Al-Qur’an menghadirkan konsep keluarga bukan sekadar tempat bernaung dari terik dan hujan, melainkan sebuah ikatan suci yang dirancang untuk melahirkan kedamaian (sakinah), ditopang oleh rasa cinta (mawaddah), dan disempurnakan dengan kasih sayang (rahmah). Di dalam benteng kecil inilah tempat terbaik kita menempa iman, saling menjaga, dan menenun jalan bersama menuju ridha-Nya.
Mari kita simak uraian berikut untuk menggali lebih dalam bagaimana Al-Qur’an membimbing kita membangun keluarga yang bertabur keberkahan:
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ وَأَتَمُّ التَّسْلِيمِ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
فَيَا أَيُّهَا الإِخْوَةُ الكِرَامُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ. قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,
Ketahuilah, Al-Qur’an adalah pedoman hidup, konstitusi sebuah umat, yang di dalamnya Allah menitipkan petunjuk paling lurus untuk menuntun setiap jengkal langkah kita. Allah Swt. berfirman:
مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ
“Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab ini.” (QS. Al-An’am: 38)
Di antara perhatian terbesar Al-Qur’an adalah membangun institusi tertua, teragung, dan paling suci di muka bumi. Apa itu? Jawabannya adalah keluarga.
Hari ini, jika kita menatap ke sekeliling kita, betapa keluarga sedang terhantam gelombang kerapuhan, perpecahan, dan keretakan.
Maka, hadirin yang berbahagia, mari sejenak kita menepi dari hiruk-pikuk dunia. Mari kita selami reka bentuk dan keindahan “Keluarga yang Diinginkan Al-Qur’an”.
Baca juga: Khutbah Jum’at: Sejenak Mensyukuri Nikmat yang Allah Berikan
1. Figur Ayah dalam Al-Qur’an
Hadirin rahimakumullah,
Al-Qur’an menegaskan bahwa sosok ayah bukanlah sekadar penyedia dana atau penjaga benteng ekonomi yang hanya datang membawa pakaian dan makanan. Sosok ayah dalam Al-Qur’an adalah menara kesadaran, sumber hikmah, dan benteng kedamaian jiwa.
Lihatlah Nabi Luqman al-Hakim. Beliau duduk berdampingan dengan putranya, menanamkan fondasi aqidah, syariat, dan akhlak. Allah merekam dialog indah itu:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (QS. Luqman: 13)
Hadirin rahimakumullah,
Perhatikan kalimat وَهُوَ يَعِظُهُ (ketika ia memberi pelajaran)—dalam kaidah bahasa Al-Qur’an, susunan ini menunjukkan kondisi yang terus-menerus dan istikamah. Bimbingan Luqman bukanlah kejadian kebetulan atau teguran sesaat, melainkan sebuah proses pengasuhan yang konsisten.
Dan resapilah panggilannya yang begitu lembut: “Yaa Bunayya” (Wahai anakku sayang…). Al-Qur’an memilih bentuk tashghir (kata yang melunakkan) bukan untuk mengecilkan, melainkan untuk mencurahkan air kasih sayang. Selain itu, lafadznya juga meruntuhkan gunung jarak antargenerasi sebelum ia menuangkan perintah dan larangan.
Hadirin rahimakumullah,
Luqman Al-Hakim mendidik dengan bertahap dan logis:
Pertama, penataan fondasi aqidah dalam ayat “Jangan persekutukan Allah!”
Kedua, menanamkan kesadaran diri. Luqman al-Hakim berpesan “Ketahuilah, sekecil biji sawi pun perbuatanmu akan dihadirkan Allah”
Ketiga, membangun ibadah. Beliau berpesan “Wahai anakku, tegakkanlah shalat”
Terakhir, ia juga berpesan perihal etika sosial. Al-Qur’an memotrek perkataan Luqman “Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong”
Inilah sosok ayah yang melahirkan anak bersikap kritis dan berakal budi.
Hadirin rahimakumullah,
Perhatikan pula sosok Nabi Ya’qub a.s. Betapa luar biasa kesabarannya menghadapi anak-anaknya yang melakukan kejahatan besar. Anak-anak yang bersekongkol melemparkan adiknya (Yusuf) ke dalam sumur tua, lalu pulang membawa baju berlumur darah palsu, hingga membuat mata Ya’qub memutih karena kesedihan yang dipendam.
Namun, adakah Ya’qub mengutuk mereka? Adakah beliau mengusir mereka dari rumah? Tidak!
Ketika kebenaran terkuak dan anak-anaknya datang dengan hati hancur seraya memohon:
قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ
“Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah’.” (QS. Yusuf: 97)
Apakah sang Ayah menyindir kemalangan masa lalu? Tidak! Dengan kelembutan jiwa seorang ayah, beliau menjawab:
قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Dia (Ya’qub) berkata: ‘Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Rabbku. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Yusuf: 98)
Baca juga: Khutbah Jum’at: Bekerja Menafkahi Keluarga Sama Dengan Beribadah
Hadirin rahimakumullah,
Inilah pesan Al-Qur’an untuk para ayah: Jangan pernah mengusir anakmu yang berbuat salah dari hatimu! Ulurkan terus tali harapan. Jangan biarkan anakmu tenggelam dalam “ombak fitnah dunia” sementara engkau hanya menonton seraya berkata: “Aku sudah menasehatinya, tapi dia tidak mendengar.” Lihatlah Nabi Nuh a.s. yang tetap memanggil anaknya dengan kasih sayang: “Yaa bunayyar-kab ma’anaa” (Wahai anakku, naiklah bersama kami!), bahkan hingga detik-detik akhir kehidupan sang anak.
