Dalam ajaran agama Islam, selalu ada pengecualian dalam segala hukum menyesuaikan keadaan yang menuntutnya. Hal ini tidak lain karena mempertimbangkan dampak positif-negatifnya sebuah perkara, salah satu contohnya adalah perihal mentaati pemimpin. Lantas, bagaimana jika seorang yang diangkat Rasulullah Saw. sebagai pemimpin justru menyuruh rakyatnya untuk bermaksiat? Tulisan ini mengajak Anda menelusuri kisah tersebut dan mengambil pelajaran darinya.
Baca juga: Siapa Sebenarnya Luqman al-Hakim? Begini Penjelasan Imam Abu Hayyan
Makna seorang pemimpin
Dalam kitab Jawahir al-Lu’luiyyah, Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Jurwani memberi tanggapan terkait makna “pemimpin kaum Muslimin”. Menurutnya, makna yang tersirat dalam hadits tersebut adalah bahwa seorang pemimpin harus berusaha menolong rakyatnya dalam ajaran yang benar, memberitahu ketika ada kelalaian, mendoakan kebaikan kepada rakyatnya, menunaikan zakat kepada mereka, dan memerintahkan hal-hal yang tidak ada indikasi bermaksiat kepada Allah swt.
Baca juga: Kisah KH Mahrus Aly Saat Diminta Menjadi Menantu KH Abdul Karim
Kisah seorang sahabat yang diangkat menjadi pemimpin
Dikisahkan Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi diutus oleh Rasulullah untuk memimpin sebuah pasukan. Baginda Nabi pun memerintahkan kepada kaum muslimin untuk mentaati Abdullah dan mendengarkan apa yang dikatakannya.
Namun, ada sebuah insiden yang membuat kaum muslimin pada waktu itu murka.
Hal ini bermula karena ada candaan yang tidak menyesuaikan pada tempatnya. Abdullah memerintah kaum muslimin untuk mengumpulkan kayu bakar lalu kemudian membakarnya. Dan tidak berhenti di situ, ketika api sudah membara, Abdullah menyuruh kaum Muslimin untuk memasukinya. Dengan kesadaran penuh, mereka menolak perintah itu dan terjadilah keributan di sana.
“Bukankah Rasulullah menyuruh kalian untuk mentaatiku? beliau juga bersabda, ‘barangsiapa yang mentaati perintahku maka sungguh dia mentaatiku’” kata Abdullah
“Tidak ada keimanan kepada Allah dan tidak mengikuti jejak baginda Nabi kecuali kami justru selamat dari bara api” jawab mereka. Marahnya Abdullah pun reda dan api pun padam.
Tatkala kabar itu sampai kepada baginda Nabi Muhammad saw., beliau membenarkan perkataan para kaum muslimin. Setelah itu beliau bersabda:
لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta (Allah swt).”
Baca juga: Pemahaman yang Perlu Diluruskan: Dari Kisah Pencarian Tuhan Nabi Ibrahim
Referensi:
Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Jurwani, al-Jawāhir al-Lu’lu’iyyah (t.t.: Dār al-Faḍīlah, t.th.), hlm. 90.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
