cara Allah mengangkat derajat Anda.

Mari kita memohon kepada Allah Swt. agar dijadikan sebagai hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, hamba-hamba yang hatinya peka melihat kebaikan Tuhan di setiap helai napas kehidupan.

اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ. وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses