Ka’bah merupakan bangunan suci yang menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia. Sejarah pembangunannya memiliki perjalanan panjang yang berkaitan dengan sejumlah nabi dan generasi terdahulu. Dalam riwayat yang penulis himpun dari Hasyiyah as-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, kisah Ka’bah bermula sejak penciptaan bumi, kemudian berlanjut pada masa Nabi Adam a.s., Nabi Ibrahim a.s., hingga masa Abdullah bin Zubair.
Baca juga: Kisah Tanggapan Rasulullah Kepada Pemimpin yang Menyuruh Rakyatnya Bermaksiat
Awal Mula Ka’bah dan Penciptaan Bumi
Dalam kitab Hasyiyah as-Shawi, terdapat keterangan tentang asal-usul Ka’bah. Di sana menyebutkan bahwa Allah Swt. menciptakan air selama dua ribu tahun sebelum menciptakan bumi. Pada saat itu, lokasi Ka’bah digambarkan berupa buih putih yang mengapung di atas permukaan air. Dari tempat tersebut, bumi kemudian dihamparkan dan dibentangkan.
Setelah Allah menurunkan Nabi Adam a.s. ke bumi, beliau merasa kesepian dan merindukan suasana beribadah serta mengingat Allah Swt. Menurut redaksi dalam kitab as-Shawi tersebut, Allah kemudian menurunkan Baitul Makmur ke bumi. Bangunan itu digambarkan terbuat dari batu permata merah dengan dua pintu dari zamrud hijau, masing-masing menghadap ke timur dan barat. Bangunan tersebut ditempatkan di lokasi yang sebelumnya berupa buih putih.
Nabi Adam a.s. kemudian mendatangi tempat tersebut dengan berjalan kaki dari Hindi (India). Bahkan, disebutkan bahwa beliau menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki selama empat puluh tahun. Setelah menyelesaikan ibadahnya, para malaikat menyambut beliau dengan mengatakan bahwa hajinya telah sempurna.
لَقَدْ بَرَّ حَجُّكَ يَا آدَمُ
“Sungguh, hajimu telah sempurna, wahai Adam.”
Baca juga: Siapa Sebenarnya Luqman al-Hakim? Begini Penjelasan Imam Abu Hayyan
Ka’bah pada Masa Nabi Nuh a.s.
Dalam riwayat yang sama, disebutkan bahwa ketika banjir besar melanda pada masa Nabi Nuh a.s., bangunan Ka’bah diangkat ke langit ketujuh. Lokasi bangunan tersebut pun dibiarkan kosong hingga masa Nabi Ibrahim a.s.
Sementara itu, Hajar Aswad disimpan oleh Malaikat Jibril di Gunung Abu Qubais untuk menjaganya dari terjangan banjir. Adapun bagian fondasi Ka’bah, menurut riwayat tersebut, tetap berada di tempatnya meskipun bangunan yang tampak telah hilang.
Terdapat pula pendapat masyhur yang menyebutkan bahwa para malaikat merupakan pihak pertama yang membangun Ka’bah. Setelah itu, Nabi Adam a.s. dan Nabi Syits a.s. turut membangunnya. Bangunan tersebut kemudian mengalami kerusakan pada masa banjir Nabi Nuh a.s., sedangkan fondasinya tetap dipertahankan.
Baca juga: Pemahaman yang Perlu Diluruskan: Dari Kisah Pencarian Tuhan Nabi Ibrahim
Pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim a.s.
Setelah berlalu masa yang panjang, Nabi Ibrahim a.s. datang untuk membangun kembali Ka’bah. Malaikat Jibril menunjukkan lokasi bangunan dan memberitahukan tempat Hajar Aswad yang sebelumnya disimpan di Gunung Abu Qubais.
Dengan berpedoman pada fondasi yang telah ada, Nabi Ibrahim a.s. kemudian membangun Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail a.s. Pembangunan ini menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah ibadah haji dan kedudukan Ka’bah sebagai tempat ibadah kepada Allah Swt.
Pembangunan Ka’bah pada Masa Bangsa Arab
Setelah pembangunan oleh Nabi Ibrahim a.s., Ka’bah beberapa kali mengalami pembangunan kembali. Dalam riwayat yang disebutkan, pembangunan tersebut dilakukan secara berurutan oleh kaum Amaliqah, suku Jurhum, Qushay bin Kilab, kemudian kaum Quraisy.
Ketika kaum Quraisy membangun kembali Ka’bah, mereka menghadapi keterbatasan biaya. Akibatnya, mereka tidak dapat menyelesaikan bangunan sesuai dengan fondasi Nabi Ibrahim a.s. Sebagian area yang semula termasuk dalam bangunan Ka’bah akhirnya dibiarkan berada di luar bangunan utama. Area tersebut kemudian dikenal sebagai Hijr Ismail.
Kaum Quraisy juga menempatkan kembali Hajar Aswad pada posisinya. Peristiwa pembangunan ini menjadi salah satu bagian penting dari sejarah Ka’bah sebelum masa kenabian Muhammad saw.
Pembangunan Ka’bah pada Masa Abdullah bin Zubair
Pada masa berikutnya, Abdullah bin Zubair membangun kembali Ka’bah dengan mengembalikannya pada fondasi Nabi Ibrahim a.s. Ia berpedoman pada hadis yang diriwayatkan dari Aisyah r.a. Dalam hadis tersebut, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa beliau sebenarnya ingin membangun Ka’bah di atas fondasi Ibrahim, tetapi mengurungkan niat tersebut karena kaum Quraisy saat itu masih belum lama meninggalkan kekufuran.
لَوْلَا قَوْمُكِ حَدِيثُو عَهْدٍ بِكُفْرٍ، لَبَنَيْتُ الْبَيْتَ عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ.
“Seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan kekufuran, niscaya aku akan membangun Ka’bah di atas fondasi Ibrahim.”
Hadis tersebut menjadi landasan Abdullah bin Zubair untuk mengembalikan bentuk Ka’bah sebagaimana yang beliau pahami dari fondasi Nabi Ibrahim a.s.
Namun, setelah Hajjaj bin Yusuf memperoleh kekuasaan, ia memerangi Abdullah bin Zubair hingga terbunuh. Hajjaj kemudian menghancurkan Ka’bah menggunakan manjaniq dan membangunnya kembali mengikuti bentuk bangunan kaum Quraisy.
Dengan demikian, bangunan Ka’bah kembali pada bentuk yang sebelumnya dibuat oleh kaum Quraisy. Peristiwa ini menjadi salah satu perubahan penting dalam perjalanan sejarah bangunan suci umat Islam tersebut.
Baca juga: Kisah KH Mahrus Aly Saat Diminta Menjadi Menantu KH Abdul Karim
Referensi:
Ahmad bin Muhammad ash-Shawi, Hasyiyah ash-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, jil. 1 (Surabaya: Al-Haramain), hlm. 88.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
