Membaca Sejarah Nabi, Menumbuhkan Kecintaan kepada Kanjeng Nabi

Sejarah Nabi

Pada Majelis Sholawat Kubro yang digelar di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kamis Legi malam, 20 November 2025, Agus Izzul Maula Dliyaullah menyampaikan pentingnya mempelajari sejarah seseorang, terlebih sejarah Kanjeng Nabi Muhammad saw. Menurut beliau, mempelajari sejarah seseorang pada dasarnya merupakan sesuatu yang legal.

Hukum Mempelajari Sejarah

Beliau mengawali dengan memberikan gambaran sederhana mengenai kebiasaan seseorang dalam mempelajari sejarah keluarganya. Seseorang tentu tidak dilarang ketika ingin mengetahui perjalanan hidup orang tua maupun kakek-neneknya. Mulai dari tempat kelahiran, tahun kelahiran, hingga berbagai kisah dalam perjalanan hidup mereka.

“Kalian juga sama, ingin membaca sejarah orangtua kalian. Dulu ayah saya itu first love-nya di mana ya? Dulu ayah saya ini nikah dengan ibu saya tahun berapa? Maharnya berapa? Di mana ngelamarnya? Pakai apa ngelamarnya? Nah ini kan boleh-boleh saja kita belajar sejarah tentang orangtua kita.” Tegas Agus Izzul Maula Dliyaullah.

Baca juga: Mencintai Rasulullah dengan Akhlak dan Menebar Rahmat

Demikian pula ketika seseorang ingin mempelajari sejarah para tokoh dan pahlawan. Sejarah para ulama dan tokoh bangsa, seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) maupun KH Muhammad Kholil Bangkalan, juga boleh kita pelajari. Tidak ada larangan bagi seseorang untuk membaca dan memahami perjalanan hidup orang lain.

Maulid Berisi Sejarah Nabi

Lebih lanjut, Agus Izzul Maula Dliyaullah menjelaskan bahwa hal tersebut juga berlaku dalam membaca Maulid. Di dalam Maulid terdapat kisah dan perjalanan hidup Kanjeng Nabi Muhammad saw. Dengan membaca Maulid, seseorang pada hakikatnya sedang membaca dan mempelajari sejarah Nabi Muhammad saw.

“Nah sekarang dalam maulid itu isinya menceritakan tentang sejarah Kanjeng Nabi. Kita membaca sejarah Kanjeng Nabi. Kita mempelajari sejarah Kanjeng Nabi. Masa kok dilarang? Ya tidak, justru malah disunahkan.”

Baca juga: Membaca Maulid, Wujud Melestarikan Tradisi Guru Kita

Menurut beliau, mempelajari sejarah Nabi bukan sekadar mengetahui peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupan beliau. Lebih dari itu, sejarah Nabi menjadi sarana untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap perjalanan kehidupan Rasulullah saw.

“Karena dengan kita membaca sejarah Kanjeng Nabi, kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan Kanjeng Nabi. Kita bisa mengambil pelajaran dari sejarahnya Kanjeng Nabi.”

Karena itu, beliau menilai mempelajari sejarah Kanjeng Nabi memiliki kedudukan yang lebih utama daripada menghabiskan waktu untuk mengenal tokoh-tokoh yang tidak memiliki hubungan dengan kehidupan dan tuntunan seorang Muslim.

Tokoh yang Dikenal Generasi Saat Ini

Beliau merasa prihatin dengan kondisi sebagian generasi muda saat ini yang justru lebih mengenal tokoh-tokoh fiktif dalam film maupun novel dibandingkan mengenal Nabi Muhammad saw. Padahal, Nabi Muhammad saw. merupakan sosok yang seharusnya paling dikenal oleh umat Islam.

“Berapa banyak anak muda zaman sekarang lebih mengenal orang lain dibandingkan dengan Nabi-Nya sendiri. Masya Allah, ini miris zaman sekarang.”

Beliau kemudian memberikan sebuah perumpamaan yang dekat dengan kehidupan anak muda. Ketika ada yang bertanya tempat kelahiran Nabi Muhammad saw., masih ada anak muda yang tidak mengetahuinya. Namun, ketika ditanya mengenai tempat kelahiran tokoh fiktif yang mereka kenal, mereka justru dapat menjawab dengan mudah.

Baca juga: Di Acara Ta’dhim Maulid, Kiai Kafabihi Imbau Santri Tekuni Hadis dan Contoh Akhlak Rasulullah

“Banyak sekarang, ketika ditanya anak-anak muda, anak-anak Islam muda zaman sekarang, di mana Nabi dilahirkan? Tidak mengerti. Tetapi ketika ditanya, di mana dilahirkan Naruto? Konoha. Ini miris sekali, miris sekali.”

Hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan generasi muda terhadap agamanya, khususnya terhadap sejarah Nabi Muhammad saw., perlu terus kita tingkatkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menghidupkan kembali majelis-majelis Maulid dan membaca sejarah kehidupan Rasulullah saw.

Menurut beliau, keberadaan Maulid dapat menjadi salah satu sarana untuk mendekatkan generasi muda kepada Nabi Muhammad saw. Dengan sering dibacakan kisah kehidupan Rasulullah, diharapkan generasi muda tidak hanya mengenal nama Nabi, tetapi juga mengetahui perjalanan hidup, perjuangan, dan keteladanan beliau.

“Jadi dengan diadakan maulid semacam ini, ini bisa sedikit meminimalisirlah, agar generasi-generasi saat ini bisa lebih mengenal dengan Nabinya sendiri.”

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses