Mencintai Rasulullah dengan Akhlak dan Menebar Rahmat

mencintai rasulullah

Dalam acara Majelis Sholawat Kubro yang berlangsung di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kamis Legi, 3 Dzulhijjah 1446 H./29 Mei 2025 M. Agus Dahlan Ridlwan menyampaikan: Mencintai Rasulullah saw. bukan sekadar diwujudkan melalui ungkapan lisan. Lebih dari itu, kecintaan kepada Rasulullah saw. semestinya tercermin dalam akhlak dan perilaku sehari-hari.

Dalam penyampaiannya, beliau mengajak para santri untuk memahami apa yang Rasulullah wariskan kepada kita.

“Apa yang Rasul wariskan kepada kita, untuk kita jalankan, untuk dikerjakan oleh semua umat.”

Baca juga: Membaca Maulid, Wujud Melestarikan Tradisi Guru Kita

Salah satu warisan tersebut adalah akhlak. Rasulullah saw. diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak, sebagaimana sabdanya:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Menurut beliau, memperbaiki akhlak merupakan salah satu bentuk nyata kecintaan kepada Rasulullah saw.

“Satu, perbaiki akhlak kalian. Itu, di antara wujud mencintai Rasulullah saw.” Tegas Agus Dahlan Ridlwan.

Meneladani Rasul sebagai Pembawa Rahmat

Kecintaan kepada Rasulullah saw. juga erat kaitannya dengan meneladani sifat beliau yang penuh kasih sayang. Allah Swt. berfirman:

مَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” QS. Al-Anbiya’: 107

Agus Dahlan Ridlwan menjelaskan bahwa Rasulullah saw. diutus untuk membawa rahmat kepada umat manusia. Karena itu, umat Islam semestinya turut mewarisi semangat tersebut dengan menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Akhlak Mencintai Rasulullah: Belajar dari Abdullah bin Umar

Rahmat tersebut tidak cukup hanya dipahami sebagai konsep, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan. Menurut beliau, membantu orang lain dan mengajak kepada kebaikan merupakan bentuk sederhana dari meneladani Rasulullah saw.

“Menebar kasih sayang, agar umat itu selamat dunia dan akhiratnya. Warisi itu. Jadilah orang yang penuh dengan rahmat.”

Beliau kemudian memberikan contoh konkret bagaimana sikap tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bagaimana (caranya)? Ajak teman kita ngaji. Bantu ketika teman kita kesulitan. Itu mencintai Rasulullah saw. (secara) real dalam bentuk tindakan.”

Dengan demikian, kecintaan kepada Rasulullah saw. tidak berhenti pada ucapan. Seseorang yang mengaku mencintai Rasul semestinya berusaha menghadirkan akhlak beliau dalam interaksi dengan orang lain.

Jangan Mengaku Cinta, Jika Masih Menyakiti

Agus Dahlan Ridlwan juga mengingatkan agar kecintaan kepada Rasulullah saw. tidak hanya diwujudkan melalui semangat lisan, sementara perilaku justru bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan beliau.

“Tidak hanya mulutnya teriak-teriak. Tapi perbuatannya suka membuli, suka melakukan perundungan, suka menyakiti temannya suka menindas temannya.”

Menurut beliau, perilaku semacam itu justru bertentangan dengan nilai kasih sayang yang diajarkan Rasulullah saw. Sebab, mencintai Rasulullah berarti berusaha mengikuti akhlak dan ajaran beliau, bukan sekadar memperbanyak ungkapan kecintaan secara verbal.

Baca juga: Maulid: Ikhtiar Merawat Kecintaan Generasi Muda kepada Nabi

“Itu (menyakiti) mendzalimi kecintaan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam.”

Karena itu, ukuran kecintaan kepada Rasulullah saw. semestinya dapat terlihat dalam perilaku. Ucapan yang baik, sikap menghargai orang lain, membantu mereka yang kesulitan, serta meninggalkan tindakan yang menyakiti sesama merupakan bagian dari upaya meneladani beliau.

Cinta yang Dibuktikan dengan Meniru Akhlaknya

Lebih lanjut, Agus Dahlan Ridlwan menekankan bahwa jika seseorang ingin membuktikan kecintaannya kepada Rasulullah saw., maka jalan yang paling nyata adalah mengikuti ajaran dan perilaku beliau.

“Kalau ingin real cinta kepada Rasulullah. Maka perilaku Rasul mulai dari ucapan yang disampaikan, apa yang diajarkan dari Al-Qur’an, perilakunya. Kerjakan! Tiru!”

Pesan tersebut menunjukkan bahwa cinta kepada Rasulullah saw. memiliki konsekuensi. Cinta tidak hanya berada dalam hati atau terucap melalui lisan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Semakin seseorang mengenal ajaran Rasulullah saw., semestinya semakin baik pula akhlak dan perilakunya kepada sesama.

Rasulullah Sangat Peduli terhadap Kesulitan Umat

Agus Dahlan Ridlwan menjelaskan bahwa Rasulullah saw. memiliki kepedulian yang begitu besar terhadap keadaan umatnya.

“Rasul itu cintanya kepada umatnya itu: عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ”

Beliau kemudian menegaskan:

“Jadi sangat terasa berat bagi Nabi ketika umatnya itu kesulitan. Jadi ketika Nabi melihat umatnya itu dalam kesulitan. Maka itu sangat dirasa berat bagi Rasulullah saw.”

Baca juga: Doa Pamungkas Nabi yang Disimpan untuk Umatnya

Pada akhirnya, mencintai Rasulullah saw. bukan hanya tentang seberapa sering nama beliau disebut, tetapi sejauh mana akhlak beliau hadir dalam kehidupan. Rasulullah saw. mengajarkan kasih sayang, kepedulian, dan kemuliaan akhlak. Maka, meneladaninya berarti berusaha menjadi pribadi yang membawa rahmat, bukan menjadi sumber kesakitan bagi orang lain.

Mencintai Rasulullah saw. berarti belajar memperbaiki akhlak, membantu yang kesulitan, mengajak kepada kebaikan, dan menjaga sesama dari lisan maupun perbuatan yang menyakitkan. Itulah cinta yang tidak berhenti pada kata, tetapi menjelma menjadi tindakan.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses