Kamis Legi malam, 20 November 2025, Agus Izzul Maula Dliyaullah menyampaikan dawuh tentang pentingnya memegang teguh ajaran dan tradisi yang telah diwariskan oleh guru kita. Salah satunya adalah tradisi membaca Maulid Diba’.
Menurut beliau, melestarikan tradisi yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh para guru merupakan salah satu sebab seorang santri mendapatkan keberkahan ilmu sekaligus mengharap ridha dari guru-gurunya.
“Salah satu sebab kita mendapatkan keberkahan ilmu kita, salah satu sebab kita mendapatkan ridho dari guru-guru kita, yaitu melestarikan tradisi yang sudah diajarkan dan dicontohkan oleh guru-guru kita.”
Baca juga: Di Acara Ta’dhim Maulid, Kiai Kafabihi Imbau Santri Tekuni Hadis dan Contoh Akhlak Rasulullah
Beliau kemudian menekankan pentingnya bagi seorang santri untuk tetap nderek dawuh dan memegang teguh ajaran guru, baik ketika masih berada di pondok maupun setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Selama kita masih nderek dawuh guru-guru kita, maka insya Allah ilmu kita akan manfaat di dunia wal akhirah. Dan kita juga mendapatkan ridho dari guru kita.”
Menurut beliau, selama seorang santri masih mengikuti dawuh gurunya, maka doa dan ridha dari guru diharapkan senantiasa menyertainya. Sebaliknya, ketika seorang santri mulai meninggalkan dawuh-dawuh gurunya, akan sulit baginya untuk memperoleh ilmu yang manfaat maupun ridha dari guru.
Baca juga: Akhlak Mencintai Rasulullah: Belajar dari Abdullah bin Umar
“Lalu bagaimana dapat ridho-nya guru-guru kita kalau kita tidak taat kepada guru-guru kita?”
Salah satu bentuk nyata dalam memegang dawuh guru tersebut adalah dengan melestarikan tradisi membaca Maulid. Kegiatan membaca maulid bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi bagian dari upaya meneruskan tradisi yang telah diajarkan oleh para guru.
“Kita bersama-sama membaca Maulid Diba’. Ini adalah tradisi yang sudah diajarkan oleh guru-guru kita kepada kita. Tidak usah mikir liya-liyane, nderek dawuh guru-guru kita, insya Allah aman dunia akhirat.”
Agus Izzul Maula Dliyaullah juga mengingatkan agar seorang santri tidak mudah ragu terhadap tradisi yang telah diwariskan oleh guru-gurunya. Terlebih, tradisi tersebut memiliki dasar keilmuan dan sanad yang jelas.
Baca juga: Maulid: Ikhtiar Merawat Kecintaan Generasi Muda kepada Nabi
“Apalagi guru-guru kita ini yang diajarkan oleh beliau-beliau ini, ilmu ini jelas. Sanadnya jelas, yang dikaji, kitabnya juga jelas. Insya Allah hasilnya juga jelas.”
Menurut beliau, kejelasan sanad menjadi salah satu alasan bagi santri untuk mantap dalam mengikuti apa yang telah diajarkan oleh para guru. Siapa guru yang mengajarkan, kepada siapa guru tersebut belajar, kitab apa yang dikaji, hingga siapa pengarang kitab tersebut, semuanya memiliki kejelasan.
“Guru-guru kita dulu belajar ke siapa, jelas gurunya mereka. Kitabnya apa yang dikaji, jelas kitabnya, dari siapa nama pengarangnya. Sanadnya juga jelas dari siapa-siapa sampai ke Nabi Muhammad SAW.”
Karena itu, seorang santri hendaknya tidak mudah terpengaruh oleh berbagai perkataan yang mempertanyakan tradisi yang telah diajarkan oleh guru-guru, khususnya tradisi membaca maulid.
“Kita yakin dengan guru-guru kita, tidak usah ragu-ragu. Jangan terlalu dipikir omongan orang-orang yang mengatakan macam-macam tentang tradisi guru-guru kita. Terlebih tradisi maulid.”
Baca juga: Doa Pamungkas Nabi yang Disimpan untuk Umatnya
Bagi seorang santri, mengikuti tradisi guru merupakan bagian dari menjaga kesinambungan ajaran yang telah diterima dari generasi sebelumnya. Ketika para guru telah mengajarkan dan memberikan teladan dalam membaca Maulid Diba’, maka santri berusaha untuk mengikutinya dengan penuh keyakinan.
“Guru-guru kita mencontohkan itu semuanya, ya sudah kita ikut dengan guru-guru kita. Kita yakin dengan guru-guru kita, tidak usah ragu-ragu.”
Pada akhirnya, membaca Maulid Diba’ menjadi salah satu bentuk nderek dawuh guru dan upaya melestarikan tradisi yang telah diwariskan. Dengan sikap mantep, madep, dan yakin kepada guru, seorang santri berharap memperoleh keberkahan ilmu, ridha, serta doa para guru yang senantiasa menyertainya.
“Kita semua bersama-sama membaca maulid. Ini tak lain dan tak bukan adalah untuk meneruskan tradisi yang diajarkan oleh guru-guru kita. Mantep, madep, yakin dengan guru-guru kita.”
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