2. Figur Ibu dalam Al-Qur’an: Penempa Jiwa dan Pencetak Generasi
Hadirin rahimakumullah,
Jika demikian sosok ayah dalam Al-Qur’an, lantas bagaimanakah figur Ibu?
Ibu dalam Al-Qur’an bukan sekadar penyiap hidangan di dapur atau pengasuh fisik belaka. Dia adalah pencetak tokoh, pembangun peradaban! Dia adalah Ibunda Musa dalam keteguhan keyakinannya, dan Istri ‘Imran dalam kebersihan niatnya.
Ibu yang diinginkan Al-Qur’an adalah Istri ‘Imran (Ibunda Maryam), seorang ibu yang tidak melahirkan anak hanya untuk dunia, tetapi melahirkan untuk langit. Bahkan sebelum bayinya lahir, ia telah berakad dengan Allah:
رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا
“Ya Rabbku, sesungguhnya aku meniatkan bagi-Mu apa yang ada dalam kandunganku menjadi hamba yang mengabdi penuh…” (QS. Ali ‘Imran: 35)
Ibu-ibu dalam Al-Qur’an tidak membiarkan niatnya berhenti pada makanan dan pakaian anak, tetapi berniat agar keturunannya menjadi pelayan agama dan penabur kebaikan di muka bumi.
3. Figur Saudara (Kakak & Adik) dalam Al-Qur’an
Hadirin rahimakumullah,
Dan perhatikan pula sosok Nabi Musa terhadap Harun a.s. Ketika Musa diangkat menjadi Nabi di Lembah Tuwa, beliau tidak egois memikirkan dirinya sendiri. Beliau berdoa kepada Allah:
وَاجْعَل لِّي وَزِيرًا مِّنْ أَهْلِي * هَارُونَ أَخِي * اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي * وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي
“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia berserikat dalam urusanku.” (QS. Thaha: 29-32)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Tidak ada seorang saudara di dunia ini yang memberikan jasa lebih besar kepada saudaranya melebihi Musa kepada Harun; karena pembelaan dan doanya, Harun diangkat menjadi seorang Nabi!”
Di mana rumah-rumah kita hari ini dari nilai agung ini? Betapa banyak persaudaraan putus hanya karena perebutan sepetak tanah, warisan yang tak seberapa, atau kesalahpahaman sepele?
Ingatlah kisah heroik Al-Bara’ bin Malik dan adiknya Anas bin Malik r.a. pada Perang Tustar. Ketika besi-besi berpengait yang membara dilemparkan musuh dari atas benteng dan mencengkeram tubuh Anas bin Malik hingga dagingnya terbakar, Al-Bara’ tanpa ragu melompat dan memegang rantai besi panas itu dengan kedua tangan telanjang! Daging kepingan tangannya meleleh hingga melekat pada tulang, namun ia tidak melepaskannya sampai adiknya selamat.
Inilah persaudaraan sejati! Aduuuuuh… Betapa indahnya jika rumah-rumah kita dipenuhi spirit:
سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ
“Kami akan menguatkan lenganmu dengan saudaramu…” (QS. Al-Qashash: 35)
4. Figur Anak dan Putri dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an merangkum indahnya karakter Anak Shalih dalam tiga keteladanan Nabi:
Nabi Ismail pasrah dan mendukung ayahnya dalam ketaatan tertinggi kepada Allah saat diuji perintah penyembelihan.
Nabi Yusuf ketika menjadi Pejabat Tinggi (Aziz) di Mesir, beliau tidak malu mengakui ayahnya yang berasal dari desa, justru memuliakannya seraya mendudukkannya di atas singgasana.
Wahai para orang tua, didiklah putri-putrimu bahwa keindahan sejati terletak pada kesucian dan kehormatan diri. Karena wanita yang berhiaskan rasa malu tidak hanya memikat kedamaian di bumi, tetapi namanya disanjung oleh para malaikat di langit.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ الصَّلاَحَ فِي الْبُيُوتِ هُوَ أَسَاسُ صَلاَحِ الأُمَّةِ.
Baca juga: Khutbah Jumat: Menjaga Amanah dalam Kehidupan
Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,
Rumah tangga kita adalah benteng terakhir umat ini. Apabila benteng keluarga rapuh dan runtuh, maka runtuh pulalah generasi penerus kita.
Mari kita jadikan momen shalat Jum’at ini sebagai titik balik untuk pulang ke rumah membawa perubahan:
Jadilah tempat bernaung yang teduh, jadilah guru yang bijak, dan peluklah anak-anakmu dengan kehangatan iman.
Tanamkan niat mulia dalam membesarkan anak-anakmu, jadikan rumahmu madrasah pencerah jiwa.
Jadilah saling penopang, rapatkan barisan persaudaraan, dan buang jauh-jauh sifat iri dan permusuhan.
Rendahkan sayap kepatuhanmu di depan orang tuamu, dan hiasilah dirimu dengan mahkota kehormatan dan kesucian.
Mari kita menengadahkan tangan, memohon kepada Allah Swt. agar rumah-rumah kita disinari dengan cahaya Al-Qur’an:
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أُسَرَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَبْنَائِنَا وَبَنَاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا مَنَارَاتٍ لِلْهُدَى وَالسَّلاَمِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
